
SERAYUNEWS- Umat Islam di Indonesia akan segera menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Penetapan tersebut diumumkan pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia setelah sidang isbat yang berlangsung di Jakarta pada Minggu, 17 Mei 2026.
Keputusan itu menetapkan 1 Zulhijah 1447 H jatuh pada Senin, 18 Mei 2026. Penetapan awal bulan Zulhijah menjadi dasar penentuan berbagai ibadah sunnah menjelang Idul Adha, mulai dari puasa Zulhijah, puasa Tarwiyah, puasa Arafah, hingga pelaksanaan Hari Tasyrik.
Momentum Idul Adha tidak hanya identik dengan penyembelihan hewan kurban, tetapi juga menjadi pengingat tentang sejumlah amalan sunnah dan larangan penting dalam Islam, termasuk larangan berpuasa saat Hari Tasyrik. Melansir berbagai sumber, berikut ulasan selengkapnya:
Hari Tasyrik merupakan tiga hari setelah Hari Raya Idul Adha, yakni tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah. Pada tahun 2026, Hari Tasyrik diperkirakan berlangsung mulai Kamis, 28 Mei 2026 hingga Sabtu, 30 Mei 2026.
Dalam tradisi Islam, Hari Tasyrik memiliki makna mendalam sebagai hari untuk menikmati nikmat Allah SWT, memperbanyak zikir, serta melanjutkan penyembelihan hewan kurban.
Secara bahasa, kata Tasyrik berasal dari istilah Arab syarraqa yang berarti menjemur sesuatu di bawah sinar matahari. Pada masa Rasulullah SAW, masyarakat Arab memiliki kebiasaan menjemur daging kurban agar tahan lama sebelum adanya teknologi pendingin.
Tradisi itulah yang kemudian melahirkan istilah Hari Tasyrik.
Selain menjadi waktu pengolahan dan pembagian daging kurban, Hari Tasyrik juga menjadi bagian penting dalam rangkaian ibadah haji di Mina, khususnya bagi jemaah yang melaksanakan mabit dan lempar jumrah.
Salah satu ketentuan penting selama Hari Tasyrik adalah larangan berpuasa. Mayoritas ulama sepakat bahwa puasa pada 11, 12, dan 13 Zulhijah hukumnya haram, kecuali untuk kondisi tertentu bagi jemaah haji yang tidak mendapatkan hewan dam.
Larangan tersebut didasarkan pada sejumlah hadis Rasulullah SAW.
Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan: “Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.”
Hadis lain dari Ibnu Umar RA menegaskan: “Tidak diperkenankan berpuasa pada hari Tasyrik kecuali bagi orang yang tidak mendapatkan hewan kurban ketika berhaji.” (HR Bukhari)
Karena itu, umat Islam dianjurkan menikmati makanan, khususnya olahan daging kurban, sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Larangan puasa pada Hari Tasyrik juga menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah spiritual dan kebahagiaan sosial.
Penetapan awal Zulhijah juga menjadi acuan jadwal puasa sunnah sebelum Idul Adha. Berikut rangkaian jadwal penting menjelang Hari Raya Kurban 2026:
1. Puasa Zulhijah 2026
Puasa Zulhijah dilaksanakan sejak 1 hingga 7 Zulhijah atau mulai 18 Mei sampai 24 Mei 2026. Puasa sunnah ini dianjurkan sebagai amalan untuk mengisi hari-hari mulia di bulan Zulhijah dengan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
2. Puasa Tarwiyah 2026
Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada 8 Zulhijah atau Senin, 25 Mei 2026. Istilah Tarwiyah berasal dari tradisi jamaah haji zaman dahulu yang mempersiapkan persediaan air sebelum menuju Padang Arafah.
3. Puasa Arafah 2026
Puasa Arafah jatuh pada Selasa, 26 Mei 2026 atau 9 Zulhijah 1447 H. Puasa ini memiliki keutamaan besar bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji. Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR Muslim)
Puasa Arafah menjadi salah satu amalan sunnah paling dianjurkan menjelang Idul Adha.
Shalat Idul Adha 1447 H dilaksanakan pada Rabu pagi, 27 Mei 2026.
Pelaksanaan salat dimulai sekitar 15 hingga 20 menit setelah matahari terbit hingga sebelum masuk waktu Zuhur.
Mayoritas ulama, khususnya mazhab Syafi’i, menyebut hukum salat Idul Adha sebagai sunnah muakkad atau ibadah yang sangat dianjurkan.
Berbeda dengan salat Idul Fitri, salat Idul Adha disunnahkan dilakukan lebih awal agar umat Islam memiliki waktu lebih panjang untuk melaksanakan penyembelihan hewan kurban.
Meski puasa dilarang, umat Islam tetap dianjurkan memperbanyak ibadah lain selama Hari Tasyrik.
1. Memperbanyak Zikir dan Takbir
Hari Tasyrik dikenal sebagai hari zikir. Umat Islam dianjurkan memperbanyak:
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 203, Allah SWT berfirman: “Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan jumlahnya.”
2. Menyembelih Hewan Kurban
Penyembelihan hewan kurban masih diperbolehkan hingga matahari terbenam pada 13 Zulhijah atau Sabtu, 30 Mei 2026. Karena itu, umat Islam yang belum sempat berkurban pada Hari Raya Idul Adha masih memiliki kesempatan selama Hari Tasyrik.
3. Mempererat Kepedulian Sosial
Momentum pembagian daging kurban menjadi sarana mempererat hubungan sosial dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Tradisi berbagi daging kurban juga menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur dalam kehidupan bermasyarakat.
4. Larangan Potong Kuku dan Rambut bagi Shahibul Kurban
Selain larangan puasa di Hari Tasyrik, umat Islam yang berniat berkurban juga dianjurkan tidak memotong kuku dan rambut sejak masuk 1 Zulhijah.
Larangan tersebut diperkirakan mulai berlaku sejak Minggu malam, 17 Mei 2026 hingga hewan kurban disembelih.
Jika penyembelihan dilakukan pada akhir Hari Tasyrik, maka larangan memotong kuku dan rambut dapat berlangsung hingga Sabtu, 30 Mei 2026.
Anjuran ini ditujukan khusus bagi shahibul kurban atau orang yang berkurban sebagai bentuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Hari Tasyrik bukan hanya hari setelah Idul Adha. Momentum ini memiliki makna spiritual yang kuat dalam Islam sebagai hari memperbanyak syukur, zikir, dan berbagi kebahagiaan melalui daging kurban.
Di tengah suasana Idul Adha 2026, umat Islam diharapkan tidak hanya memahami jadwal ibadah, tetapi juga mengerti hikmah di balik larangan puasa dan berbagai amalan sunnah selama Hari Tasyrik.
Dengan demikian, rangkaian Idul Adha tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga momentum memperkuat ketakwaan, solidaritas sosial, dan rasa syukur kepada Allah SWT.