
SERAYUNEWS– Sejarah perkeretaapian dan industri gula di Kabupaten Banjarnegara kembali menjadi sorotan. Komunitas Sejarah Perkeretaapian Indonesia (KSPI) menggelar webinar internasional bertajuk “100 Year D&B Locomotive of PG Soemberhardjo” yang mengulas perjalanan lokomotif berusia satu abad yang pernah beroperasi di Pabrik Gula (PG) Klampok, Banjarnegara, sebelum akhirnya direstorasi di Belanda.
Webinar tersebut menghadirkan narasumber utama, pakar sejarah perkeretaapian Belanda Gerrard de Graaf, yang dikenal sebagai kolektor dan peneliti sejarah jalur kereta api tambang era Hindia Belanda. Ia juga merupakan perwakilan dari organisasi The Nederlands Smalspoor Museum yang pernah menjalin kerja sama dengan PT KAI (Persero).
Dalam paparannya, Gerrard menjelaskan bahwa lokomotif yang kini dikenal dengan nama resmi Soemberhardjo No. 09 memiliki keterkaitan erat dengan Banjarnegara. Sebelum digunakan di wilayah lain, lokomotif tersebut pernah beroperasi cukup lama di lingkungan PG Klampok yang menjadi salah satu pusat industri gula penting pada masa kolonial.
Menurut Gerrard, komunitas pecinta kereta api di Belanda berupaya menyelamatkan sejumlah lokomotif sepur sempit dari Indonesia yang terancam rusak atau terbengkalai. Namun proses membawa lokomotif bersejarah itu ke Belanda tidaklah mudah.
“Dua lokomotif yang kami bawa ke Belanda harus melalui proses birokrasi yang panjang. Selain itu, kami juga harus membayar sekitar 5.000 dolar AS kepada Kementerian BUMN. Belum lagi biaya pengangkatan dan pengiriman yang sangat besar,” katanya.
Ia berharap ke depan terdapat kemudahan akses bagi upaya pelestarian aset sejarah perkeretaapian Indonesia melalui kerja sama yang saling menguntungkan antara Indonesia dan Belanda.
“Harapan kami, ada skema kolaborasi yang lebih terbuka, termasuk kemungkinan pertukaran informasi dan artefak sejarah yang berkaitan dengan Indonesia yang saat ini berada di Belanda,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Banjarnegara, Heni Purwono, mengapresiasi dedikasi komunitas pelestari lokomotif di Belanda yang aktif melakukan restorasi terhadap berbagai peninggalan perkeretaapian Indonesia.
Menurut Heni, masih banyak aset sejarah di Indonesia yang belum mendapatkan perhatian optimal sehingga berpotensi hilang karena kerusakan maupun pembongkaran.
“Kami sangat menghargai upaya pelestarian yang dilakukan komunitas di Belanda. Di sisi lain, masih banyak peninggalan bersejarah di Indonesia yang kurang terawat. Bahkan beberapa lokomotif tua yang memiliki nilai sejarah tinggi justru berakhir sebagai besi tua. Ini tentu sangat disayangkan,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Gerrard juga menyatakan kesediaannya membantu membuka akses informasi dan dokumen sejarah terkait perkeretaapian serta perkembangan industri gula di Klampok. Dukungan tersebut dinilai penting untuk memperkuat upaya penelitian dan pelestarian warisan budaya di Banjarnegara.
Saat ini, sejumlah bangunan peninggalan PG Klampok telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata juga tengah mengupayakan kawasan tersebut menjadi Kawasan Cagar Budaya karena menyimpan banyak bangunan, struktur, dan benda bersejarah yang memiliki nilai penting bagi perjalanan industri gula dan perkeretaapian di Indonesia.
Webinar yang diikuti pegiat sejarah dari Indonesia dan Belanda itu menjadi momentum penting untuk mengangkat kembali jejak kejayaan PG Klampok sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga warisan sejarah bagi generasi mendatang.