
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS- Waduk Mrica merupakan salah satu aset penting Kabupaten Banjarnegara.
Keberadaannya bukan hanya menopang kebutuhan energi dan pertanian, melainkan juga menjadi kebanggaan masyarakat.
Sayangnya, sedimentasi yang melanda waduk terbesar di Asia Tenggara ini semakin parah. Daya tamping air pun semakin sedikit.
Kondisi tersebut memantik kepedulian masyarakat, termasuk guru dan siswa sebuah sekolah setara SMP di Banjarnegara, yakni Sekolah Muda (SM) Adzkia.
Sebagai salah satu bendungan strategis di Jawa Tengah, Waduk Mrica memiliki peran besar dalam mendukung pasokan listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), pengairan lahan pertanian, hingga penyediaan air baku.
Oleh karena itu, kondisi waduk menjadi perhatian berbagai pihak. Sedimentasi yang terus terjadi menjadi tantangan bagi keberlanjutan fungsi waduk di masa mendatang.
Kondisi inilah yang kemudian menjadi bahan pembelajaran nyata bagi para siswa untuk mengenal persoalan lingkungan di daerahnya.
Salah satu program unggulan di SM Adzkia adalah Kelas Riset. Di kelas ini, guru akan memberi pemantik para siswa untuk melakukan riset mandiri. Topik riset bisa beraneka ragam sesuai dengan minat masing-masing siswa.
Tahun lalu, Kelas Riset mempunyai agenda kegiatan berkunjung ke Waduk Mrica. Di sana, para siswa menyaksikan dengan lebih dekat kondisi Waduk Mrica.
Mereka melihat bagaimana pinggiran waduk bahkan sudah menjadi lahan yang ditanami pohon, seperti pisang.
Dengan melihat secara langsung, para siswa diharapkan menyadari kondisi daerah tempat tinggal mereka. Jadi, mereka lebih peka pada keadaan sekitar.
Kunjungan Riset Waduk Mrica ternyata mendorong dua siswa SM Adzkia untuk melakukan riset lebih lanjut.
Dua siswa tersebut adalah Alf Fattahu Rifqi (Rifqi) dan Adhyastha Ardhani Prasaja (Astha). Rifqi dan Astha saat ini masih duduk di kelas 8.
Menariknya, Rifqi dan Astha mengambil tema tentang kandungan sedimen Waduk Mrica. Mereka mencari tahu apakah sedimen tersebut cocok untuk media tanam.
Setelah menentukan tema, mereka membaca berbagai jurnal untuk mengumpulkan informasi tentang kandungan sedimen.
Selain itu, mereka juga melakukan wawancara dengan pihak Kampung Ilmu Serayu Network (KISN).
KISN merupakan kawasan edukasi yang memadukan pelestarian alam dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan. Letaknya tak jauh dari Waduk Mrica.
Saat praktik membuat sedimen sebagai media tanam, pihak KISN juga memberikan bimbingan pada Rifqi dan Astha. Mereka menjadi lebih paham tanaman apa yang bisa dijadikan objek riset.
Selanjutnya, mereka diajak membuat media tanam dengan beragam perlakuan.
1. 100 % sedimen
2. 75 % sedimen
3. 50 %
Hingga kini, Rifqi dan Astha masih melakukan pengamatan pada sayuran yang mereka tanam di media sedimen.
Mereka menanam kangkung dan sawi. Hasil sementara, tanaman yang memakai media 100% sedimen tumbuh lebih subur.
Seluruh proses penelitian berlangsung secara bertahap, mulai dari pengumpulan informasi, penyusunan metode, pembuatan media tanam, hingga pengamatan pertumbuhan tanaman dalam kurun waktu tertentu.
Melalui kegiatan tersebut, para siswa tidak hanya belajar memahami teori di dalam kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan metode ilmiah.
Mereka mengamati, mencatat data, membandingkan hasil, serta menarik kesimpulan berdasarkan fakta di lapangan.
Bu Salma, guru pembimbing riset SM Adzkia, berharap riset Rifqi dan Astha dapat memberikan kontribusi kecil bagi Banjarnegara.
“Mereka bukan sekadar melakukan riset: menghitung dan mengukur tinggi tanaman, membuat media tanam, tapi lebih nantinya mudah-mudahan membekali mereka jadi solution maker. Bukan jadi bagian masalah atau hanya penonton,” ungkap Bu Salma.
Riset sederhana Rifqi dan Astha menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat ditumbuhkan sejak usia sekolah.
Dengan memanfaatkan persoalan nyata di sekitar sebagai bahan penelitian, para siswa belajar bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi salah satu cara untuk mencari solusi bagi permasalahan di masyarakat.
Melalui program Kelas Riset, SM Adzkia berharap semakin banyak peserta didik yang memiliki rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, serta keberanian untuk berkontribusi bagi lingkungan dan daerah tempat mereka tinggal.
Meski masih berupa penelitian awal, langkah kedua siswa tersebut menjadi contoh bahwa laboratorium terbaik tidak selalu berada di dalam ruang kelas, tetapi juga dapat ditemukan langsung di alam sekitar.***