
SERAYUNEWS – Penutupan Jembatan Serayu Banyumas memicu lonjakan tajam volume kendaraan di jalur alternatif Mandirancan (Patikraja)-Papringan (Banyumas).
Tidak hanya kendaraan pribadi, jalur tersebut kini juga sering dilintasi truk dan kendaraan bertonase besar yang diduga membawa muatan melebihi kapasitas jalan.
Kondisi tersebut mulai menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari kerusakan jalan yang baru diperbaiki hingga meningkatnya risiko kecelakaan lalu lintas di kawasan tersebut.
Sekretaris Desa Papringan, Sarto, mengatakan intensitas lalu lintas meningkat drastis sejak jalur desa itu menjadi rute pengalihan akibat penutupan Jembatan Serayu Banyumas. Truk pengangkut pasir hingga kendaraan tronton kini rutin melintas di ruas jalan tersebut.
“Sekarang beda dengan dulu. Setelah jalannya diaspal hotmix, lalu lintas luar biasa ramai. Truk-truk pasir dan kendaraan bermuatan berat lewat sini semua. Memang jadi jalan pintas,” kata Sarto, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, banyak kendaraan yang melintas dengan muatan berlebih atau overkapasitas. Akibatnya, kualitas jalan yang belum lama diperbaiki mulai mengalami kerusakan.
“Aspal hotmix yang baru beberapa hari saja sudah banyak yang berlubang. Tonasenya kan banyak yang melebihi kapasitas,” ujarnya.
Padatnya arus kendaraan di jalur pengalihan Mandirancan-Papringan juga berdampak terhadap keselamatan pengguna jalan. Dalam kurun waktu sepekan terakhir, tercatat lima kecelakaan lalu lintas terjadi di ruas tersebut.
“Sejauh ini selama seminggu sejak digunakan untuk jalur alternatif ada lima kali kecelakaan lalu lintas. Satu di antaranya meninggal dunia,” kata dia.
Sarto juga mengungkapkan salah satu titik rawan kecelakaan berada di wilayah RW 1 Desa Papringan. Di lokasi tersebut terdapat jembatan kecil yang sebagian konstruksinya menjorok ke badan jalan sehingga berpotensi membahayakan pengendara yang belum mengenal medan.
“Di timur RW 1 ada jembatan kecil yang menjorok ke tengah jalan. Itu belum diperbaiki. Banyak pengguna jalan yang baru atau tidak tahu kondisi medan, sehingga bisa menjadi pemicu kecelakaan,” jelasnya.
Kepala Bidang Jalan dan Drainase DPU Kabupaten Banyumas, Rusli Kurnia, menegaskan kendaraan bertonase besar yang melebihi kapasitas tidak diperbolehkan melintasi jalur Mandirancan-Papringan.
Ruas tersebut merupakan jalan kabupaten yang memiliki batas maksimal beban gandar sebesar 8 ton.
“Jalan Kabupaten yang dilewati kendaraan melebihi ketentuan menjadi salah satu penyebab kerusakan jalan serta berkurang nya umur layanan jalan, jalan yang di desain untuk umur layanan 5 – 10 tahun, bisa jadi hanya bertahan 2 – 3 tahun manakala dilewati kendaraan ODOL (Over Dimention Over Loading),” katanya.
Rusli mengakui penutupan Jembatan Serayu Banyumas menjadi penyebab utama meningkatnya volume kendaraan di jalur alternatif tersebut. Kondisi itu juga beriringan dengan sejumlah kejadian kecelakaan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Karena itu, ia mengimbau seluruh pengguna jalan agar lebih berhati-hati dan mengutamakan keselamatan saat melintasi jalur Mandirancan-Papringan.
“Dengan kondisi pengalihan lalu lintas saat ini dan beberapa kali terjadi kecelakaan, pengguna jalan yang melintasi jalan tersebut untuk bisa berhati – hati dan waspada serta bisa menjaga keamanan dan kenyamanan dalam berkendara saat melintasi jalan tersebut,” kata Rusli.
Lonjakan kendaraan akibat penutupan Jembatan Serayu Banyumas membuat jalur alternatif Mandirancan-Papringan menghadapi tekanan besar.
Selain mempercepat kerusakan jalan, tingginya volume kendaraan dan masuknya armada ODOL juga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.
Pemerintah Kabupaten Banyumas pun meminta kendaraan bertonase besar agar tidak menggunakan jalur tersebut demi menjaga kondisi infrastruktur sekaligus menjamin keselamatan pengguna jalan.