
SERAYUNEWS – Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang melanda Kecamatan Karangpucung, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, memicu terjadinya bencana longsor disertai banjir yang menerjang kawasan permukiman warga. Akibat kejadian tersebut, sedikitnya enam rumah mengalami kerusakan akibat tertimpa material longsor. Selain itu, puluhan rumah lainnya dilaporkan berada dalam kondisi rawan terdampak.
Peristiwa bencana tersebut terjadi di Dusun Kalipada, Desa Pamulihan, pada Rabu (11/2/2026) sekitar pukul 17.30 WIB. Menyusul kejadian itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap segera turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan kondisi wilayah sekaligus menginventarisasi dampak kerusakan yang terjadi.
Kepala Pelaksana BPBD Cilacap Taryo mengatakan, bencana diawali meluapnya aliran sungai akibat gorong-gorong tersumbat ranting bambu. Air yang tak mampu mengalir lancar kemudian meluber ke permukiman warga.
“Setelah kami lakukan pengecekan, banjir terjadi karena gorong-gorong tersumbat ranting bambu. Setelah dibersihkan, air berangsur surut,” kata Taryo, Kamis (12/2/2026).
Selain banjir, BPBD juga menemukan adanya pergerakan tanah dari tebing yang berada di sekitar permukiman. Kondisi geografis kawasan yang berada di cekungan dengan tebing di sekelilingnya dinilai meningkatkan risiko longsor, terutama saat hujan deras mengguyur dalam waktu lama.
BPBD mencatat enam rumah milik tujuh kepala keluarga dengan total 25 jiwa terdampak langsung longsoran. Selain itu, terdapat 24 rumah milik 27 kepala keluarga atau sebanyak 81 jiwa yang masuk zona rawan.
Tak hanya itu, tiga rumah lain yang dihuni lima kepala keluarga dengan total 12 jiwa juga berada dalam ancaman longsor. Secara keseluruhan, petugas menemukan delapan titik longsoran di kawasan tersebut.
“Beberapa rumah posisinya tepat berada di bawah tebing, sehingga berpotensi terdampak jika terjadi longsor susulan,” jelasnya.
BPBD bersama pemerintah desa setempat saat ini terus melakukan pemantauan kondisi tanah di lokasi terdampak. Warga diminta meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat curah hujan tinggi.
BPBD juga mengimbau masyarakat segera melakukan evakuasi mandiri jika muncul tanda-tanda pergerakan tanah, seperti retakan tanah, suara gemuruh, atau runtuhan material tebing.
Selain itu, BPBD berencana berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk melakukan kajian teknis guna memastikan kelayakan kawasan tersebut sebagai permukiman warga.
“Kami akan mengajukan permohonan kajian ke PVMBG untuk menilai kondisi tanah dan potensi risiko di wilayah tersebut,” ujar Taryo.
Bencana longsor juga dilaporkan terjadi di wilayah lain di Kabupaten Cilacap. Material longsor menutup akses Jalan Cicapar, Desa Karangsari, Kecamatan Cimanggu, pada Rabu (11/2/2026) sekitar pukul 23.30 WIB.
Longsor dipicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur wilayah tersebut sejak sore hingga malam hari. Material longsoran dilaporkan memiliki tinggi sekitar 50 meter dan lebar 20 meter sehingga menutup badan jalan.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Petugas bersama perangkat desa setempat telah mengimbau warga untuk tidak melintas di jalur terdampak serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor susulan. Pembersihan material longsor direncanakan dilakukan melalui kerja bakti bersama masyarakat.