
PURWOKERTO, SERAYUNEWS-Sederet penghargaan telah diraih Pemkab Banyumas, terkait pengelolaan sampah. Capaian tersebut dijadikan bahan bakar untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah berkelanjutan yang kian berdampak pada nilai ekonomi daerah.
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menegaskan bahwa penghargaan yang diraih merupakan pemacu semangat untuk menyempurnakan inovasi pengolahan limbah yang sudah berjalan.
“Penghargaan ini menjadi motivasi kami untuk terus memperkuat sistem pengelolaan sampah sekaligus meningkatkan manfaat ekonominya,” kata Sadewo, usai upacara HUT Kemerdekaan RI ke 81, di Alun-alun Purwokerto, Senin (17/08/2026).
Menurut Sadewo, dibandingkan memaksakan konsep konversi sampah menjadi energi (Zero Waste to Energy), Pemkab Banyumas memilih fokus mematangkan alur Zero Waste to Money. Skema ini dinilai lebih rasional dan nyata dalam menyumbang pendapatan daerah.
Langkah tersebut diambil usai melalui kalkulasi matang. Pengembangan Zero Waste to Energy membutuhkan pasokan limbah minimal 1.000 ton per hari, sementara produksi harian Banyumas berada di angka 750 ton, serta beban tipping fee yang sangat tinggi.
Guna menjaga efisiensi APBD, operasional pengolahan sampah kini diarahkan pada penjualan produk bernilai jual tinggi.
Biaya operasional di bawah Rp10 miliar mampu menghasilkan pundi-pundi pendapatan hingga Rp2 miliar.
Diharapakan, nantinya kedepan hasil penjualan bahan bakar alternatif (Refuse Derived Fuel/RDF) dan biomassa diproyeksikan sanggup menutup total biaya operasional secara mandiri.
Inovasi terintegrasi ini terbukti efektif. Banyumas berhasil mencatatkan tingkat pengolahan sampah hingga 77 persen sekaligus menyabet penghargaan nasional Indonesia Sustainable Responsibility Award (ISRA) 2026 serta peringkat pertama nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup pada 6 Agustus 2026 lalu. Melalui pemanfaatan yang tepat, sampah yang tadinya beban daerah kini resmi bertransformasi menjadi modal ekonomi warga.