
SERAYUNEWS- Fenomena anak main game seharian di bulan puasa kembali menjadi sorotan publik. Banyak orang tua mengira aktivitas tersebut sekadar hiburan agar anak tidak merasa lapar dan haus saat berpuasa.
Namun, pakar pendidikan dan psikologi mengingatkan adanya potensi dampak psikologis yang perlu diwaspadai. Isu ini mencuat setelah media nasional membahas hukum main game seharian saat puasa dari sudut pandang agama.
Selain aspek hukum, para ahli juga menyoroti dampaknya terhadap perkembangan mental dan emosi anak, terutama jika dilakukan tanpa batas waktu yang jelas.
Di tengah meningkatnya penggunaan gawai pada anak, bulan Ramadan justru bisa menjadi momentum pembentukan karakter positif.
Tanpa pengawasan, kebiasaan bermain game berlebihan saat puasa berisiko memengaruhi konsentrasi, emosi, hingga pola tidur anak. Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasannya:
Aktivitas bermain game saat puasa pada dasarnya tidak membatalkan puasa selama tidak melanggar ketentuan syariat.
Namun, para ulama mengingatkan agar aktivitas tersebut tidak membuat lalai dari ibadah wajib maupun sunnah di bulan Ramadan.
Artinya, secara hukum diperbolehkan, tetapi tetap perlu memperhatikan adab dan tujuan utama puasa sebagai latihan menahan diri serta meningkatkan kualitas spiritual.
Psikolog anak menilai penggunaan game digital dalam durasi panjang dapat memengaruhi regulasi emosi dan kontrol diri anak. Apalagi saat puasa, kondisi fisik yang sedang menahan lapar dan haus membuat anak lebih rentan terhadap perubahan mood.
Berikut dampak psikologis yang perlu diperhatikan orang tua:
1. Anak lebih mudah marah karena kombinasi lapar dan stimulasi berlebihan dari game.
2. Konsentrasi menurun karena fokus hanya pada layar dalam waktu lama.
3. Risiko kecanduan game meningkat jika tanpa batasan waktu.
4. Gangguan pola tidur akibat bermain hingga larut malam.
5. Berkurangnya interaksi sosial di dunia nyata.
6. Menurunnya motivasi beribadah selama Ramadan.
7. Potensi kelelahan mental (mental fatigue).
8. Kesulitan mengendalikan emosi saat kalah bermain.
Dampak tersebut tidak selalu terjadi pada semua anak, tetapi risiko meningkat jika orang tua tidak mengatur durasi dan jenis permainan yang dimainkan.
Ahli psikologi perkembangan menjelaskan bahwa usia anak merupakan fase penting dalam pembentukan kontrol diri. Paparan game secara terus-menerus dapat memicu respons emosional yang intens, terutama pada game kompetitif.
Ketika kalah atau mengalami kegagalan dalam permainan, anak dapat menunjukkan reaksi berlebihan. Jika kebiasaan ini berlangsung lama, anak berisiko kesulitan mengelola frustrasi dalam kehidupan nyata.
Ramadan sejatinya menjadi sarana pendidikan karakter. Anak dilatih menahan lapar, haus, dan emosi. Jika waktu puasa dihabiskan dengan game tanpa kontrol, nilai edukatif tersebut bisa berkurang.
Sebaliknya, orang tua dapat memanfaatkan Ramadan untuk menanamkan disiplin digital. Pengaturan waktu screen time menjadi bagian dari latihan pengendalian diri yang sejalan dengan makna puasa.
Orang tua memiliki peran penting dalam mengarahkan aktivitas anak selama Ramadan. Bukan berarti game harus dilarang total, tetapi perlu batasan waktu dan pendampingan.
Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain:
1. Menentukan durasi maksimal bermain setiap hari.
2. Memilih game yang sesuai usia anak.
3. Mengimbangi dengan aktivitas fisik ringan menjelang berbuka.
4. Mengajak anak mengikuti kegiatan ibadah bersama.
5. Menerapkan aturan tanpa gawai menjelang waktu tidur.
Pendekatan ini membantu anak tetap menikmati hiburan tanpa mengorbankan kesehatan mental dan nilai ibadah.
Interaksi sosial langsung tetap penting bagi perkembangan empati dan keterampilan komunikasi anak. Bermain game seharian berpotensi mengurangi kesempatan anak berinteraksi dengan keluarga.
Ramadan bisa menjadi waktu berkualitas untuk mempererat hubungan keluarga melalui buka puasa bersama, tadarus, dan aktivitas positif lainnya.
Para pakar menyarankan prinsip keseimbangan sebagai kunci. Game tidak selalu berdampak negatif jika dimainkan secara bijak dan proporsional.
Penggunaan gawai yang sehat dapat membantu anak tetap terhibur, tetapi tetap perlu diarahkan agar tidak mengganggu kesehatan psikologis dan spiritualnya.
Main game saat puasa tidak membatalkan ibadah, tetapi jika dilakukan seharian tanpa kontrol dapat menimbulkan dampak psikologis pada anak. Regulasi emosi, pola tidur, dan interaksi sosial menjadi aspek yang paling terdampak.
Ramadan seharusnya menjadi momen pembentukan karakter dan pengendalian diri. Dengan pengawasan yang tepat, orang tua dapat membantu anak menjalani puasa secara seimbang antara hiburan dan nilai spiritual.