
SERAYUNEWS – Pandemi Covid-19 bukan hanya krisis kesehatan, tetapi juga badai gelap yang mengguncang kehidupan banyak keluarga.
Bagi Novita Hermawan dan suaminya, Rudi Hermawan, pandemi justru menjadi titik terendah sekaligus awal dari perjalanan usaha yang kini menembus pasar global.
Saat tempat Rudi berkarier di salah satu anak perusahaan BUMN terdampak, masa depan terasa tidak pasti.
Di tengah kegelisahan, pasangan ini memilih pulang ke kampung halaman di Desa Selang, Kabupaten Kebumen, membawa tekad untuk memulai hidup dan usaha dari nol.
Upaya awal mereka di bidang mina padi belum membuahkan hasil. Hari-hari dilalui dengan penuh perhitungan dan kekhawatiran, namun mereka tetap bertahan.
Hingga suatu hari, Novita mulai memandang lingkungan sekitar dengan cara berbeda. Di desanya, pohon pisang tumbuh melimpah.
Pelepah pisang yang kerap dianggap tidak berguna hanya dibiarkan membusuk atau dibakar. Bagi Novita, limbah tersebut justru menjadi peluang.
Dengan ketekunan dan semangat belajar mandiri, Novita dan Rudi menelusuri pemanfaatan serat pelepah pisang dari berbagai negara.
Mereka mempelajari tren produk ramah lingkungan, membaca potensi pasar, serta melakukan berbagai eksperimen.
Limbah pelepah pisang yang dikumpulkan dari petani kemudian dipilah, dikeringkan, dan dipintal menjadi tali serat alami bernilai tinggi.
Perjalanan mereka tidak selalu berjalan mulus. Berbagai kegagalan, trial and error, serta proses panjang menjadi bagian dari perjuangan membangun usaha.
Keyakinan bahwa mereka sedang membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar bisnis, akhirnya melahirkan Agromina Fiber Indonesia.
Produk-produk seperti keranjang laundry, dekorasi dinding, hingga kap lampu buatan tangan para perajin mulai mendapat tempat di pasar.
Tak hanya di dalam negeri, produk Agromina perlahan menembus pasar internasional, mulai dari Nigeria, Dubai, Chile, Argentina, Belgia, Selandia Baru, hingga Amerika Serikat.
Setiap pengiriman ke luar negeri menjadi simbol bahwa karya dari desa kecil di Kebumen mampu diakui dunia.
Pada 2021, Novita dan Rudi resmi mendirikan PT Agromina Fiber Java Indonesia. Perusahaan ini tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga membawa misi sosial dan lingkungan.
Dengan prinsip zero waste, sisa pelepah pisang yang tidak terpakai kembali diolah menjadi bio-leather atau vegan leather, sehingga nilai guna meningkat sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Keberhasilan Agromina juga diukur dari dampak sosialnya. Saat ini, Agromina memberdayakan sekitar 170 perajin, dengan 70 persen di antaranya perempuan.
Para perajin tersebut tersebar di Kebumen, Purworejo, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara.
Sebagian besar merupakan ibu rumah tangga yang kini memiliki penghasilan sendiri, membantu ekonomi keluarga, sekaligus membangun rasa percaya diri dan kemandirian.
Sistem klaster memungkinkan para perajin tetap bekerja dari rumah, sembari menjaga kualitas dan konsistensi produksi.
Keseriusan Agromina menjaga kualitas tercermin dari kepemilikan sertifikasi ISO 14001 untuk manajemen lingkungan dan ISO 9001 untuk manajemen mutu, serta perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Perusahaan juga membangun sistem traceability dan geotagging sebagai strategi menembus pasar Eropa, sekaligus membuktikan bahwa UMKM desa mampu memenuhi standar global.
Pada 2025, Agromina masuk 10 besar Pertapreneur Aggregator tingkat nasional dalam program Pertamina UMK Academy, dengan pertumbuhan omzet lebih dari 100 persen.
Pencapaian ini mengukuhkan bahwa ketekunan dan keberanian bermimpi mampu membuka peluang baru bagi UMKM.
Pjs. Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap, Sunaryo Adi Putra, menyebut kisah Novita dan Rudi Hermawan sebagai inspirasi bagi banyak pelaku UMKM.
“Agromina menunjukkan bahwa limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi produk bernilai tinggi dan berdaya saing global. Ini sejalan dengan komitmen Pertamina untuk menyebarkan energi dalam pemberdayaan masyarakat,” ujar Sunaryo Adi.
Ia menambahkan, Kilang Cilacap secara konsisten memberikan pendampingan, dukungan permodalan, serta membuka akses pameran dan pasar ekspor, agar UMKM binaan tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh mandiri dan berkelanjutan.
Di balik kesuksesan Agromina, tersimpan cerita tentang keberanian mengambil risiko, kesabaran menghadapi kegagalan, serta kecintaan terhadap lingkungan dan komunitas.
Dari pelepah pisang yang dahulu dianggap sampah, Novita membuktikan bahwa harapan dapat tumbuh di tempat yang tidak terduga. Dari desa kecil di Kebumen, kearifan lokal kini menjelma menjadi karya yang diakui di level global.