Rabu, 1 Desember 2021

Ini Kondisi Terbaru Penanganan Tanggul Pantai Lengkong Cilacap yang Jebol Diterjang Gelombang Laut

Pembuatan tanggul darurat. (Dok istimewa)

Tanggul Pantai Lengkong Cilacap yang jebol beberapa waktu lalu kini mulai dibuat tanggul darurat dengan menerjunkan alat berat. Agar bisa menahan gempuran gelombang air laut, tanggul darurat akan diperkuat dengan geobag dan trucuk bambu.


Cilacap, serayunews.com

Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Kabupaten Cilacap Saeful Hidayat melalui Kepala Bidang Sungai dan Pantai Moch Munif menyampaikan, bahwa penanganan tanggul darurat baru menerjunkan satu alat berat milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak.

“Kebetulan Balai Besar sudah kirimkan alat berat, Geobag, dan bambu bertahap dari PT S2P,” ujar Munif saat dikonfirmasi, Selasa (23/11/2021).

Munif mengatakan, bahwa pihaknya sudah memulai  penanganan awal. Selain alat berat, pihakanya juga menerjunkan personel dari para mantri PSDA untuk membantu mengisi pasir ke dalam wadah geobag maupun kandi dari PSDA. Adapun jumlah geobag yang disedikan Balai Besar yakni sekitar 1500 buah.

“Tanggul darurat antara susunan geobag dengan kandi, karena kebutuhan geobag banyak jadi kita stok kandi di Dinas. Tinggi tanggul disesuaikan dengan kondisi lapangan perkiraan bisa 2-4 meter,” ujarnya.

Rencananya tanggul darurat akan dibuat sepanjang sekitar 500 meter di dua titik Pantai Lengkong yang jebol. Namun kondisi itu disesuaikan, sebab diperkirakan masih banyak titik tanggul kritis di wilayah Pantai Lengkong dan Kemiren yang perlu diperbaiki.

“Kita juga kerahkan warga, kebetulan relawan warga dari Kelurahan Mertasinga juga akan turun, tapi menunggu cuaca terang karena saat ini masih hujan. Dan untuk alat berat dijadwal 10 hari operasi, selesai itu alat ditarik ini yang jadi pertimbangan,” ujarnya.

Munif menambahkan, dengan penanganan tanggul darurat yang bersifat sementara ini, diharapkan bisa meninimalisir dampak dari gelombang pasang air laut yang semakin meluas.

“Mengeliminir dampak karena jika tidak segera ditangai dengan tanggul darurat bisa bertambah abrasinya, dan dampak ke masyarakat lebih banyak,” ujarnya.

Untuk penanganan tanggul permanen, pihaknya sudah membuat surat kepada Kementerian PUPR agar usulannya bisa direalisasikan di tahun 2022. Sedangkan tahun 2021 ini sudah pada proses DED (Detail Engineering Design).

Editor :M Amron

Berita Terkait

Berita Terkini