
SERAYUNEWS – Penutupan total Jembatan Serayu Banyumas selama proses perbaikan ternyata memunculkan solusi kreatif dari warga setempat.
Sebuah perahu pengangkut pasir yang biasa beroperasi di Sungai Serayu dimodifikasi menjadi transportasi darurat untuk membantu warga menyeberang tanpa harus memutar hingga puluhan menit.
Inisiatif tersebut langsung mendapat sambutan positif dari masyarakat yang setiap hari beraktivitas melintasi kawasan Banyumas dan Kalibagor.
Kehadiran perahu penyeberangan ini menjadi alternatif praktis bagi pejalan kaki maupun pengendara sepeda motor sejak Jembatan Serayu resmi ditutup pada 15 Juni 2026.
Dermaga sederhana untuk penyeberangan berada sekitar satu kilometer di sebelah barat Jembatan Serayu. Di sisi utara, perahu bersandar di bekas depo pasir Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor. Sedangkan di sisi selatan, titik sandar berada di Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas.
Penggagas layanan penyeberangan ini, Syamsudin, mengaku awalnya membuat perahu tersebut untuk kebutuhan pribadi agar anaknya tetap bisa berangkat sekolah tanpa harus memutar jauh melalui jalur alternatif resmi.
“Kebetulan anak saya sekolah di SD IT, jadi daripada harus muter jauh-jauh, saya bikin perahu untuk penyeberangan. Syukur ada tetangga yang mau ikut, kan bisa untuk ibadah dan aktivitas lainnya,” kata Syamsudin saat ditemui di lokasi, Selasa (16/6/2026).
Meski menggunakan perahu yang sebelumnya difungsikan untuk mengangkut pasir, Syamsudin memastikan kapasitas angkut telah diperhitungkan secara matang sehingga tetap aman digunakan.
“Kapasitas motor maksimal 10, untuk orang 20 itu sudah cukup. Karena saya hitung dari kapasitas 1 perahu itu kan untuk 1 kubik pasir, beratnya sekitar 1,9 ton. Berarti kalau untuk 2 perahu kan sekitar 4 ton. Nah ini kalau untuk kapasitas 20 orang sama motor 10 itu kan gak sampai 4 ton,” jelasnya.
Perahu tersebut menggunakan mesin berbahan bakar minyak sehingga proses penyeberangan berlangsung lebih cepat dibandingkan menggunakan perahu tradisional tanpa mesin.
Menariknya, layanan penyeberangan ini tidak memiliki tarif resmi. Syamsudin mengaku lebih mengedepankan niat membantu warga yang terdampak penutupan Jembatan Serayu.
“Sebenarnya saya ikhlas saja. Tujuannya untuk nolong orang yang mau ke pasar, sekolah, kerja. Biasanya kalau bawa motor kasih sekitar Rp 5.000. Kalau anak sekolah beda lagi,” ungkapnya.
Ia bahkan berencana mengoperasikan layanan tersebut selama 24 jam agar dapat dimanfaatkan para pedagang pasar maupun warga yang beraktivitas sejak dini hari.
“Insyaallah 24 jam. Tapi kalau debit air tinggi, ya kami libur. Tidak usah ambil risiko,” ujarnya.
Keberadaan perahu penyeberangan ini menjadi solusi bagi warga yang sebelumnya harus memutar melalui jalur Mandirancan akibat penutupan Jembatan Serayu.
Menurut Syamsudin, perjalanan memutar dapat menambah waktu tempuh hingga sekitar 45 menit karena kondisi jalan yang relatif sempit dan berkelok.
“Kalau harus muter dari sini ke arah barat, itu bisa sekitar 45 menit. Apalagi jalannya sempit dan banyak tikungan. Kalau di depan ada mobil, susah menyalip,” kata Syamsudin.
Tidak butuh waktu lama, layanan penyeberangan darurat tersebut langsung dimanfaatkan banyak warga, terutama pada jam sibuk pagi hari.
Salah seorang pengendara sepeda motor, Fikih, mengaku awalnya ragu menggunakan perahu. Namun setelah mencoba, ia merasa sangat terbantu karena dapat menghemat waktu perjalanan.
“Terpaksa pakai perahu karena jembatan ditutup. Kalau harus memutar jauh banget. Saya dari Purwokerto mau ke arah Alun-alun Banyumas,” katanya.
Hal serupa disampaikan Sarwin (62), warga Kalikidang, Kecamatan Sokaraja. Ia memanfaatkan perahu tersebut untuk menjemput istrinya yang berdagang di Pasar Sumpiuh.
“Kalau lewat Mandirancan kejauhan. Ini sangat membantu,” kata Sarwin.
Kehadiran perahu penyeberangan darurat di Sungai Serayu menunjukkan bagaimana kreativitas warga mampu menghadirkan solusi cepat di tengah keterbatasan akses akibat proyek perbaikan infrastruktur.
Selama penutupan Jembatan Serayu berlangsung hingga akhir Juli 2026, layanan ini diperkirakan akan terus menjadi pilihan masyarakat yang ingin menghemat waktu perjalanan.