
SERAYUNEWS – Bulan Ramadhan selalu identik dengan momen sahur. Bagi Anda yang memiliki anak, membangunkan mereka untuk makan sahur kadang menjadi tantangan tersendiri. Cek lirik Tepuk Sahur.
Di sinilah lirik tepuk sahur hadir sebagai solusi kreatif yang bukan hanya seru, tetapi juga edukatif.
Tepuk sahur kini semakin populer, terutama setelah viral di media sosial.
Banyak orang tua dan guru memanfaatkannya sebagai metode pembelajaran yang menyenangkan selama bulan puasa.
Secara sederhana, tepuk sahur adalah metode pembelajaran berbentuk tepukan tangan berirama yang dipadukan dengan kalimat singkat.
Liriknya biasanya berisi ajakan bangun sahur, membaca niat puasa, hingga menjaga perilaku selama Ramadhan.
Metode ini mirip dengan konsep tepuk semangat atau tepuk motivasi yang sering digunakan di sekolah anak usia dini.
Bedanya, tepuk sahur secara khusus dikemas untuk menyambut waktu sahur dan menanamkan nilai-nilai ibadah puasa.
Anak-anak cenderung lebih mudah mengingat informasi dalam bentuk lagu, irama, atau tepukan.
Dibandingkan ceramah panjang, pendekatan ini terasa ringan dan interaktif.
Selain membantu hafalan, lirik tepuk sahur juga menanamkan kebiasaan baik sejak dini.
Anak belajar disiplin bangun pagi, menjaga lisan, serta memahami rukun Islam secara bertahap.
Salah satu referensi lirik tepuk sahur yang banyak digunakan berasal dari akun TikTok Alfatihah School.
Video tersebut viral dan banyak dijadikan inspirasi oleh orang tua maupun guru PAUD dan TK.
Berikut lirik lengkapnya:
Tepuk Sahur
Bangun malam
Cuci muka Cuci tangan
Baca niat Makan sahur
Sahur… Sahur… (4x)
Lirik ini singkat, padat, dan sangat mudah diikuti anak-anak. Susunan kalimatnya juga runtut, sehingga membantu mereka memahami tahapan sebelum berpuasa.
Jika Anda perhatikan, setiap baris dalam lirik tersebut memiliki pesan edukatif yang jelas.
1. “Bangun malam”
Mengajarkan anak tentang pentingnya sahur sebagai bagian dari ibadah puasa. Anak belajar bahwa sahur bukan sekadar makan, tetapi bagian dari persiapan spiritual.
2. “Cuci muka Cuci tangan”
Ini menanamkan kebiasaan menjaga kebersihan sebelum makan. Nilai sederhana seperti ini penting untuk membentuk karakter disiplin dan sehat.
3. “Baca niat Makan sahur”
Anak diajak memahami bahwa puasa diawali dengan niat. Meski belum wajib berpuasa secara penuh, mereka sudah diperkenalkan pada konsep niat dalam ibadah.
4. “Sahur… Sahur… (4x)”
Pengulangan kata sahur berfungsi sebagai penguat semangat. Secara psikologis, repetisi membuat anak lebih mudah mengingat dan merasa lebih antusias saat dibangunkan.
Ada beberapa alasan mengapa metode ini efektif:
1. Menggabungkan Gerak dan Suara
Anak usia dini belajar paling baik melalui aktivitas motorik dan audio. Tepukan tangan membuat mereka aktif secara fisik, sementara lirik membantu stimulasi verbal.
2. Membangun Suasana Positif
Dibandingkan membangunkan dengan nada tinggi atau tergesa-gesa, tepuk sahur menciptakan suasana hangat dan menyenangkan. Anak pun tidak merasa dipaksa.
3. Membentuk Kebiasaan Sejak Dini
Ramadhan sering dijadikan momentum pendidikan karakter. Melalui tepuk sahur, Anda bisa menanamkan disiplin bangun pagi, kebersihan, dan pemahaman dasar tentang puasa.
4. Mudah Dimodifikasi
Anda juga bisa mengembangkan lirik sesuai kebutuhan. Misalnya dengan menambahkan ajakan salat Subuh atau menjaga sikap selama berpuasa.
Fenomena viralnya lirik tepuk sahur di media sosial menunjukkan bahwa metode pembelajaran kini semakin kreatif.
Orang tua dan guru tidak lagi hanya mengandalkan cara konvensional, tetapi memanfaatkan konten digital yang positif.
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ini adalah waktu terbaik membentuk karakter, melatih kesabaran, dan memperkenalkan nilai-nilai agama kepada anak sejak dini.
Melalui tepuk sahur, Anda bisa menjadikan proses belajar itu terasa ringan dan penuh keceriaan.
Jadi, jika besok dini hari Anda kesulitan membangunkan si kecil, cobalah mulai dengan tepukan tangan berirama dan lantunkan lirik sederhana ini.
Siapa tahu, sahur di rumah Anda jadi lebih semangat dan penuh tawa.***