
SERAYUNEWS – Dalam kehidupan modern, kata harapan kerap terdengar menenangkan. Ia diucapkan dalam doa, ditulis dalam resolusi, dan diulang dalam berbagai motivasi. Namun, tidak sedikit harapan yang pada akhirnya berhenti sebagai angan-angan. Di titik inilah refleksi yang disampaikan M. Nur Kholis Setiawan menjadi relevan untuk dibaca ulang secara lebih kritis.
Melalui pemaparannya, M. Nur Kholis Setiawan mengajak publik membedakan secara tegas antara harapan yang hakiki dan harapan semu yang hanya berwujud khayalan. Perbedaan ini tidak sekadar bersifat konseptual, melainkan berdampak langsung pada cara seseorang menjalani hidup, bekerja, dan beribadah.
Menurut M. Nur Kholis Setiawan, harapan sejati selalu memiliki konsekuensi berupa ikhtiar. Harapan bukan sekadar keinginan batin, tetapi daya dorong yang melahirkan usaha nyata. Ketika seseorang benar-benar berharap, ia akan terdorong untuk bergerak, merencanakan, dan berproses.
Sebaliknya, harapan yang tidak disertai ikhtiar disebut sebagai umniyat. Bentuknya tampak seperti harapan, tetapi hakikatnya hanya angan-angan kosong. Umniyat hidup di pikiran, namun tidak pernah turun menjadi tindakan. Dalam konteks ini, istilah “halu” menjadi representasi populer dari umniyat, keinginan besar tanpa kesiapan berproses.
Fenomena ini banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari harapan karier yang tinggi tanpa peningkatan kompetensi, hingga keinginan spiritual yang besar tanpa konsistensi amal.
Refleksi M. Nur Kholis Setiawan tidak berhenti pada soal usaha. Ia juga menempatkan tawakal sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ikhtiar. Tawakal dimaknai sebagai penyerahan diri kepada Allah setelah usaha maksimal dilakukan, bukan sebagai alasan untuk menghindari proses.
Dalam pandangan ini, ikhtiar tanpa tawakal berisiko menumbuhkan kesombongan. Keberhasilan dianggap sepenuhnya hasil kerja pribadi, tanpa menyadari adanya campur tangan Tuhan. Sebaliknya, tawakal tanpa ikhtiar justru dapat melahirkan kelengahan, seolah doa saja sudah cukup tanpa kerja keras.
Keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal menghadirkan ketenangan batin. Saat berhasil, seseorang tidak mudah takabbur. Saat gagal, ia tidak terjatuh dalam putus asa. Inilah fondasi mental yang dinilai penting dalam menghadapi dinamika hidup.
Gagasan M. Nur Kholis Setiawan terasa sangat kontekstual jika ditarik ke dunia karier dan pencapaian. Banyak orang berharap promosi, posisi strategis, atau keberhasilan profesional, namun enggan menjalani proses peningkatan kapasitas dan kinerja. Harapan seperti ini lebih dekat dengan umniyat dibanding harapan sejati.
Sebaliknya, harapan yang dibarengi ikhtiar seperti mengikuti proses seleksi, meningkatkan kompetensi, dan menjaga etos kerja akan membuka peluang yang lebih realistis. Ketika semua itu dilengkapi dengan tawakal, keberhasilan tidak melahirkan keangkuhan, dan kegagalan tidak menghancurkan mental.
Pola yang sama juga berlaku dalam bidang prestasi dan pendidikan. Keinginan menjadi yang terbaik membutuhkan latihan, disiplin, dan ketekunan, bukan sekadar doa tanpa usaha.
Pelajaran untuk Kehidupan Spiritual
Dalam ranah spiritual, M. Nur Kholis Setiawan menegaskan bahwa harapan pahala tanpa amal adalah kehampaan. Ibadah, sedekah, dan ketaatan merupakan bentuk ikhtiar spiritual yang harus dijalani secara konsisten. Tawakal kemudian hadir sebagai sikap batin untuk menerima hasil dengan lapang dada.
Pendekatan ini membentuk spiritualitas yang aktif, bukan pasif. Seseorang tidak hanya berharap, tetapi juga bertanggung jawab atas jalan yang ia pilih.
Refleksi tentang harapan, ikhtiar, dan tawakal yang disampaikan M. Nur Kholis Setiawan memberikan kerangka berpikir yang jernih di tengah budaya instan. Harapan sejati menuntut kerja keras, kesadaran diri, dan kerendahan hati. Tanpa ikhtiar, harapan berubah menjadi ilusi. Tanpa tawakal, usaha kehilangan makna spiritualnya.
Di titik ini, harapan bukan lagi sekadar kata indah, melainkan komitmen untuk berproses dan berserah secara seimbang.***