
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Festival Kentongan Purwokerto 2026 berlangsung meriah pada Sabtu (22/8/2026) malam. Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia tersebut menghadirkan belasan kelompok kentongan dan dapat disaksikan masyarakat secara gratis.
Festival dimulai sekitar pukul 19.00 WIB dari Alun-Alun Purwokerto. Para peserta kemudian menyusuri Jalan Jenderal Soedirman hingga finis di Perempatan Srimaya.
Belasan kelompok kentongan dari berbagai wilayah, ikut ambil bagian dalam festival yang menjadi salah satu hiburan masyarakat Purwokerto tersebut.
Sejumlah kelompok yang tampil dalam Festival Kentongan Purwokerto 2026 antara lain Laras Tletik, Elang Prabuana, Bambu Laras, Pringgo Laras, dan Rampak Bambu.
Kemudian hadir juga Kusuma Cakra Laras, Laras Bhirawa, Bambu Nada, Nata Jiwa Percussion, Gita Swara Kedawung, Putra Pasopati, Calung Mas, Sari Kedeling Laras, Deling Kembar Budoyo, dan Sadawira Laras.
Penampilan kelompok-kelompok tersebut membuat suasana sepanjang Jalan Jenderal Soedirman semakin ramai. Warga tampak memadati sejumlah titik untuk menyaksikan irama kentongan dan penampilan para peserta.
Selain menjadi hiburan dalam momentum perayaan kemerdekaan, festival ini juga menjadi ruang bagi kelompok seni lokal untuk menunjukkan kreativitas mereka.
Festival Kentongan Purwokerto tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan kesenian khas Banyumasan.
Bupati Banyumas mengatakan, pelestarian budaya menjadi salah satu hal yang patut dibanggakan masyarakat Banyumas. Menurutnya, kesenian daerah kini tidak hanya mendapat tempat di tingkat nasional, tetapi juga memiliki peluang untuk dikenal hingga mancanegara.
Ia mencontohkan penampilan Tari Kelana Lengger yang melibatkan 125 penari asal Banyumas dalam upacara penurunan benda Merah Putih di Istana Negara pada 17 Agustus 2026.
“Ini membuktikan bahwa budaya Banyumas tidak hanya go nasional, bahkan go internasional,” ujar Bupati Banyumas.
Ia pun mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus menjaga seni tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya warga yang menyaksikan Festival Kentongan Purwokerto 2026 di sepanjang jalur pertunjukan.
Bagi masyarakat, kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga kesempatan untuk kembali mengenal kesenian tradisional Banyumas secara langsung.
Salah seorang warga, Kosdan Amala, berharap kegiatan serupa dapat terus menarik perhatian masyarakat Purwokerto, termasuk kalangan remaja.
“Harapan saya sih warga di Purwokerto baik dewasa maupun remaja juga antusias dengan budaya lokal, kemudian juga mau memeriahkan acara-acara terkait kemerdekaan juga,” ujar Kosdan Amala.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat, terutama generasi muda, penting agar kesenian tradisional tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Berlangsungnya Festival Kentongan Purwokerto 2026 menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih memiliki ruang di tengah perkembangan hiburan modern.
Festival ini sekaligus menjadi panggung bagi kelompok-kelompok seni lokal untuk berkreasi dan memperkenalkan kekayaan budaya Banyumas kepada masyarakat.
Dengan antusiasme warga yang terlihat sepanjang rute pertunjukan, Festival Kentongan Purwokerto diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan peringatan kemerdekaan, tetapi terus berkembang menjadi ruang pelestarian budaya yang dekat dengan generasi muda. (Soultan Albar)