Senin, 18 Oktober 2021

Hampir Dua Tahun Sekolah Daring, Siswa di Purbalingga Beri Pengakuan

Siswa SMPN 4 Mrebet. (Amin)

Adanya Pandemi Covid-19 memaksa adanya perubahan pola kehidupan, termasuk perubahan sistem pembelajaran. Pembelajaran konvensional dengan tatap muka langsung, kini diganti dengan jarak jauh atau daring. Hal yang baru ini menjadi tantangan tersendiri, baik bagi siswa maupun gurunya. Sudah hampir dua tahun menjalani pembelajaran daring, nyatanya siswa belum juga beradaptasi.


Purbalingga, serayunews.com

Arfenur Agung Jogo, satu di antara siswa SMPN 4 Mrebet, yang baru selesai menjalani isolasi terpusat memberikan pengakuannya. Dia sangat berharap bisa segera kembali melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Meski tidak lagi harus berangkat ke sekolah pagi-pagi, namun dia memilih untuk PTM daripada harus daring.

“Lebih baik tatap muka daripada daring,” katanya, saat hendak kembali ke rumah usai menjalani Isoter di Gedung bangunan sekolahnya, Kamis (30/09/2021).

Selama daring, siswa memang tidak harus memulai aktivitas di pagi hari. Mulai dari bangun pagi, mandi, sarapan dan menyiapkan buku-buku. Tapi nyatanya, pembelajaran daring tak sesantai yang dibayangkan. Siswa lebih banyak disibukkan belajar mandiri daripada menerima transfer ilmu dari guru.

“Daring lebih banyak tugasnya, mending tatap muka,” ujarnya.

Senada dengan Agung, Amelia pun menyampaikan hal serupa. Siswa kelas IX ini juga memilih pembelajaran secara langsung. Karena ilmu yang diserap masih jauh lebih baik selama pembelajaran langsung.

“Kurang jelas (kalau daring, red) jadi ngga mudeng,” katanya.

Penyerapan siswa untuk memahami materi pembelajaran ternyata masih perlu bantuan dari guru. Nyatanya, melalui daring, penjelasan materi sangat terbatas. Selebihnya, siswa diminta untuk aktif mengerjakan tugas-tugas.

“Kalau tatap muka itu lebih enak, tidak mudeng bisa langsung tanya, mendengarkan penjelasan juga lebih jelas,” katanya.

Siswa lainnya Nada Lifiana, dia pun berharap pembelajaran secara langsung bisa segera kembali dilaksanakan. Ketika pembelajaran tatap muka, di sekolah siswa mendapatkan penjelasan materi dari guru. Sementara di rumah tinggal mengerjakan tugas-tugas.

“Kalau sudah dijelaskan dulu kan lebih paham untuk mengerjakan,” ujarnya.

Dia menambahkan, selama daring ada momen-momen yang tersendat karena sinyal internetnya. Belum lagi ketika terlewat sedikit, tidak bisa minta diulangi penjelasannya. Secara suasana, juga belum terbiasa karena atmosfer belajar tidak di dalam kelas.

“Kadang terhambat internet. Selain itu juga suasana belajarnya berbeda kalau dibandingkan dengan belajar di kelas dan ramai-ramai,” kata dia.

Setelah menjalani isolasi terpusat (isoter) para siswa berharap bisa segera dimulai pembelajaran tatap muka. Tentunya sekolah harus lolos verifikasi dari Satgas Covid-19. Pihak sekolah juga diminta untuk membentuk satgas sekolah.

“Meksipun diterapkan PTM tapi nanti juga masih terbatas, dan dilakukan secara bertahap. Setiap sekolah harus melalui verifikasi Satgas Covid-19 dulu, terkait kesiapan sarpras dan kondisi lingkungan. Itu pun PTM secara terbatas, harus diatur ritme pembagian siswanya,” kata Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi.

Berita Terkait

Berita Terkini