
SERAYUNEWS – Menjelang Ramadan 2026, ratusan warga Desa Petambakan menggelar tradisi Nyadran dengan kegiatan bersih-bersih Makam Nuryadrana, Minggu (15/2/2026).
Tradisi tersebut dilaksanakan secara serentak oleh warga di wilayah Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara.
Pekan terakhir menjelang bulan suci Ramadan dimanfaatkan warga Desa Petambakan untuk menggelar tradisi Nyadran dengan membersihkan area makam secara bersama-sama.
Tradisi bersih makam menjelang Ramadan ini telah mengakar di tengah masyarakat. Selain menjaga kebersihan, kegiatan tersebut juga menjadi ajang silaturahmi, khususnya bagi warga laki-laki yang hampir seluruhnya turun langsung ke area pemakaman.
Dampak positif kegiatan Nyadran terlihat jelas di sekitar lokasi. Trotoar jalan provinsi ruas Sunan Gripit yang biasanya dipenuhi daun jati kini tampak bersih dan rapi.
Area makam pun tertata lebih baik dan siap menyambut para peziarah yang biasanya ramai berkunjung saat Lebaran.
Ketua RT 2 RW 1 Desa Petambakan, Amar Maruf, menjelaskan bahwa tradisi bersih makam telah menjadi agenda rutin warga.
“Kegiatan ini dilakukan secara gotong royong. Bapak-bapak fokus membersihkan makam, sementara ibu-ibu membersihkan lingkungan, masjid, dan musala. Biasanya ditutup dengan makan bersama. Ini tradisi baik yang akan terus kami jaga,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan bersih makam dilaksanakan dua kali dalam setahun, yakni menjelang Ramadan dan menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Selain bernilai sosial dan spiritual, tradisi Nyadran juga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh.
Ketua RT 5 RW 1 Desa Petambakan, Slamet Sugiyanto, berharap kegiatan tersebut dapat ditindaklanjuti agar memberi nilai tambah edukasi sekaligus ekonomi bagi desa.
Menurutnya, lokasi Makam Nuryadrana yang berada di pinggir jalan provinsi dengan suasana teduh memiliki potensi besar untuk ditata lebih menarik.
“Pagar makam bisa dihias mural edukatif atau pesan-pesan rohani seperti pengingat kematian. Teman-teman Komunitas Sore Bergambar bisa diajak kolaborasi. Ibu-ibu PKK juga bisa menanam bunga di sepanjang trotoar,” ungkapnya.
Ia menambahkan, banyak warga Desa Petambakan yang memiliki usaha mikro dan kecil. Momentum keramaian warga pada sore hari, terutama saat ngabuburit, dinilai dapat menjadi peluang ekonomi baru.
“Kalau UMKM warga bisa berjualan di sepanjang trotoar, potensinya besar. Apalagi Desa Petambakan tahun ini berusia 455 tahun, sama dengan usia Kabupaten Banjarnegara. Kalau semua pihak berkolaborasi, ini bisa menjadi hal luar biasa bagi desa,” katanya.
Tradisi Nyadran di Desa Petambakan menjadi contoh bagaimana kearifan lokal mampu memperkuat nilai gotong royong, kepedulian lingkungan, serta kesadaran sosial masyarakat.
Di tengah perubahan zaman, warga Petambakan menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya layak dilestarikan, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai modal sosial dan ekonomi yang bermanfaat bagi kemajuan desa.