Harga Cabai di Banyumas Melambung Sejak Hari Coblosan Pemilu 

Harga Cabai di Banyumas Melambung Sejak Hari Coblosan Pemilu 

Amin WahyudiJurnalis:Amin Wahyudi
Bagikan:
Pedagang
Salah satu pedagang cabai di Pasar Wage, sedang melayani pembeli, Senin (19/02/2024). Di Pasar Wage, salah satu komoditas yang harganya naik gila-gilaan adalah cabai. Bahkan kenaikan harga cabai terjadi sejak pemungutan suara Pemilu pada 14 Februari 2024 lalu. (Foto: Amin Wahyudi)

SERAYUNEWS – Harga cabai di Kabupaten Banyumas sedang mengalami tren naik. Bahkan setiap harinya terus mengalami kenaikan, sejak coblosan Pemilu pada 14 Februari 2024.

Harga cabai merah keriting bahkan terbang sampai di harga Rp100 ribu. Harga itu melambung lumayan tinggi. Sebab, harga sebelumnya hanya Rp60 ribu per kilogram.

“Naik habis pemilu, tiap hari harganya naik terus,” kata salah satu pedagang cabai di Pasar Wage Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Andit (30), Senin (19/02/2024).

Andit mengatakan, situasi makin tak bersahabat dengan pedagang karena ketika harga sedang melesat naik, stok barang justru langka. Kondisi itu terjadi sejak hari pencoblosan alias sejak 14 Februari 2024. Bahkan, barang bener-bener langka pada saat hari pencoblosan kemarin.

“Mungkin gara-gara coblosan, petani-petani libur panen, akhirnya pasokan barang sedikit. Bahkan hari pertama setelah pemilu, cabe ngga ada di pasar,” ujarnya.

Andit menyampaikan, harga cabai keriting semula di harga eceran Rp60.000 per kilogram kini tembus di angka Rp90.000 sampai Rp100.000 per kilogramnya.

Sedangkan untuk cabai rawit merah yang semula Rp40.000, kini telah mencapai Rp70.000 per kilogramnya. Sedangkan untuk bawang merah cukup stabil di harga Rp35.000 per kilogram.

Selain cabai, komoditi lain juga ada yang mengalami kenaikan. Di antaranya adalah sayuran. Kenaikan bahkan mencapai 100 persen.

“Kalau untuk sayuran yang naik caisim sebelumnya Rp4.000 naik jadi Rp12.000,” ujar Andit.

Naik Sejak Sepekan

Pedagang lainnya, Rodiyah, menyampaikan hal serupa. Jika beberapa hari ini harga cabai sedang mengalami kenaikan setiap harinya. “Harganya naik sejak sekitar seminggu kemarin,” ujarnya.

Namun demikian, dia mengeluhkan, karena stok barang susah. Padahal, meskipun harga naik, permintaan tetap banyak.

“Kalau harga naik, yang beli justru banyak, tapi stoknya malah sedikit. Paling cuma ada 4-6 kilogram,” kata Rodiyah.

Situasi itu justru tak menguntungkan bagi pedagang. Sebab ketika permintaan banyak dan harga melambung, tapi stok barang malah menipis.


© 2016 Serayu News