
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS – Setiap anak memiliki potensi dan keunikan yang layak untuk dikembangkan, termasuk anak berkebutuhan khusus. Berangkat dari semangat itulah SLB Negeri (SLBN) Banjarnegara menghadirkan berbagai kelas keterampilan sebagai wadah bagi siswa untuk mengenali minat, mengasah bakat, dan membangun bekal kemandirian di masa depan.
Melalui pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan siswa, sekolah membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pada pengembangan keterampilan hidup yang dapat menjadi modal berharga bagi para peserta didik.
SLBN Banjarnegara menyediakan berbagai kelas keterampilan bagi siswa tingkat SMP dan SMA. Setiap siswa diberi kebebasan memilih kelas sesuai minat dan bakatnya.
Pilihan kelas keterampilan tersebut meliputi:
Guru akan mendampingi proses pembelajaran agar setiap siswa memperoleh pengalaman yang bermakna sekaligus menemukan potensi terbaik dalam dirinya.
Harapannya, keterampilan yang dipelajari dapat menjadi bekal bagi siswa untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri setelah menyelesaikan pendidikan.

Salah satu kelas yang menarik perhatian adalah kelas keterampilan batik yang mengajarkan teknik batik lampas.
Pendamping kelas, Ayu Olivia (Oliv), menjelaskan bahwa saat ini terdapat enam siswa SMP dan SMA yang mengikuti pembelajaran batik.
Sekilas, batik lampas memang tampak menyerupai teknik ecoprint. Namun, keduanya memiliki proses yang berbeda.
Menurut Oliv, batik lampas jauh lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami dan dipraktikkan oleh siswa berkebutuhan khusus.
Dalam prosesnya, siswa cukup menempelkan daun yang telah diberi pewarna pada kain, kemudian mengecapnya hingga membentuk motif alami. Setelah itu kain dicuci menggunakan larutan pengunci warna agar motif tidak mudah luntur.
“Dalam batik lampas, tidak ada proses menggulung atau digodog seperti ecoprint,” ujar Oliv.
Kesederhanaan teknik tersebut menjadi alasan utama dipilihnya batik lampas sebagai materi pembelajaran di SLBN Banjarnegara.
Meski metode pembelajarannya telah disederhanakan, proses mengajar tetap memiliki tantangan tersendiri.
Oliv mengungkapkan seluruh peserta di kelas batik merupakan siswa tunarungu. Sementara dirinya berlatar belakang sebagai guru seni rupa, bukan guru pendidikan luar biasa.
Karena itu, komunikasi menjadi tantangan yang harus diatasi dengan berbagai cara.
“Saya basic-nya guru mapel seni rupa, bukan dari guru luar biasa. Jadi, (kemampuan) komunikasi saya agak kurang. Untuk men-translate atau menyampaikan hal rumit, saya dibantu teman yang bisa Bahasa isyarat atau saya tulis,” ujar Oliv.
Kolaborasi dengan rekan guru yang menguasai bahasa isyarat menjadi solusi agar proses belajar tetap berjalan efektif.
Oliv berharap hasil karya para siswa semakin dikenal masyarakat luas sehingga dapat menjadi penyemangat bagi mereka untuk terus berkarya.
“Walaupun siswa-siswi kami memiliki keterbatasan, tidak mematahkan semangat kami dalam mengembangkan bakat yang mereka miliki untuk bekal masa depan nantinya. Semoga dengan adanya artikel ini bisa membantu kami untuk terus berkarya dan mengenalkan hasil karya ke masyarakat yang lebih luas,” ungkap Oliv.
Keberadaan kelas keterampilan di SLBN Banjarnegara menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menghasilkan karya yang bernilai.
Melalui dukungan guru, lingkungan sekolah, dan masyarakat, siswa berkebutuhan khusus memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, dan mampu berkontribusi melalui kemampuan yang mereka miliki.
Masyarakat yang ingin memberikan dukungan dengan membeli hasil karya batik lampas siswa dapat menghubungi Ayu Olivia di 081223256430 atau datang langsung ke SLB Negeri Banjarnegara, Jalan Raya Kenteng, Rejasa, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara.