
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS-Program beasiswa santri yang digaungkan oleh Pemerintah Provinsi mendapatkan sambutan hangat dari para santri, terbukti pada 2026 ini sudah ada sekitar 941 santri mendaftar program tersebut.
Para pendaftar program beasiswa santri ini tidak hanya jenjang S1, tetapi juga S2, dan S3, termasuk mereka yang mendaftar untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Untuk itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperluas implementasi kerja sama dengan berbagai negara, termasuk Negara Bagian Malaka, Malaysia. Pada sektor ini, pemerintah menyasar sektor pendidikan berbasis pesantren.
Langkah ini diharapkan memperkuat hubungan antarlembaga pendidikan Islam melalui program pertukaran santri, guru, hingga pengembangan jejaring keilmuan lintas negara.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, mengatakan, terkait kerjasama ini, pihaknya sudah melakukan kerjasama dengan Pimpinan Pondok Pesantren Al Muhibbin, Malaka, Malaysia, Ustaz Muhammad Hadi Al Muhibbin.
Menurut Taj Yasin, penguatan kolaborasi antarpesantren merupakan tindak lanjut dari kerja sama sister province yang telah terjalin antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Negara Bagian Malaka sejak 2025. Kerja sama tersebut selama ini menjadi payung kemitraan di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kebudayaan, ekonomi hingga pengembangan sumber daya manusia.
“Kami akan mematangkan kembali bentuk kerja sama antara Malaka dan Jawa Tengah, khususnya antara pondok-pondok pesantren di Jawa Tengah dengan salah satu pesantren yang ada di Malaka,” ujar Taj Yasin.
Selama ini, kata dia, hubungan ulama Indonesia dan Malaysia telah berlangsung melalui berbagai kegiatan, termasuk pertukaran santri maupun tenaga pendidik. Dengan adanya kerja sama resmi antarpemerintah, peluang memperluas kolaborasi antarlembaga pendidikan menjadi semakin terbuka.
“Selama ini sudah ada pertukaran santri dan guru antara ulama Indonesia dan Malaysia. Pemerintah juga sudah memiliki kerja sama antardaerah. Melalui kerja sama itu, kita ingin menghubungkan seluruh potensi yang ada di bawahnya, termasuk pesantren,” katanya.
Dengan adanya program beasiswa santri ini, diharapkan para santri memiliki peluang besar untuk melanjutkan pendidikan hingga S3. Untuk itu, pemerintah terus memperluas kerja sama internasional, hal ini juga upaya pemerintah provinsi untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan pesantren melalui Program Beasiswa Santri dan Pengasuh Pesantren.
“Pada tahun 2026, program tersebut mendapat sambutan besar dengan total 941 pendaftar untuk jenjang pendidikan S1, S2, dan S3, baik di dalam maupun luar negeri,” katanya.
Bagi peserta yang lolos seleksi program luar negeri, mereka akan melanjutkan studi ke sejumlah negara seperti Mesir, Yaman, China, dan Filipina.
Menariknya, menurut Gus Yasin, pilihan bidang studi para santri kini semakin beragam. Tidak hanya fokus pada ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga merambah bidang sains, teknologi, hingga kedokteran.
“Yang menarik, ada santri yang memilih kuliah di Universitas Al Azhar pada jurusan kedokteran. Ini menunjukkan bahwa minat santri terhadap ilmu pengetahuan semakin luas,” katanya.
Ia berharap kemitraan yang telah dibangun pemerintah dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya berbagai program kolaboratif antarpesantren, termasuk pertukaran pelajar, guru, serta pengembangan jaringan pendidikan Islam di kedua negara.
Dengan penguatan kerja sama ini, Jawa Tengah tidak hanya memperluas jejaring pendidikan internasional, tetapi juga membuka peluang lebih besar bagi santri untuk memperoleh pengalaman belajar lintas negara sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan pesantren di era global.