
SERAYUNEWS-Petani cabai di Kabupaten Banjarnegara tengah menghadapi kondisi sulit menyusul anjloknya harga cabai di tingkat petani. Penurunan harga yang drastis membuat banyak petani mengalami kerugian besar, bahkan mencapai puluhan juta rupiah dalam satu musim tanam.
Saat ini, harga cabai merah keriting di tingkat petani hanya berkisar Rp15 ribu per kilogram, turun tajam dari harga sebelumnya yang sempat menyentuh Rp70 ribu per kilogram. Rendahnya harga tersebut dinilai tidak sebanding dengan tingginya biaya produksi, mulai dari pembelian bibit, pupuk, hingga obat-obatan pertanian.
Anjloknya harga cabai dipicu oleh pola tanam serentak yang dilakukan petani, sehingga pasokan cabai di pasaran melimpah. Sementara itu, tingkat penyerapan konsumen tidak mengalami peningkatan signifikan.
Tak hanya persoalan harga, petani juga dihadapkan pada penurunan produktivitas tanaman. Dalam kondisi normal, satu pohon cabai mampu menghasilkan panen yang lebih tinggi, namun saat ini hasilnya hanya sekitar dua hingga tiga ons per pohon.
Penurunan hasil panen tersebut disebabkan oleh serangan hama dan penyakit tanaman, seperti fusarium, daun keriting, bercak daun, dan penyakit lainnya yang semakin memperparah kondisi petani.
Salah seorang petani cabai, Trio, asal Desa Kutayasa, Kecamatan Bawang, mengungkapkan bahwa harga cabai saat ini sangat tidak masuk akal jika dibandingkan dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan.
“Harga cabai sekarang cuma Rp17 ribu, bahkan turun lagi jadi Rp15 ribu per kilo. Padahal harga pupuk dan obat-obatan mahal,” ujarnya, Selasa (20/1/2026).
Menurut Trio, agar petani tidak merugi, harga cabai setidaknya berada di kisaran Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram. Ia mengaku mengalami kerugian hingga Rp30 juta akibat anjloknya harga cabai pada musim panen kali ini.
“Kalau terus seperti ini, petani bisa kehabisan modal untuk tanam berikutnya,” katanya.
Anggota Komisi II DPRD Banjarnegara, Djarkasi, mengatakan bahwa turunnya harga cabai merupakan dampak dari melimpahnya pasokan di pasar akibat pola tanam serentak.
“Sesuai hukum pasar, ketika barang melimpah, harga pasti turun. Dulu harga cabai sempat Rp70 ribu per kilogram, sekarang jatuh menjadi Rp15 ribu,” katanya.
Djarkasi menegaskan, pihaknya akan mengawal persoalan tersebut dan mendorong adanya langkah konkret agar harga cabai kembali stabil. Ia juga menyebut perlunya intervensi pasar serta solusi jangka panjang agar petani tidak terus dirugikan setiap musim panen.
Para petani berharap pemerintah daerah maupun pusat segera turun tangan, baik melalui stabilisasi harga, pengaturan pola tanam, maupun penguatan akses pasar. Jika tidak ada langkah nyata, petani khawatir tidak memiliki cukup modal untuk memulai masa tanam berikutnya.