
CILACAP, SERAYUNEWS – Nama John Lie dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan Indonesia di laut. Jauh sebelum pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional, John Lie telah menjalankan peran penting di Cilacap.
Pada 1946, John Lie mendapat tugas membersihkan ranjau laut dan berbagai rintangan yang mengganggu jalur pelayaran di kawasan Pelabuhan Cilacap. Dengan peralatan terbatas, ia bahkan menggunakan 15 drum kosong untuk membantu mendeteksi ranjau di perairan.
Sejarawan Cilacap, Thomas Sutasman, menjelaskan John Lie atau Jahja Daniel Dharma memiliki perjalanan panjang dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satu bagian penting perjuangannya berlangsung ketika ia mendapat penugasan di Cilacap pada 1946.
“John Lie mendapat tugas di Cilacap tidak hanya sebagai petugas nautika. Ia juga bertugas membersihkan perairan dan pantai Segara Anakan dari berbagai rintangan pelayaran serta melatih personel ALRI,” ujarnya.
John Lie lahir di Kanaka, Kelurahan Pinaesaan, Kecamatan Wenang, Kota Manado, Sulawesi Utara, pada 9 Maret 1911. Ia merupakan putra Lie Kae Tae dan Maryam Oei Tseng Nie.
Setelah diterima sebagai anggota Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dengan pangkat Kelasi III, John Lie mendapat perintah dari Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana M Pardi untuk menjalankan tugas di Cilacap.
Ia hanya memiliki waktu sekitar satu bulan untuk mempersiapkan keberangkatan. Pada 29 Agustus 1946, John Lie berangkat menuju Cilacap dengan menumpang kereta api dari Yogyakarta.
Perjalanannya tidak langsung berakhir di Cilacap. John Lie sempat bermalam di Maos sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api jurusan Cilacap pada keesokan harinya.
Setibanya di Cilacap, ia langsung melapor kepada perwira senior di tempatnya bertugas. Salah satu pekerjaan berat yang menantinya adalah membersihkan ranjau laut di kawasan alur Pelabuhan Cilacap.
Keterbatasan peralatan menjadi tantangan tersendiri bagi John Lie. Namun, kondisi tersebut tidak menghentikannya menjalankan misi.
Menurut Thomas, John Lie justru melakukan berbagai improvisasi dengan memanfaatkan sarana yang tersedia.
“John Lie harus menyiasati ketiadaan peralatan dengan memanfaatkan sarana yang ada. Ia menggunakan rangkaian drum untuk melacak dan membersihkan ranjau laut di alur Pelabuhan Cilacap dan sekitarnya,” ungkapnya.
John Lie menggunakan 15 drum kosong yang dirangkai dengan jarak sekitar 225 meter. Rangkaian tersebut dilengkapi kawat sepanjang lima meter yang digantung dari besi berlapis timah hitam.
Pada bagian ujung setiap drum dipasang tambang sepanjang 300 meter. Rangkaian itu kemudian ditarik menggunakan kapal tunda untuk menyisir kawasan perairan.
Pekerjaan tersebut berlangsung berulang kali hingga akhir November 1946. Upaya itu membuahkan hasil. Sebanyak tiga ranjau laut berhasil ditemukan dan dinonaktifkan.
Petugas juga menemukan sepasang ranjau yang sudah kosong, bangkai tongkang, serta potongan-potongan kayu yang sebelumnya berpotensi mengganggu jalur pelayaran.
Tugas John Lie di Cilacap tidak berhenti pada pengamanan jalur pelayaran.
Ia juga menyiapkan pendidikan dan latihan bagi anggota ALRI, terutama para perwira muda. Materinya mencakup pengetahuan kelautan, perhitungan pasang surut air laut, hingga prosedur dan administrasi pelabuhan.
“Peran John Lie di Cilacap cukup luas. Selain memastikan perairan lebih aman untuk pelayaran, dia juga ikut membangun kemampuan personel ALRI melalui pendidikan dan latihan,” ujar Thomas.
Kiprah tersebut berlangsung seiring berkembangnya fungsi Pelabuhan Cilacap. Pada Februari 1947, pemerintah Republik Indonesia melalui jawatan pelabuhan menetapkan Pelabuhan Cilacap sebagai bandar pelabuhan niaga yang terbuka untuk kegiatan perdagangan luar negeri.
Pada Juli 1947, Pelabuhan Niaga Cilacap mulai menerima kapal dagang dari luar negeri. Dua kapal yang tercatat datang saat itu adalah Empire Tentagel dengan bobot 500 Dwt yang membawa 450 ton gula dan Empire Tenby dengan bobot 1.000 Dwt yang mengangkut 800 ton gula.
Dalam kapasitasnya sebagai syahbandar, John Lie bertugas mengawasi proses pemuatan serta mengantar dan menuntun kapal keluar dari perairan dalam menuju batas perairan luar.
Ia juga memastikan kapal melewati alur pelayaran yang aman berdasarkan peta pantai.
Dari tugas tersebut, kiprah John Lie berkembang ke berbagai misi pelayaran untuk mengamankan kapal-kapal yang membawa komoditas ekspor Indonesia ke luar negeri.
Perjuangan John Lie di laut semakin berat setelah pecah Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947. Indonesia saat itu membutuhkan jalur untuk mengirim komoditas ekspor ke luar negeri sekaligus mendapatkan pemasukan bagi negara.
John Lie ikut menjalankan misi pengamanan pelayaran kapal-kapal yang membawa komoditas Indonesia. Salah satu kisahnya terjadi ketika ia membawa kapal Empire Tenby dari Cilacap hingga tiba di Singapura pada Agustus 1947.
Ia juga pernah membawa 18 drum minyak kelapa sawit dan sempat ditangkap seorang perwira Inggris di Singapura. Namun, John Lie akhirnya berhasil bebas.
Kiprahnya dalam menembus blokade dan mengamankan pelayaran membuat John Lie dikenang sebagai salah satu pejuang laut Indonesia.
John Lie meninggal dunia pada 27 Agustus 1998. Sebelumnya, ia menerima Bintang Mahaputera Utama dari Presiden Soeharto dan kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Pada 10 November 2009, John Lie dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Jejak John Lie di Cilacap menjadi bagian penting dari perjalanan perjuangannya. Dari peralatan sederhana berupa 15 drum kosong untuk membersihkan ranjau laut hingga mengawal kapal yang membawa komoditas Indonesia ke luar negeri, kiprahnya menunjukkan besarnya peran jalur laut dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.