
PURBALINGGA, SERAYUNEWS – Bumi Perwira Purbalingga menjadi saksi bisu sengitnya garis pertahanan para pejuang kemerdekaan Indonesia.
Salah satu kisah perlawanan yang sangat mendalam datang dari Desa Karangcegak, Kecamatan Kutasari, ketika sebuah kediaman sederhana di kaki Gunung Slamet dijadikan pusat pergerakan taktis untuk mematahkan dominasi penjajah.
Rumah milik H. Kusmawireja tersebut menjadi markas rahasia tempat menyusun strategi tempur dan mengamankan logistik perang.
Perjuangan H. Kusmawireja bermula ketika usianya masih sangat muda. Saat pendudukan pendudukan kekaisaran Jepang berlangsung, ia telah mendapatkan latihan kemiliteran yang keras. Gemblengan fisik dan disiplin tinggi pada masa remaja tersebut membekalinya keberanian untuk terjun langsung ke medan laga.
melalui keterangan sang putra, Sakirin, kisah masa muda ayahnya diisi dengan pengabdian penuh risiko.
”Pada masa pendudukan Jepang bapak saya masih remaja yang kemudian dilatih kemiliteran, sampai sekarang masih hafal lagu-lagu wajib Jepang,” tutur Sakirin.
Medan pertempuran yang diarungi H. Kusmawireja tidak hanya terbatas di wilayah Purbalingga. Garis gerilyanya membentang luas menembus Purwokerto, Cilongok, hingga Ajibarang.
Di tengah ancaman patroli musuh, ia mengemban tugas vital sebagai pembawa perlengkapan tempur dan garis depan pertahanan.
Senjata api dan ransel berat milik para pejuang lainnya ia panggul sendiri menembus hutan dan perbukitan. Tugas tersebut dijalani dengan penuh keikhlasan serta semangat pantang menyerah demi tegaknya kedaulatan tanah air.
Ujian terberat medan perang tiba ketika Belanda kembali melancarkan agresi militer pasca-kekalahan Jepang. Di bawah komando pimpinan militer Kolonel Infanteri Poedjadi Djaring Bandapoedja, rumah H.
Kusmawireja di Dusun IV Karangcegak resmi difungsikan sebagai markas besar markas gerilya.
”Setelah Jepang pergi dari Indonesia, Belanda datang lagi, saat berjuang melawan Belanda, markas besarnya para pejuang di rumah ini,” ujarnya.
Dari markas rahasia inilah berbagai operasi gerilya dilancarkan untuk menahan laju pergerakan pasukan Belanda yang hendak menguasai kembali kawasan Banyumas dan sekitarnya.
Salah satu pertempuran paling heroic yang dilakoni H. Kusmawireja bersama unit perlawanan terjadi di kawasan Ajibarang. Pasukan gerilya melancarkan aksi nekat menghadang kereta api pengangkut pasokan logistik dan amunisi milik tentara Belanda.
Usai melancarkan serangan kilat dan kembali ke markas, aspek kerahasiaan menjadi kunci utama keselamatan para pejuang. H.
Kusmawireja diperintahkan mengubur seluruh persenjataan di dalam tanah kebun bambu, kemudian menyamarkannya menggunakan tumpukan dedaunan kering agar tidak terendus oleh intelijen musuh.
”Setiap pulang dari perjuangan ayah saya diperintahkan untuk menyembunyikan senjata dengan menggali tanah di kebun bambu kemudian ditutup kembali dengan dedaunan,” lanjutnya.
Perjuangan fisik H. Kusmawireja tidak berhenti pada masa perang kemerdekaan melawan bangsa asing. Saat gejolak pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) meletus, ia sempat tertangkap di Kedungbanteng, Purwokerto, akibat tuduhan palsu sebagai mata-mata musuh.
Aturan militer yang ketat kala itu menetapkan bahwa siapapun yang ditangkap dan tidak dijemput oleh pejabat resmi setempat dalam rentang waktu 1×24 jam akan langsung dieksekusi mati.
Berada di ambang maut, nyawanya berhasil diselamatkan setelah Penatus (Lurah) Karangcegak bergerak cepat datang menjemput serta membuktikan bahwa ia adalah pejuang setia Republik Indonesia.