
SERAYUNEWS – Kemarahan warga Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, terhadap aktivitas penambangan di wilayah mereka akhirnya mencapai titik puncak.
Didampingi sejumlah aktivis lingkungan, warga melakukan aksi nyata dengan menutup paksa lokasi pertambangan yang dinilai merusak ekosistem desa setempat.
Aksi yang berlangsung sejak Sabtu (02/01/2025) ini dilakukan sebagai bentuk protes keras atas aktivitas tambang yang dirasa mengancam kelestarian alam dan sumber air warga.
Sejak Sabtu sore, warga bersama para aktivis mulai memadati area tambang. Sebagai simbol perlawanan dan penjagaan lahan, mereka memasang berbagai banner tuntutan di sekitar lokasi serta mendirikan tenda untuk camping bersama.
Pendudukan lahan ini dilakukan untuk memastikan tidak ada alat berat atau aktivitas tambang yang beroperasi selama aksi berlangsung.
Presidium Gunung Slamet Menuju Taman Nasional yang juga selaku kordinator aksi, Andi Rustono menyatakan bahwa langkah ini diambil karena keresahan masyarakat sudah tidak bisa dibendung lagi.
Keberadaan tambang dianggap lebih banyak membawa dampak negatif bagi lingkungan pemukiman dibanding manfaat ekonomi bagi warga lokal.
“Baseh itu salah satu tambang yang ada di lereng Slamet, masyarakat sudah 4 tahun membiarkan, nah sekarang dengan kesadaran tinggi ingin ada penutupan,” katanya.
Tidak hanya sekadar menutup lokasi, aksi ini juga diisi dengan kegiatan konservasi yang masif. Pada Minggu pagi, massa melanjutkan aksi dengan melakukan penanaman pohon di area terdampak tambang.
Tak tanggung-tanggung, sebanyak 10.000 bibit pohon ditanam secara serentak. Langkah ini dilakukan sebagai upaya simbolis sekaligus nyata untuk mengembalikan fungsi hutan dan lahan yang sempat rusak akibat pengerukan.
“Kami tidak hanya ingin menutup tambang, tapi kami ingin memulihkan apa yang sudah dirusak. Sepuluh ribu pohon ini adalah harapan bagi anak cucu kami di Desa Baseh,” ujarnya.
Menurutnya, ada sederet dampak yang ditimbulkan akibat aktivitas penambangan. Dampak di sektor pertanian, lingkungan hidup, bahkan sampai dampak di sektor pariwisata.
“Ada dampak itu harus dipikirkan, oleh dinas pertanian, dinas lingkungan hidup, ESDM, agar bisa mendengarkan tuntutan warga Baseh. Tuntutan ini meluas karena adanya kekhawatiran seperti Sumatra dan Aceh,” kata dia.
Warga menegaskan akan tetap mengawal kasus ini hingga ada keputusan permanen terkait penghentian izin tambang di wilayah tersebut. Mereka berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera mengambil tindakan tegas untuk menjaga kelestarian lingkungan di lereng Gunung Slamet tersebut.
“Lereng gunung Slamet di Baseh ini ada puluhan hektar yang terdampak. Kawan kawan aktivis lingkungan berkumpul mengeluarkan pendapat, mengeluarkan unek-unek tentang gn slamet dan lingkungan Baseh. Nah aksi hari ini golnya adalah penutupan. Langkah hukum tetap jalan, bagaimana instansi terkait untuk bisa mengakomodir tuntutan masyarakat,” kata dia