
WONOSOBO, SERAYUNEWS- Dataran Tinggi Dieng kembali menghadirkan pesona musim kemarau yang selalu dinantikan wisatawan.
Fenomena Embun Upas atau embun beku kembali muncul pada Kamis (9/7/2026) setelah suhu udara di kawasan tersebut dilaporkan mencapai -5 hingga -6 derajat Celsius, sekitar pukul 05.00 WIB.
Udara dingin ekstrem yang menyelimuti Dieng menciptakan lapisan kristal es tipis di atas rumput dan dedaunan. Momen ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang rela bangun sebelum matahari terbit demi menyaksikan fenomena alam yang hanya muncul pada puncak musim kemarau.
Seiring meningkatnya minat wisatawan, sejumlah penyedia jasa perjalanan mulai membuka paket wisata khusus berburu Embun Upas, salah satunya melalui program Open Trip Dieng 3 Hari 2 Malam.
Penyedia layanan wisata Dieng Vista menawarkan paket Open Trip Dieng 3 Hari 2 Malam bagi wisatawan yang ingin menikmati panorama alam Dieng sekaligus berburu Embun Upas.
Paket perjalanan tersebut dibanderol mulai Rp750.000 per orang dengan titik keberangkatan dari Jakarta, Bekasi, dan Karawang.
Melansir akun Instagramnya, untuk keberangkatan selama Juli 2026, tersedia beberapa pilihan jadwal, yaitu:
10–12 Juli 2026
17–19 Juli 2026
24–26 Juli 2026
31 Juli–2 Agustus 2026
Melalui paket ini, peserta berkesempatan menikmati udara sejuk pegunungan, panorama matahari terbit, hingga fenomena embun beku yang menjadi ikon musim kemarau di Dieng.
Cuaca dingin menjadi tantangan tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Dieng selama musim kemarau.
Penyelenggara perjalanan mengimbau peserta membawa perlengkapan yang memadai seperti jaket tebal, kupluk, sarung tangan, syal, kaus kaki, dan sepatu tertutup agar tetap nyaman saat beraktivitas pada dini hari.
Perlengkapan tersebut sangat penting mengingat suhu udara di kawasan Dieng dapat berada di bawah titik beku menjelang matahari terbit.
Fenomena Embun Upas merupakan salah satu atraksi alam paling dinanti setiap musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng.
Lapisan kristal es yang menempel pada rerumputan dan tanaman menciptakan pemandangan menyerupai salju sehingga sering dijuluki sebagai “salju tropis”.
Meskipun demikian, secara ilmiah Embun Upas berbeda dengan salju karena terbentuk dari embun yang membeku akibat suhu permukaan yang sangat rendah.
Keindahan fenomena tersebut membuat jumlah kunjungan wisatawan ke Dieng biasanya meningkat sepanjang Juli hingga Agustus.
Tak sedikit fotografer, pemburu lanskap, maupun wisatawan dari berbagai daerah datang sejak dini hari demi mengabadikan momen langka tersebut.
Unggahan mengenai Open Trip Dieng juga mengundang beragam komentar dari warganet. Seorang pengguna mengaku beberapa kali berkunjung ke Dieng, tetapi selalu bertemu hujan sehingga belum sempat menikmati Embun Upas.
“Ke Dieng selalu berjodohnya sama hujannya,” tulis salah satu warganet. Komentar lain juga datang dari pengguna yang mengaku pernah datang ke Dieng, tetapi belum beruntung menyaksikan suhu udara mencapai minus. “Saya ke sana tidak minus,” tulis pengguna lainnya.
Komentar-komentar tersebut menunjukkan bahwa kemunculan Embun Upas memang sangat bergantung pada kondisi cuaca, terutama langit cerah dan suhu udara yang sangat rendah pada malam hingga dini hari.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati fenomena Embun Upas secara maksimal, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Datang saat puncak musim kemarau, terutama Juli hingga Agustus.
2. Berangkat menuju lokasi sebelum pukul 05.00 WIB.
3. Gunakan pakaian berlapis untuk menghadapi suhu dingin ekstrem.
4. Siapkan kamera atau ponsel dengan baterai penuh karena suhu dingin dapat mempercepat penurunan daya baterai.
5. Selalu pantau informasi prakiraan cuaca sebelum berangkat.
Dengan persiapan yang matang, wisatawan dapat menikmati pengalaman melihat Embun Upas secara aman sekaligus mengabadikan salah satu fenomena alam paling unik di Indonesia.