
SERAYUNEWS– Pemerintah Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah menggelar Grebeg Suran Lintas Agama dan Budaya, Rabu (2/8/2023). Grebeg Suran menjadi momentum bersama untuk menumbuhkan semangat kebersamaan dan kerukunan antar umat beragama.
Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo, One Andang Wardoyo menyampaikan, Pemkab Wonosobo berupaya memupuk jiwa kepedulian, patriotisme, dan nasionalisme. Sekaligus menumbuhkembangkan jiwa religius terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Saat membuka Grebeg Suran Lintas Agama dan Budaya, One Andang Wardoyo meminta pada seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Wonosobo, One meminta warga bersama-sama membangun kedamaian dalam kehidupan, baik antar maupun intern umat beragama.
Warga harapannya menjadi insan-insan Pancasilais, yang mampu mengejawantahkan nilai-nilai yang terkandung dalam dasar negara. Melalui Grebeg Suran Lintas Agama dan Budaya, semoga dapat menjadi forum yang strategis dalam mempertemukan visi dan pemikiran berbagai pihak.
“Selaras dengan spirit momentum Hari Jadi ke-198 Kabupaten Wonosobo dan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Tentunya saya berharap penyelenggaraan Grebeg Suran Lintas Agama dan Budaya ini mampu menjadi salah satu ajang untuk membina persatuan dan kesatuan. Serta mempertahankan kerukunan umat beragama di Kabupaten Wonosobo,” harapnya.
Pihaknya bersyukur, atas kerukunan dan perdamaian masyarakat Kabupaten Wonosobo selama ini. Sehingga kondisi sosial budaya di kabupaten kita cenderung stabil.
Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Wonosobo Agus Kristiono memberikan penjelasannya. Dia mengatakan, Grebeg Suran menjadi tradisi yang mengakar di Kabupaten Wonosobo, berlangsung setiap Bulan Sura sebagai Tolak Bala.
“Tahun ini, Grebek Suran mengusung tema Kita Indonesia Satu Dalam Keberagamaan. Hadir 5 tokoh agama di Wonosobo, Islam, Hindu, Katolik, Kristen, dan Buddha. Dengan agenda utama, pembacaan doa dari kelima tokoh agama, dan dilanjut pemberian santunan kepada anak yatim piatu di Ponpes Darul Qur’an Gunung Tawang,” jelas Agus.
Jelas Agus, masing-masing dari kelima tokoh agama berkumpul di pendopo sebagai perwujudan sukur kepada Tuhan YME. Selain itu, mendoakan bangsa Indonesia dan Kabupaten Wonosobo agar selamat dan dihindarkan dari marabahaya.
“Dengan acara seperti ini harapannya masyarakat Wonosobo dapat menghargai toleransi antar umat beragama dan budaya masing-masing,” katanya.
Senada, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Wonosono, Zaenal Sukawi, bahwa grebek suran itu menyatukan seluruh kepentingan agama, karena hampir setiap agama punya keterlibatan dan keterkaitan.
Juga ada kaitannya dengan budaya-budaya yang ada. Bahkan semua budaya Nusantara ini tidak bisa lepas dengan peristiwa, fenomena suran ini.
“Mudah-mudahan ini menjadi salah satu acara yang tidak saja berkaitan dengan agama dan budaya, tetapi juga berdampak pada kerumunan, keamanan dan aksibilitas ekonomi. Melalui wisata religi, wisata alam, dan wisata budaya,” papar Sukawi.
Menurutnya, meskipun tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya makna dan substansinya tetap sama dengan semangat yang menggelora.
“Kita punya PR besar, yaitu mewujudkan generasi emas Indonesia, dengan pengawalan lebih ketat, lebih detail dan lebih solid. Juga menghadapi tahun politik, bersama mewujudkan pemilu damai berkualitas dan membahagiakan,” pungkasnya.