
TANGERANG SELATAN, SERAYUNEWS – Telapak kaki Sabrang Rinakit Adiluhung mendadak berhenti sesaat setelah keluar dari kamar tidurnya. Minggu, 6 September 2026, waktu baru menunjukkan pukul 04.45 WIB. Rumahnya di Kelurahan Pondok Benda, Pamulang, Tangerang Selatan, masih diselimuti suasana menjelang subuh.
Ada yang berbeda pagi itu. Lantai rumah terasa lebih kotor dari biasanya. Embusan angin juga masuk lebih leluasa. Sabrang kemudian sadar pintu geser rumahnya lupa ditutup semalaman.
Namun, bukan pintu yang menganga itu yang membuat remaja 14 tahun tersebut heran. Ada lapisan debu halus yang menempel di lantai rumah.
“Debunya cukup tebal di lantai,” kata Sabrang kepada SerayuNews.
Ia tak buru-buru mencari tahu dari mana debu itu datang. Sabrang mengambil air wudu, lalu berjalan menuju masjid tak jauh dari rumahnya untuk menunaikan salat Subuh berjamaah.
Sepulang dari masjid, rasa penasarannya justru bertambah. Ayahnya berdiri di depan kamar sambil memperhatikan lantai yang sama.
Debu itu bukan seperti debu rumah yang biasa mereka lihat. Butirannya jauh lebih halus.
Sabrang kemudian berjalan menuju teras di lantai dua. Di tempat yang terbuka itu, jejaknya terlihat jauh lebih jelas. Permukaan teras diselimuti lapisan tipis berwarna kelabu.
“Mungkin ini abu vulkanik,” ujar Sabrang menirukan perkataan ayahnya.
Keanehan serupa dirasakan Mira Prihananto. Perempuan 49 tahun yang tinggal tak jauh dari rumah Sabrang itu terkejut ketika melihat teras rumahnya.
Sebuah bak berisi air menjadi petunjuk paling kentara. Permukaan air dipenuhi material halus yang turun entah sejak kapan.
Mira semula mengira kotoran itu berasal dari aktivitas anak-anaknya yang bermain di teras pada malam sebelumnya. Namun dugaan itu terasa janggal ketika ia melihat permukaan air.
“Cuma saya heran, kok, sampai mengotori air di bak,” katanya.
Pagi itu, rupanya Sabrang dan Mira tidak sendirian.
Warga di berbagai wilayah Tangerang Selatan mendapati pemandangan serupa: teras berdebu, lantai kotor, kendaraan terselimuti material halus. Sesuatu yang berasal dari ratusan kilometer jauhnya telah tiba diam-diam bersama angin malam.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kemudian memberi jawaban. Material yang turun di sejumlah wilayah tersebut merupakan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Gunung yang berdiri di antara Pulau Jawa dan Sumatra itu kembali menunjukkan aktivitas erupsi. Material vulkaniknya terlontar tinggi ke atmosfer sebelum terbawa angin menuju kawasan yang jauh dari pusat erupsi.
Menurut informasi BMKG, sebagian material erupsi mencapai ketinggian sekitar 20 ribu kaki. Pada lapisan tersebut, angin membawanya ke arah timur laut dan selatan, menjangkau Banten, Jakarta, hingga sebagian Jawa Barat.
Material dari erupsi yang lebih tinggi bahkan menyebar ke wilayah yang lebih luas.
Abu vulkanik juga mencapai Kabupaten Lampung Selatan hingga Kota Metro, Provinsi Lampung. Material yang terlontar hingga puluhan ribu kaki terbawa angin ke arah barat daya dan barat laut, membuat sebarannya mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, dan kawasan selatan Selat Sunda.
Jika di Tangerang Selatan abu datang sebagai lapisan halus yang mengejutkan warga saat membuka pintu rumah, situasi berbeda dirasakan masyarakat yang tinggal lebih dekat dengan Anak Krakatau.
Eddi Kurniawan, warga Lampung Selatan, merasakan hujan abu sejak Sabtu malam.
Pria 47 tahun itu sedang menghadiri pengajian ketika abu vulkanik turun cukup tebal. Bagi pengendara sepeda motor, perjalanan menjadi tidak nyaman. Partikel halus beterbangan, masuk ke mata dan terhirup bersama udara.
“Pedih di mata. Mengganggu pernapasan,” kata Eddi kepada SerayuNews.
Erupsi Anak Krakatau akhirnya bukan lagi sekadar peristiwa di tengah Selat Sunda. Dampaknya merambat dari teras rumah warga, jalanan, hingga salah satu pintu utama penerbangan Indonesia.
Aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, sempat ditutup sementara hingga pukul 09.30 WIB pada Minggu pagi.
Catatan Kementerian Perhubungan menyebut sedikitnya 209 pergerakan penerbangan terdampak. Jumlah penumpang yang terkena imbas mencapai 22.798 orang.
Bagi Sabrang, semua kabar besar itu bermula dari sesuatu yang sangat sederhana. Telapak kaki yang merasakan lantai rumah lebih kotor dari biasanya.
Pagi itu, Anak Krakatau yang berada jauh di tengah Selat Sunda seolah meninggalkan jejaknya hingga ke depan kamar sebuah rumah di Pamulang.