
PURBALINGGA, SERAYUNEWS – Festival Film Purbalingga (FFP) 2026 kembali menjadi ruang bertemunya sineas nasional, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat dalam rangka perayaan dua dekade penyelenggaraannya.
Tahun ini, sutradara ternama Hanung Bramantyo hadir untuk berbagi pengalaman sekaligus memotivasi generasi muda agar berani berkarya di industri perfilman.
Melalui kolaborasi dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya, kegiatan bertajuk “Membaca Karya-Karya Hanung Bramantyo” digelar di Bioskop Misbar, Taman Kota Usman Janatin, Purbalingga.
Selain pemutaran film, kegiatan ini menghadirkan diskusi interaktif mengenai proses kreatif, tantangan industri perfilman, hingga peluang bagi sineas muda untuk mengembangkan karya.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program MTN Ikon Inspirasi, hasil kolaborasi antara Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya dan Festival Film Purbalingga.
Program ini dirancang sebagai ruang apresiasi sekaligus pembelajaran bagi masyarakat yang memiliki minat terhadap seni dan budaya, khususnya perfilman.
Rangkaian acara diawali dengan pemutaran film “Satria Dewa: Gatotkaca” pada siang hari. Selanjutnya, peserta mengikuti diskusi bersama Hanung Bramantyo bertema “Membaca Karya-Karya Hanung Bramantyo”.
Pada malam hari, kegiatan ditutup dengan pemutaran film “Gowok: Kamasutra Jawa”, salah satu karya terbaru Hanung.
Melalui konsep tersebut, peserta tidak hanya menikmati film, tetapi juga memahami proses kreatif di balik pembuatannya langsung dari sang sutradara.
Dalam sesi diskusi, Hanung Bramantyo membagikan pengalaman panjangnya selama berkarya di industri perfilman Indonesia.
Ia menilai film bukan sekadar hiburan, tetapi juga media untuk menyampaikan refleksi sosial, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Hanung juga memberikan apresiasi terhadap Festival Film Purbalingga yang dinilainya tetap mempertahankan karakter sebagai festival yang dekat dengan masyarakat.
“Festival Film Purbalingga itu salah satu festival yang masih konsisten yang betul-betul menampilkan satu kondisi masyarakat yang real bagaimana film itu untuk masyarakat dan masyarakat itu untuk film. Itu terlihat sekali pada FFP, jadi bukan yang eksklusif, tapi dia festival yang sangat merakyat,” ujar Hanung Bramantyo.
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi kekuatan utama Festival Film Purbalingga karena masyarakat tidak hanya berperan sebagai penonton, tetapi juga menjadi bagian dari tumbuhnya ekosistem perfilman daerah.
Hanung juga mengajak pelajar, mahasiswa, dan sineas muda memanfaatkan Festival Film Purbalingga sebagai tempat belajar sekaligus membangun jaringan di industri kreatif.
Ia menegaskan keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk berhenti berkarya karena festival seperti FFP membuka kesempatan bertemu langsung dengan para praktisi perfilman nasional.
“Inilah saatnya anak muda melalui FFP digunakan sebagai tempat belajar untuk bertemu dengan sutradara-sutradara senior, menimba ilmu dan mengeksplorasi. Mulai dari teknik kreatif, teknik pemasaran, serta mendistribusikan film yang ada di FFP. Itu tolong dimanfaatkan yang sebaik-baiknya,” pesannya.
Hanung berharap semakin banyak talenta muda dari daerah yang mampu menghasilkan karya berkualitas dan bersaing hingga tingkat internasional.
Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif, turut menghadiri kegiatan tersebut dan menyampaikan apresiasi atas perjalanan Festival Film Purbalingga yang telah memasuki usia 20 tahun.
Menurutnya, konsistensi penyelenggaraan festival menjadi bukti besarnya perhatian masyarakat Purbalingga terhadap dunia perfilman.
“Saya sangat berterima kasih dan juga mengapresiasi FFP karena sudah berjalan dua dekade. Ini merupakan satu hal yang luar biasa karena menjadi bukti bahwa banyak sekali potensi dan juga perhatian dari warga Purbalingga terhadap perfilman di Kabupaten Purbalingga,” ungkap Fahmi.
Ia berharap Festival Film Purbalingga terus berkembang menjadi agenda budaya yang mampu memberikan dampak positif bagi sektor pendidikan, ekonomi kreatif, dan pariwisata daerah.
Diskusi bersama Hanung Bramantyo mendapat sambutan antusias dari peserta.
Salah satunya datang dari Virgia Monicka, sutradara film “Judol” produksi Broadcasting SMK Negeri 1 Purbalingga.
“Sangat senang bisa belajar lebih dalam dari Mas Hanung selaku sutradara,” ujarnya.
Antusiasme serupa juga disampaikan Pradana Rizki Arifin, mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, yang mengikuti pemutaran film hingga malam hari.
Menurutnya, kesempatan berdiskusi langsung dengan Hanung menjadi pengalaman yang sangat berharga.
“Senang banget karena akhirnya bisa nonton lagi. Menarik juga filmnya, alurnya seru dan membuat emosi saat mengikuti ceritanya,” tuturnya.
Festival Film Purbalingga 2026 diselenggarakan oleh CLC Purbalingga, Sangkanparan Cilacap, dan Art Film Banjarnegara yang tergabung dalam Jaringan Kerja Film Banyumas Raya (JKFB).
Penyelenggaraan festival juga mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan melalui program Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya, Bioskop Misbar Purbalingga, serta Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).
Selama dua dekade penyelenggaraannya, Festival Film Purbalingga terus menjadi ruang bertemunya karya, pembelajaran, dan kolaborasi yang memperkuat perkembangan perfilman di Banyumas Raya dan sekitarnya.