
SERAYUNEWS – Hari ini, 13 Agustus 2024 merupakan hari yang penuh dengan kejuangan bagi warga Desa Sikumpul dan sekitarnya.
75 tahun yang lalu atau tepatnya 13 Agustus 1949, terjadi peristiwa perlawanan dari pejuang Republik Indonesia melawan Belanda. Lokasi perang di jembatan Srengseng Desa Sikumpul Kalibening Banjarnegara.
Sukaryo (95) warga Desa Sirukun Kecamatan Kalibening ini, merupakan saksi hidup peristiwa heroik perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda.
Sukaryo merupakan satu dari sekian pejuang tersisa, dalam kisah penghadangan pasukan patroli Belanda di Jembatan Srengseng Desa Sikumpul Kalibening.
Berdasarkan catatan pada prasasti kejuangan di Jembatan Srengseng, tercatat peristiwa perlawanan terhadap Belanda terjadi pada 13 Agustus 1949.
Menurut Sukaryo, perang yang berlangsung menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajahan Belanda.
“Saat itu, pejuang bersama tentara membuat jebakan di jembatan agar pasukan patroli Belanda ‘jeblos’ masuk jembatan,” katanya.
Pada saat itu, para pejuang telah menyiapkan strategi penghadangan terhadap pasukan Belanda yang hendak melintas. Seberang jembatan Srengseng biasanya pasar kecil dan tidak tutup atau tetap beraktivitas seperti biasa agar penjajah tidak curiga.
“Setelah ada tembakan yang mengincar ban mobil Belanda, barulah semua orang bubar dan tentara Indonesia ‘mbrondong’ penjajah yang sudah terjebak di jembatan,” kenangnya.
Di Jembatan Srengseng, mobil jip Belanda yang berisi 4-5 orang berhasil kena jebak. Mobil tersebut tertembak bannya hingga berhenti.
Sayangnya, rencana penghadangan ini sempat bocor akibat adanya pihak yang membocorkan informasi kepada Belanda. Karena pasukan Belanda saat berpatroli jumlahnya banyak, namun saat itu hanya sedikit.
Saat mobil Belanda melintasi jembatan yang telah dimodifikasi oleh pejuang, jembatan tersebut langsung ambrol. Pasukan pejuang segera memberondong tembakan, menyisakan satu orang karena orang Jawa.
“Mungkin orang tersebut melaporkan kejadian ini kepada pasukan markas pasukan Belanda di Paninggaran, di perbatasan Kalibening-Pekalongan. Sehingga tidak butuh waktu lama, ratusan pasukan Belanda datang melalui jalur lain melalui Dusun Gamblok menuju Bedana. Mereka sampai Kalibening melalui jalan di tengah blok Sindu,” katanya.

Beberapa jam kemudian, pasukan Belanda datang dengan jumlah yang lebih besar. Karena jembatan sudah hancur, mereka terpaksa berjalan kaki melalui jalur Simaling Paninggaran – Gamblok Gununglangit hingga melintasi jalan Bedana atau jalan tengah Sindu.
Sementara itu, tentara pejuang sudah menyingkir ke arah Plorengan. Dalam serangan balasan ini, kampung di Dusun Tembolan, Plorengan, dibumihanguskan oleh pasukan Belanda yang tidak berhasil menemukan pasukan pejuang.
“Akibat serangan di jembatan Srengseng, rumah rumah warga di sepanjang jalan tersebut roboh dan pemilik rumah lari masuk hutan menjauh dari jalan raya. Mereka mendengar kabar ratusan pasukan Belanda dengan berjalan kaki datang untuk balas dendam,” katanya.
Peristiwa ini menjadi saksi bisu dari keberanian para pejuang yang rela mengorbankan segalanya, demi kemerdekaan Indonesia.
Di usia senjanya, Sukaryo tetap mengenang peristiwa tersebut dengan rasa bangga dan haru, menyadari bahwa perjuangan mereka tidaklah sia-sia.
Untuk mengenang peristiwa tersebut, terdapat monumen di pertigaan dekat Jembatan Srengseng dengan bertuliskan ‘Mengenang keberanian, pengorbanan, pengabdian dan keberhasilan pasukan Corps Armada IV Subweirihkreise V Slamet, pada penghadangan tentara Belanda tanggal 13 Agustus 1949 di Desa Sikumpul – Kalibening’.