
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS – Memasuki musim kemarau, kawasan Dataran Tinggi Dieng kembali menghadirkan fenomena alam unik, yakni embun upas atau frost Dieng.
Hamparan rumput dan dedaunan yang berubah menjadi putih akibat lapisan kristal es menjadi pemandangan langka.
Fenomena ini tidak hanya menarik perhatian wisatawan dan pemburu foto, tetapi juga menjadi bagian dari siklus alam yang telah lama dikenal masyarakat setempat.
Di balik keindahannya, embun upas ternyata menyimpan dampak yang cukup besar, terutama bagi sektor pertanian yang menjadi mata pencaharian utama warga Dieng.
Lantas, apa sebenarnya embun upas, kapan fenomena ini muncul, dan bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat? Berikut ulasan lengkapnya.
Fenomena embun upas umumnya terjadi pada musim kemarau, tepatnya mulai Juni hingga Oktober. Pada periode tersebut, suhu udara di Dataran Tinggi Dieng dapat turun sangat rendah, bahkan mendekati titik beku pada dini hari hingga menjelang pagi.
Kondisi inilah yang menyebabkan embun yang menempel di permukaan rumput, dedaunan, maupun tanah berubah menjadi lapisan kristal es. Fenomena tersebut dikenal sebagai frost atau embun beku.
Masyarakat maupun wisatawan biasanya dapat menyaksikan embun upas setelah waktu Subuh hingga sekitar pukul 06.00 WIB.
Namun, lapisan es tersebut hanya bertahan dalam waktu singkat karena akan mencair ketika sinar matahari mulai menghangatkan permukaan tanah.
Oleh sebab itu, pengunjung yang ingin menikmati keindahan embun upas sebaiknya datang sebelum matahari terbit agar tidak melewatkan momen langka tersebut.
Embun upas terbentuk akibat kombinasi beberapa faktor alam yang terjadi secara bersamaan.
Suhu udara yang sangat rendah menjadi faktor utama. Ketika suhu permukaan mendekati titik beku, uap air yang berada di sekitar rumput dan dedaunan tidak berubah menjadi air terlebih dahulu, melainkan langsung menjadi kristal es melalui proses sublimasi.
Selain suhu dingin, kelembapan udara yang tinggi serta kondisi angin yang relatif tenang juga mempercepat terbentuknya lapisan es di permukaan tanaman dan tanah.
Fenomena tersebut semakin mudah terjadi karena topografi Dataran Tinggi Dieng berupa cekungan dengan pegunungan di sekelilingnya.
Bentuk wilayah seperti ini membuat udara dingin lebih mudah terperangkap. Jadi, suhu pada malam hingga dini hari dapat turun lebih drastis dibandingkan daerah lain di sekitarnya.
Kombinasi seluruh faktor tersebut menjadikan Dieng sebagai salah satu wilayah di Indonesia yang rutin mengalami fenomena embun beku setiap musim kemarau.
Kemunculan embun upas selalu menjadi magnet bagi wisatawan dari berbagai daerah.
Hamparan rumput yang tampak memutih menyerupai salju menciptakan panorama yang berbeda dari biasanya.
Tidak sedikit wisatawan sengaja datang ke Dieng pada musim kemarau untuk berburu momen tersebut sekaligus mengabadikannya melalui foto maupun video.
Fenomena alam yang hanya berlangsung beberapa jam ini bahkan menjadi salah satu daya tarik wisata musiman yang ikut meningkatkan kunjungan wisatawan ke kawasan Dieng.
Meski menawarkan pemandangan yang memukau, embun upas juga membawa dampak yang cukup serius bagi masyarakat, khususnya para petani.
Cuaca ekstrem yang memicu terbentuknya embun es memiliki sejumlah konsekuensi negatif yang perlu menjadi perhatian. Salah satunya adalah kerusakan tanaman akibat suhu udara yang terlalu rendah.
Lapisan kristal es kerap menyelimuti tanaman kentang di kawasan Dieng. Kondisi tersebut membuat daun dan batang tanaman mengalami kerusakan sehingga tanaman menjadi layu, mengering, bahkan mati.
Dalam beberapa kasus, embun upas bahkan dapat menyebabkan gagal panen, terutama pada komoditas hortikultura yang sensitif terhadap suhu dingin ekstrem.
Demikian informasi mengenai embun upas menjadi salah satu fenomena alam unik di Dataran Tinggi Dieng pada musim kemarau.***