Selasa, 29 November 2022

Kisah Sedih Petani di Kroya Cilacap yang Tanaman Padinya Roboh Akibat Diterjang Angin dan Hujan

Seorang Petani di Desa Sikampuh Kecamatan Kroya sedang mendirikan tanaman padi yang roboh diikat dengan daun pohon kelapa. (Ulul Azmie)

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itulah sebuah uangkapan pepatah yang sedang dirasakan oleh sejumlah petani di Cilacap. Disaat harga padi yang terus merosot, mereka dihadapkan dengan cuaca buruk akhir-akhir ini, dimana hektaran tanaman padi di wilayah Cilacap bagian timur roboh akibat diterjang angin dan hujan lebat.


Kroya, serayunews.com

Mad Ngadi (50) warga RT 29 RW 03 Desa Sikampuh Kecamatan Kroya yang berprofesi sebagai petani hanya bisa pasrah melihat tanaman padi di wilayahnya banyak yang roboh akibat terjangan angin beberapa hari lalu. Di lahan milik orang lain sekitar 250 ubin, tanaman padi yang ia garap pun roboh, padahal tanaman padi baru berumur sekitar dua bulan.

Untuk menyelamatkan agar tidak membusuk, ia terpaksa harus keluarkan tenaga ektra untuk mendirikan kembali tanaman tersebut dengan cara diikat menggunakan daun kelapa, dan berharap bisa dipanen sekitar satu bulan lagi.

“Ini kita ikat, bisa selesai tiga hari, karena dikerjakan sendiri sama anak, kalau mau lebih cepat ya nambah tenaga dan keluarkan biaya lagi,” ujar Mad Ngadi, saat mengikat padi yang roboh di sawah Desa Sikampuh, Sabtu (03/07/2021).

Ngadi tidak berharap banyak, sebab tanaman padi yang tergolong masih berbuah muda tersebut bakal tumbuh tidak sempurna dan mengurangi kualitas maupun kuantitas disaat panen nanti.

Menurutnya, beberapa tahun terakhir ia sebagai petani merasa sedang kurang beruntung. Dimana selain terkendala cuaca buruk, harga padi pun ikut anjlok karena hasil panen yang kurang bagus, ditambah lagi dengan mahalnya harga pupuk.

“Kita sebagai petani kecil hanya bisa pasrah, kalau tidak punya kartu tani tidak dapat pupuk subsidi, semisal ada stoknya terbatas, malah kadang sulit dapatnya. Terus harga padi juga sedang anjlok malah nggak laku, tengkulak juga pilih-pilih, sekarang aja jual paling Rp 308 ribu an perkwintalnya, apalagi ini roboh bisa busuk, masih muda gabug (tidak isi), bisa merosot panennya,” ujarnya.

Ngadi menambahkan, dari hasil panen di sawah yang ia garap di luasan sekitar 250 ubin, yang biasanya bisa menghasilkan hingga 2,8 ton, hasilnya sekarang terus merosot hanya sekitar 2 ton, belum lagi dikurangi untuk ongkos menggarap, pupuk hingga ongkos panen.

“Ya kadang malah tekor tidak balik modal, kalau lagi tidak bagus hasilnya, untuk biaya dan ongkos ya jutaan habisnya,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang diterima, sejumlah daerah di Cilacap bagian timur yang terdampak angin, berjumlah hektaran tanaman padi roboh, diantaranya di Kecamatan Kroya meliputi Desa Gentasari, Ketanggung, Sikampuh. Kecamatan Sampang di Desa Paketingan dan Karangjati, serta Kecamatan Adipala di Desa Doplang.

Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Cilacap Mlati Asih Budiarti menyampaikan, pihaknya masih mendata luasan lahan tanaman padi yang terdampak angin beberapa hari lalu. Menurutnya hingga Juni 2021, untuk potensi luasana panen di Cilacap mencapai 72.686 hektar.

“Kalau untuk luasan padi yang roboh dampak hujan angin hari Rabu, memang ada tetapi luasannya belum terlaporkan dari lapangan,” ujar Mlati.

Akibat banyaknya tanaman padi yang roboh dan mendekati masa panen, banyak petani memilih memanen padi lebih dini, untuk mengurasi resiko gagal panen jika terus dibiarkan roboh dalam genangan air. Sebab selain membusuk, padi juga bisa tumbuh menjadi kecambah (bertunas).

Baca juga Angkringan Klangenan Ndeso, Tempat Nongkrong Syahdu Namun Tersembunyi di Kota Cilacap

Editor :M Amron

Berita Terpopuler

Berita Terkini