Senin, 4 Juli 2022

Keliling Desa Bertelanjang Dada Semalaman, Begini Cerita Mistis di Balik Pilkades Serentak di Cilacap

Ilustrasi pilkades. (dok serayunews)

Sebanyak 44 desa di Kabupaten Cilacap, hari ini melaksanakan pemilihan kepala desa serentak, Senin (28/3/2022). Berbicara soal suksesi kepemimpinan di desa, Pilkades merupakan pesta demokrasi dengan sekup terkecil di Indonesia.


Cilacap, serayunews.com

Banyak cerita mengenai pesta demokrasi orang desa ini, mulai dari kampanye hitam, botoh politik, hingga persaingan antar bandar padi juga terasa saat Pilkades. Bahkan ada juga persaingan berbau mistis yang melibatkan para calonnya.

Seperti cerita di gelaran Pilkades di wilayah Cilacap timur, sekitar sepuluh tahun lalu. Sumber serayunews yang saat itu menjadi salah satu calon Kades mengaku, mendatangi salah satu orang pintar atau dukun untuk membantu menyukseskan pencalonannya.

Baca juga  Stok Minyak Goreng Curah di Cilacap Sudah Stabil, Segini Harganya

“Saat itu saya mendatangi orang pintar di salah satu daerah, minta bantuan intinya, agar saya terpilih,” katanya kepada serayunews.com, Senin (28/3/2022).

Menurutnya, sang dukun tersebut tidak meminta persyaratan khusus atau sesaji yang rumit. Dia hanya diminta untuk mengelilingi desa saat tengah malam, dengan bertelanjang dada. Sesampainya di rumah, ia pun langsung melakoni saran dari sang dukun itu dan dilakukannya pada malam menjelang pencoblosan.

“Saya muter pinggiran desa tengah malam, hanya bercelana kolor. Dalam dua jam saja sudah selesai, dan Alhamdulilah percaya tidak percaya besoknya saya terpilih menjadi Kades,” tuturnya.

Baca juga  Ini Tiga Berita Terpopuler, Termasuk Aksi Begal di Baturraden

Meski begitu, dia masih meyakini faktor utama terpilihnya menjadi kepala desa, bukan atas bantuan dari sang dukun. Namun atas kehendak sebagian besar masyarakat desa yang memilihnya, serta amanah dari Tuhan yang maha esa.

“Saran dari orang pintar kan kalau menurut orang Jawa, hanya lelaku saja, tetap masyarakat faktor utamanya,” ujarnya.

Sementara itu, Pengamat Politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Akhmad Sabiq mengatakan, hasil pemilihan suara dalam demokrasi di tingkat apapun tidak ada kaitannya dengan ritual mistis. Perolehan suara sah lah yang dihitung oleh penyelenggara pemilihan umum.

Baca juga  Warga Desa Cimrutu, Sangat Terbantu TMMD Sengkuyung Kodim 0703 Cilacap

“Jika ada misalnya yang ritual khusus saat pemilihan kepala desa atau kepala daerah sekalipun, itu tidak pengaruh. Berarti si pelaku ritual tersebut, tidak bisa membedakan jabatan politik dengan hal magis semacam itu,” ungkapnya.

Berita Terkait

Berita Terkini