
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah resmi meluncurkan Program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE) di Hotel Elsotel Purwokerto, Selasa (7/7/2026).
Program yang lahir dari kolaborasi antara Pemprov Jawa Tengah, Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK), dan CBM Global Disability Inclusion ini dirancang untuk berjalan selama lima tahun ke depan.
Tiga daerah dipilih sebagai lokasi percontohan, yakni Purbalingga, Banjarnegara, dan Wonosobo.
Direktur YSKK, Iwan Setiyoko, menuturkan bahwa terpilihnya tiga daerah tersebut bukan tanpa alasan. Semuanya berangkat dari hasil asesmen kebutuhan yang dilakukan terhadap sejumlah kabupaten di Jawa Tengah.
“Sebelumnya kami melakukan proses assessment dengan menggali kebutuhan di beberapa kabupaten. Ternyata, tiga lokasi ini yang paling menonjol dari sisi kebutuhan. Pertama, jumlah kasus gangguan kesehatan mata di sana cukup tinggi. Kedua, ada komitmen dan kesiapan yang baik dari pemerintah daerahnya,” ujar Iwan.
Gubernur Jawa Tengah, yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dr. Zulfachmi Wahab, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar layanan kesehatan mata yang inklusif dapat berjalan secara berkelanjutan.
Ia memaparkan, peran Dinas Kesehatan dalam program ini bertumpu pada empat lini.
Pertama, pemberdayaan masyarakat yang diarahkan pada upaya pencegahan dan promosi kesehatan, salah satunya melalui edukasi agar masyarakat mampu mengenali sejak dini gangguan mata yang berisiko menyebabkan kebutaan.
Sebab, menurutnya, kebutaan sejatinya bisa dicegah selama dilakukan deteksi secara dini.
Kedua, penguatan layanan di tingkat puskesmas sebagai garda terdepan layanan kesehatan, yang nantinya akan bersinergi dengan YSKK untuk mendukung program dari CBM dalam menjangkau lebih banyak kasus di lapangan.
Ketiga, penguatan layanan di tingkat rumah sakit, guna memastikan penanganan kasus rujukan berjalan cepat dan tidak ada keterlambatan layanan.
Menurut Zulfachmi, hal ini berpengaruh besar terhadap upaya menekan angka kebutaan.
“Dan yang keempat, yang paling penting, adalah fungsi monitoring dan evaluasi. Bagaimana kita bisa memastikan setiap langkah yang dijalankan benar-benar terlapor dan termonitor dengan baik,” jelas Zulfachmi.
Country Director CBM Global Indonesia, Marisa Kristianah, menyoroti bahwa gangguan penglihatan dan kebutaan yang sesungguhnya dapat dicegah masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat di Indonesia.
Ia menyebut, masih banyak warga yang kesulitan mengakses layanan kesehatan mata yang berkualitas.
“Melalui Program I-SEE, kami bersama para mitra berkomitmen memperkuat sistem kesehatan mata secara menyeluruh, mulai dari peningkatan kesadaran masyarakat, penguatan layanan yang inklusif, pengembangan kapasitas tenaga kesehatan, hingga dukungan kebijakan yang berkelanjutan, sehingga tidak ada seorang pun yang tertinggal dalam memperoleh layanan kesehatan mata,” tuturnya.
Selain menyoroti sistem layanan, Marisa juga mengajak insan media untuk turut ambil bagian dalam mendukung keberhasilan program ini.
Menurutnya, penguatan sistem kesehatan mata tak lepas dari peran informasi yang tepat di tengah masyarakat.
“Ini peran teman-teman media yang sangat penting, karena yang ingin kami bangun sebenarnya adalah penguatan sistem. Salah satu elemen dari sistem itu adalah informasi yang tepat sasaran di masyarakat. Kami mengundang teman-teman media agar dapat membantu mempromosikan layanan kesehatan mata, sekaligus mengedukasi masyarakat tentang cara menangani persoalan kesehatan mata mereka,” kata Marisa.
Peluncuran Program I-SEE ini dihadiri dari berbagai unsur pemerintah provinsi dan kabupaten, lembaga filantropi seperti BAZNAS, organisasi profesi PERDAMI, hingga organisasi penyandang disabilitas.
Sebagai catatan tambahan, ke depan program ini juga dapat diakses melalui BPJS Kesehatan.