
SERAYUNEWS- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat serangkaian aktivitas seismik yang terjadi di berbagai wilayah pada akhir Januari 2026.
Dalam rentang waktu kurang dari 24 jam, gempa dengan kekuatan kecil hingga menengah tercatat mengguncang daratan dan perairan Indonesia, menegaskan tingginya dinamika geologi di kawasan Cincin Api Pasifik.
Data BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut tersebar mulai dari Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, hingga wilayah timur Indonesia.
Meski sebagian besar berkekuatan rendah dan tidak berpotensi tsunami, getaran gempa sempat dirasakan masyarakat di sejumlah daerah dengan intensitas II hingga III MMI, memicu kewaspadaan publik.
BMKG menegaskan bahwa peningkatan aktivitas gempa ini masih dalam kategori normal untuk wilayah Indonesia yang secara geografis berada di pertemuan beberapa lempeng tektonik besar.
Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan hanya mengandalkan informasi resmi guna menghindari kepanikan yang tidak perlu.
Gempa melanda Indonesia pada Senin pagi, 26 Januari 2026, salah satunya terjadi di wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Gempa berkekuatan magnitudo 2,7 tercatat pada pukul 08.29 WIB dengan kedalaman sangat dangkal sekitar 6 kilometer, sehingga getarannya terasa di beberapa wilayah sekitar.
BMKG menyebut pusat gempa berada di darat sekitar 2 kilometer selatan Kabupaten Bekasi. Getaran dirasakan warga di Cikarang dan Karawang dengan skala intensitas II hingga III MMI, ditandai dengan benda ringan yang bergoyang dan getaran singkat di dalam rumah.
Selain Jawa Barat, gempa melanda Indonesia bagian barat, tepatnya di Mandailing Natal, Sumatra Utara.
Gempa ini terjadi pada pukul 07.50 WIB dengan magnitudo 2,6 dan kedalaman sekitar 8 kilometer, berpusat di darat 31 kilometer tenggara Mandailing Natal.
Getaran gempa dilaporkan terasa ringan oleh masyarakat setempat. BMKG memastikan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami dan tidak menimbulkan kerusakan, namun tetap menjadi indikator aktifnya sesar lokal di wilayah Sumatra.
Aktivitas seismik juga tercatat di wilayah Sulawesi Tenggara. Gempa berkekuatan magnitudo 3,9 terjadi pada dini hari pukul 01.25 WIB dengan pusat gempa berada di darat sekitar 37 kilometer barat laut Buton Utara.
BMKG mencatat intensitas gempa dirasakan hingga III MMI di wilayah Buton Utara. Meskipun cukup terasa, hingga saat ini tidak ada laporan kerusakan maupun korban jiwa akibat peristiwa tersebut.
Gempa melanda Indonesia timur dengan kekuatan lebih besar tercatat di wilayah Maluku Barat Daya. BMKG melaporkan gempa berkekuatan magnitudo 5,5 terjadi pada pukul 07.54 WIB dengan pusat gempa berada di laut sekitar 49 kilometer timur laut wilayah tersebut.
Gempa berlokasi pada koordinat 7,71 Lintang Selatan dan 127,81 Bujur Timur. Kedalaman menengah membuat getaran terasa di beberapa wilayah sekitar, namun tidak berpotensi tsunami dan tidak memicu kerusakan berarti.
BMKG mencatat sedikitnya 25 gempa bumi dirasakan masyarakat Indonesia dalam sepekan terakhir. Aktivitas ini mencakup gempa dangkal, menengah, hingga dalam dengan variasi magnitudo yang beragam.
Sebaran gempa meliputi wilayah Maluku, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Jawa Timur, Lampung, hingga Sumatra. Pola ini menunjukkan dinamika tektonik yang aktif namun masih dalam batas wajar.
BMKG menjelaskan bahwa gempa dangkal cenderung lebih terasa meski magnitudonya kecil karena sumber gempa dekat dengan permukaan bumi. Sebaliknya, gempa dengan kedalaman ratusan kilometer umumnya terasa lemah di permukaan.
Perbedaan karakter inilah yang menyebabkan sebagian gempa kecil tetap dirasakan masyarakat, sementara gempa yang lebih besar tidak selalu menimbulkan dampak signifikan.
Secara geologis, Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik, kawasan dengan aktivitas seismik dan vulkanik tertinggi di dunia. Pertemuan Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik membuat wilayah ini rawan gempa bumi.
BMKG menegaskan bahwa kondisi ini merupakan fenomena alam yang tidak bisa dihindari, namun dapat diminimalkan risikonya melalui mitigasi dan edukasi kebencanaan yang berkelanjutan.
Dalam seluruh rangkaian gempa terbaru, BMKG memastikan tidak ada potensi tsunami. Kedalaman dan mekanisme gempa tidak memenuhi syarat terjadinya gelombang laut berbahaya.
BMKG juga mengingatkan bahwa informasi awal gempa bersifat sementara dan dapat diperbarui seiring analisis lanjutan, sehingga masyarakat diminta selalu memantau kanal resmi BMKG.
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh isu atau informasi yang belum terverifikasi. Ketenangan menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi bencana alam.
Masyarakat juga diminta memahami langkah-langkah keselamatan dasar sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi di wilayah rawan.
Sebagai langkah mitigasi, berikut panduan keselamatan saat gempa terjadi berdasarkan rekomendasi BMKG dan BNPB.
Gempa bumi dapat terjadi kapan saja tanpa peringatan. Mengetahui langkah tepat dapat mengurangi risiko cedera dan kepanikan saat gempa melanda.
1. Segera berlindung di bawah meja atau struktur kokoh untuk melindungi kepala.
2. Jauhi kaca, lemari, dan benda berat yang berpotensi roboh.
3. Jika berada di luar ruangan, menjauhlah dari bangunan, tiang, dan pohon.
4. Tetap tenang dan jangan berlari panik saat guncangan berlangsung.
5. Setelah gempa berhenti, keluar ruangan dengan tertib dan waspadai gempa susulan.
Kesiapsiagaan dan edukasi kebencanaan menjadi kunci utama keselamatan. Dengan pengetahuan yang tepat, risiko dampak gempa dapat ditekan secara signifikan.
Rentetan peristiwa gempa melanda Indonesia kembali menegaskan pentingnya kewaspadaan di negara yang berada di jalur rawan bencana geologi. Aktivitas seismik merupakan bagian dari dinamika alam yang tidak dapat dihentikan, namun dapat diantisipasi melalui kesiapan dan informasi yang akurat.
BMKG memastikan akan terus memantau perkembangan aktivitas gempa di seluruh wilayah Indonesia. Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi, meningkatkan kesadaran mitigasi, dan tidak panik menghadapi fenomena alam ini.