
CILACAP, SERAYUNEWS – Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, tetap optimistis produksi beras di wilayahnya mampu mencukupi kebutuhan masyarakat hingga surplus sekitar 300 ribu ton. Optimisme itu disampaikan meski sejumlah wilayah di Cilacap mulai terdampak kekeringan akibat musim kemarau.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Sigit Widayanto, mengatakan sebagian besar lahan persawahan di Cilacap saat ini telah menyelesaikan masa panen. Hanya beberapa wilayah yang masih melakukan panen karena masa tanamnya dilakukan lebih belakangan.
“Kalau untuk saat ini Kabupaten Cilacap rata-rata sudah hampir selesai panen secara keseluruhan. Yang masih itu di daerah Bandarsari, Kawunganten sebagian, karena kemarin tanamnya agak belakang sehingga saat ini sedang panen,” ujarnya, Jumat (4/9/2026).
Menurutnya, kondisi lahan pertanian di sejumlah wilayah Cilacap memang mulai memprihatinkan. Kekeringan membuat persawahan kehilangan pasokan air, bahkan tanah di beberapa lokasi sampai mengalami retakan cukup dalam.
“Secara umum di Kabupaten Cilacap saat ini memang kondisi air di persawahan kering kerontang. Tanahnya sudah pecah-pecah dan kaki bisa masuk di dalam pecahan itu, jadi memang kering,” ujarnya.
Sigit mengungkapkan, sekitar 2.100 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan pada akhir Agustus hingga awal September 2026. Kondisi tersebut terutama terjadi di wilayah yang kesulitan mendapatkan pasokan air untuk tanaman padi.
Beberapa lahan bahkan sempat mengalami puso. Salah satunya berada di wilayah Patimuan dan sebagian Kawunganten. Petani tidak dapat mengandalkan penyedotan air karena sumber air yang tersedia memiliki kadar asin sehingga tidak dapat digunakan untuk mengairi tanaman padi.
“Beberapa kemarin ada di akhir Agustus maupun awal September ini terhadap beberapa lokasi yang memang airnya sudah tidak bisa masuk. Kemudian kalau kita menyedot air juga airnya asin. Di Patimuan beberapa, kemudian di Kawunganten itu sempat ada yang puso,” jelas Sigit.
Meski demikian, kondisi tersebut belum membuat Dinas Pertanian Cilacap mengubah target produksi secara signifikan. Produktivitas rata-rata sawah yang dipanen saat ini masih berada di angka sekitar 6,4 ton per hektare.
Di tengah kondisi kemarau, Dinas Pertanian Cilacap juga menyiapkan strategi untuk menjaga produksi pangan. Salah satunya dengan mempercepat luas tambah tanam di wilayah yang masih memiliki sumber air.
Sejumlah daerah yang dinilai masih memungkinkan untuk melakukan penanaman pada September antara lain Maos, Sampang, sebagian Binangun, Kroya dan Adipala.
Sigit mengatakan wilayah tersebut memiliki peluang lebih besar untuk melakukan pertanaman karena masih mendapatkan dukungan sumber air. Selain itu, pasokan air dari Daerah Irigasi Serayu diharapkan kembali mengalir setelah masa pengeringan.
“Untuk pertanaman ke depan yang memungkinkan pertama dilaksanakan di September ini daerah-daerah Maos, daerah Sampang, mungkin sebagian Binangun, sebagian Kroya, sebagian Adipala. Karena sumber airnya masih memungkinkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pengeringan jaringan irigasi Serayu dilakukan mulai 1 September. Dinas Pertanian berharap aliran air dapat kembali dibuka pada pertengahan hingga akhir September sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengairi persawahan.
“Mudah-mudahan di bulan ini nanti pertengahan atau akhir sudah bisa dibuka dan juga bisa untuk mengaliri sawah-sawah dari daerah Maos, Sampang dan sebagian Binangun, sebagian Adipala tadi untuk percepatan luas tambah tanam kita,” sambungnya.
Dengan berbagai kondisi tersebut, Sigit memastikan pihaknya masih optimistis kebutuhan beras masyarakat Cilacap dapat terpenuhi. Bahkan, target surplus beras sekitar 300 ribu ton masih dinilai realistis.
“Insyaallah untuk target-target capaian yang kita biasanya surplus kurang lebih 300 ribu ton itu masih cukup, masih memungkinkan untuk kita surplus kurang lebih 300 ribu ton tadi,” tegasnya.
Menurut Sigit, periode September dan Oktober menjadi masa yang perlu mendapat perhatian karena kondisi cuaca diperkirakan masih kering. Berdasarkan informasi yang diterima dari BMKG, kondisi hujan baru diperkirakan mendekati normal pada dasarian kedua November.
“Kalau prediksi BMKG kemarin, akan menjadi normal itu di dasarian kedua bulan November. Hujannya sudah rendah tapi sudah mendekati normal. Kalau minggu pertama November itu masih sangat rendah,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap produksi pangan, lahan yang tidak memungkinkan ditanami padi akan diarahkan untuk komoditas lain yang lebih sesuai dengan kondisi air.
“September-Oktober ini yang memang kering. Kalau memang tidak bisa ditanami padi, kita alihkan menjadi tanaman hortikultura ataupun palawija di persawahan,” kata Sigit.
Ia berharap kondisi kemarau yang terjadi saat ini hanya berlangsung sementara dan tidak sampai mengganggu capaian produksi beras Cilacap sepanjang tahun.
“Mudah-mudahan tidak mempengaruhi. Target kita rata-rata surplus 300 ribu ton per tahun, insyaallah masih bisa,” pungkasnya.