SERAYUNEWS – Dalam upaya meningkatkan efisiensi produksi tempe, tim mahasiswa dari Telkom University Purwokerto berhasil menciptakan inovasi teknologi berbasis Internet of Things (IoT).
Melalui program Innovillage 2024, mereka mengembangkan “Inkubator Fermentasi Berbasis IoT” yang bertujuan mempercepat waktu fermentasi tempe di Desa Pliken, Kabupaten Banyumas.
Inovasi ini tidak hanya mempercepat proses produksi, tetapi juga meningkatkan kualitas dan konsistensi tempe yang dihasilkan oleh para pengrajin lokal.
Banyumas merupakan salah satu daerah dengan konsumsi tempe tertinggi di Indonesia. Namun, di Desa Pliken, proses fermentasi tempe masih dilakukan secara tradisional yang memakan waktu hingga empat hari.
Lamanya waktu fermentasi ini menyebabkan produksi menjadi kurang efisien dan hasil tempe tidak selalu memiliki kualitas yang sama. Faktor utama yang mempengaruhi fermentasi adalah suhu dan kelembaban lingkungan yang sering kali tidak stabil.
Melihat permasalahan tersebut, Tim Incubox yang terdiri dari Dedy Tigor Manurung (S1 Sistem Informasi), Hotman Ivan Sianturi (S1 Bisnis Digital), Oky Wida Syahputra (S1 Bisnis Digital), serta dibimbing oleh Sena Wijayanto, S.Pd., M.T., berusaha menemukan solusi dengan memanfaatkan teknologi IoT untuk mengontrol kondisi fermentasi secara otomatis.
Teknologi yang dikembangkan oleh tim ini mengandalkan sensor suhu dan kelembaban yang terhubung dengan mikrokontroler sebagai pusat kendali sistem.
Data dari sensor ini kemudian dipantau melalui dashboard berbasis web secara real-time. Panel surya juga digunakan sebagai sumber energi alternatif agar alat dapat beroperasi secara mandiri tanpa bergantung pada listrik konvensional.
Cara kerja alat ini cukup sederhana. Tempe yang telah diragi dimasukkan ke dalam inkubator, lalu sistem secara otomatis akan mengontrol suhu pada rentang optimal 30-35 derajat Celsius dengan kelembaban sekitar 65-70%.
Jika suhu atau kelembaban menyimpang dari batas optimal, sistem akan menyesuaikannya dengan mengaktifkan atau menonaktifkan pemanas dan kipas pendingin. Dengan mekanisme ini, fermentasi yang sebelumnya memakan waktu empat hari dapat dipersingkat menjadi hanya satu hari.
Tim Incubox memulai proyek ini dengan melakukan koordinasi bersama para pengrajin tempe di Desa Pliken untuk memahami tantangan yang mereka hadapi. Setelah itu, mereka mulai merancang sistem, merakit perangkat keras, serta mengembangkan software pemantauan.
Tahap uji coba dilakukan dengan beberapa kali penyesuaian hingga alat dapat berfungsi secara optimal.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa inkubator fermentasi berbasis IoT ini mampu meningkatkan efisiensi produksi hingga 30%. Selain mempercepat proses fermentasi, alat ini juga membantu menjaga konsistensi kualitas tempe yang dihasilkan.
Dengan adanya pelatihan teknis yang diberikan kepada para pengrajin, mereka kini dapat mengoperasikan alat ini secara mandiri, meningkatkan keterampilan, serta membuka peluang usaha yang lebih besar.
Penerapan teknologi IoT dalam fermentasi tempe ini memberikan berbagai manfaat bagi masyarakat Desa Pliken.
Tidak hanya meningkatkan produktivitas, inovasi ini juga membantu pengrajin mengurangi ketergantungan pada metode tradisional yang kurang efisien. Selain itu, penggunaan panel surya sebagai sumber energi menjadikan alat ini ramah lingkungan dan lebih hemat biaya operasional.
Kolaborasi antara mahasiswa, dosen pendamping, dan masyarakat setempat menjadi kunci keberhasilan proyek ini. Ke depan, model inkubator ini dapat direplikasi di daerah lain dengan karakteristik serupa, sehingga lebih banyak pengrajin tempe yang dapat merasakan manfaatnya.
Inovasi inkubator fermentasi berbasis IoT yang dikembangkan oleh Tim Incubox dari Telkom University Purwokerto membuktikan bahwa teknologi modern dapat diintegrasikan dengan proses tradisional untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk.
Keberhasilan proyek ini menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara akademisi dan masyarakat dapat menciptakan solusi inovatif yang berdampak luas. Dengan implementasi lebih lanjut, teknologi ini berpotensi membawa perubahan signifikan bagi industri tempe di Indonesia.
***