Rabu, 25 Mei 2022

Kampus Merdeka Jembatani Pendidikan dengan Dunia Kerja

Plt.Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Kemendikbudristek RI, Prof. Ir.Nizam dalam zoom meeting GWPP, Rabu (13/4/2022). (Foto : Hermiana E.Effendi)

Pendidikan pada era merdeka belajar yang diterapkan saat ini, lebih menekankan bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas jauh lebih penting dibandingkan dengan ijazah. Karena hal tersebut akan semakin mendekatkan pendidikan dengan realitas dunia kerja.


Purwokerto, Serayunews.com

Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI, Prof.Ir.Nizam M.Sc.DIC.Ph.D, IPU, Asean Eng mengungkapkan, Perguruan Tinggi (PT) mempunyai peran sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Perguruan tinggi mempunyai tanggung jawab dalam menyiapkan SDM unggul dan hal ini lebih penting daripada hanya sekadar mencetak ijazah sarjana saja,” kata Nizam dalam zoom meeting bersama Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP), Rabu (13/4/2022).

Baca juga  Longsor di Kebutuhjurang Banjarnegara, Tutup Jalan dan Membayakan Rumah Warga

Nizam mengungkapkan, saat ini baru 11% angkatan kerja di Indonesia yang berasal dari perguruan tinggi. Sehingga mayoritas generasi muda hanya mengenyam pendidikan sampai dengan pendidikan dasar saja. Menurutnya, PT seharusnya menjadi mata air yang menyejukkan bangsa, namun kondisi saat ini masih banyak hal-hal yang di luar kendali. Misalnya dalam bidang otomotif, Indonesia hanya mampu berperan sebagai perakit, saat pandemi Covid-19 seluruh obat-obatan berasal dari impor, padahal Indonesia kaya akan bahan-bahan dasar pembuatan obat tersebut dan masih banyak lagi fakta lainnya yang jauh dari ideal.

“Kondisi yang terjadi saat ini, salah satunya karena kesalahan PT yang seharusnya menjadi pendobrak, melahirkan ilmuwan-ilmuwan, pemimpin, serta menghasilkan banyak penelitian,” tegasnya.

Dari data Kemendikbudristek RI, saat ini jumlah institusi perguruan tinggi kita sebanyak 4.593, terdiri dari universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, akademi komunitas dan politeknik. Dan yang mendominasi adalah sekolah tinggi, yaitu mencapai 2.465 sekolah. Sedangkan untuk jumlah program studinya ada 29.413, jumlah dosen ada 312.890 orang dan jumlah mahasiswa mencapai 8.483.213 orang.

Baca juga  Pasar Ramadan Banjarnegara Dibuka, Sembako dan Baju Murah Diserbu Warga
Tabel Statistik Pendidikan Tinggi di Indonesia. sumber : Kemendikbudristek RI

Kampus Merdeka

Lebih lanjut Nizam menjelaskan, pada era digital sekarang, dampak dari revolusi industri 4.0, sebanyak 23 juta pekerjaan atau peluang kerja akan digantikan oleh mesin. Namun, bersamaan dengan hilangnya peluang kerja tersebut, akan muncul peluang kerja baru yang jumlahnya mencapai dua kali lipat, yaitu kisaran 27 – 46 juta pekerjaan baru dan 10 juta diantaranya merupakan peluang kerja yang belum pernah ada.

Dalam kasus ini, maka peran PT sangat diharapkan untuk melahirkan SDM yang unggul dan mampu bersaing. Konsep dari Kampus Merdeka, merupakan wujud nyata campur tangan pemerintah dalam pembentukan SDM unggul.

“Sistem pendidikan PT kita sekarang membuka peluang lebar-lebar mahasiswa untuk mencapai kompetensi unggul. Misalnya, sekarang mahasiswa diperbolehkan untuk menempuh 1 semester di prodi lain, sehingga kesempatan untuk mengembangkan diri terbuka lebar. Mahasiswa mempunyai kemerdekaan untuk memilih jalan guna mengembangkan potensi diri melalui pembelajaran yang fleksibel, yaitu pendidikan yang memerdekakan dan memberdayakan,” terang Nizam.

Baca juga  PDI Perjuangan Cilacap Dukung Hidup Sehat, SICITA Pecahkan Rekor MURI

Kampus Merdeka memiliki berbagai program, mulai dari studi mandiri, pemberdayaan desa, internship di industri, pertukaran mahasiswa, International Student mobility Award, kampus mengajar, kewirausahaan mahasiswa serta inovasi mahasiswa. Dari hasil evaluasi Kampus Merdeka, lanjut Nizam, sebagian besar mahasiswa menginginkan agar program tersebut berlanjut dan sambutan dari dunia industri yang menjadi mitra kampus juga sangat positif.

Sementara itu, terkait anggaran pendidikan yang 20%, Nizam menjelaskan, pengelolaannya tidak semua berada di Kementrian Pendidikan. Bahkan sebanyak 2/3 dari anggaran tersebut dialokasikan untuk daerah, pusat hanya mengelola 1/3 sisa anggaran saja. Dari 1/3 sisa anggaran tersebut, Kemendikbudristek hanya mengelola 40% dan sisanya dikelola oleh kementerian lain.

Berita Terkait

Berita Terkini