
PURWOKERTO, SERAYUNEWS — Merantau untuk melanjutkan pendidikan bukan sekadar berpindah tempat tinggal. Bagi mahasiswa asal Jawa Barat yang kuliah di Purwokerto, Banyumas, perjalanan tersebut juga berarti beradaptasi dengan bahasa, kebiasaan, cuaca, lalu lintas, hingga cita rasa makanan yang berbeda.
Sejumlah mahasiswa asal Jawa Barat menceritakan pengalaman mereka mengalami culture shock selama tinggal di Purwokerto. Perbedaan paling terasa antara lain gaya berkendara, kondisi jalan, karakter cuaca, bahasa sehari-hari, hingga makanan yang dinilai lebih manis.
Dalam wawancara pada Sabtu (22/8/2026), mereka mengaku berbagai perbedaan tersebut sempat membuat kaget. Namun, seiring waktu, kondisi itu justru menjadi bagian dari proses mengenal kehidupan dan budaya Banyumas.
Faliq, mahasiswa asal Bogor, mengatakan cara masyarakat berkendara menjadi salah satu hal yang pertama kali menarik perhatiannya setelah tinggal di Purwokerto.
Ia menilai pengendara di Purwokerto cenderung membawa kendaraan dengan kecepatan lebih santai dibandingkan dengan kondisi lalu lintas di Bogor.
“Masyarakat di sini bawa motor pelan dibandingkan di Bogor, mungkin karena beberapa faktor, yaitu kepadatan, mungkin disiplin waktu karena mereka berangkat tepat waktu,” ujar Faliq saat diwawancarai, Sabtu (22/8/2026).
Menurut Faliq, suasana lalu lintas di Purwokerto juga relatif lebih tenang. Pengendara, kata dia, tidak mudah terpancing emosi ketika terjadi persoalan kecil di jalan.
“Respon masyarakat di jalan bisa terbilang cukup baik karena tidak gampang marah ketika terjadi gesekan di jalan,” tambahnya.
Alyah, mahasiswa asal Cianjur, juga merasakan perbedaan tersebut. Ia mengaku terkejut melihat jalanan Purwokerto yang menurutnya lebih lengang dibandingkan daerah asalnya.
“Dulu awal saya ke sini jalanan Purwokerto masih longgar, gak padet, jadi syok karena Jabar segudang angkutan umum, angkot gitu bisa masuk jalan-jalan kecil, makanya di sana padet, macet, pol,” kata Alyah.
Perbedaan berikutnya yang dirasakan Faliq adalah karakter cuaca. Meski Purwokerto bisa terasa panas, ia menilai sensasinya berbeda dengan Bogor.
Menurutnya, panas di Purwokerto tidak selalu membuat tubuh terasa lengket atau gerah seperti yang ia alami di daerah asalnya.
“Rasa panas di sini berbeda dengan rasa panas di tempat tinggal saya yang cenderung bikin tubuh lengket. Cuaca di sini walaupun panas, tetapi tetap kerasa adem, dan tingkat polusi di sini tidak banyak dibandingkan Bogor,” ujarnya.
Selain cuaca, Faliq juga menyoroti kondisi air dan kebersihan lingkungan. Ia menilai air di Purwokerto terasa lebih bersih dan segar dibandingkan tempat tinggalnya.
“Air di sini cukup bersih dan segar, berbeda di sana yang kurang segar. Soal sampah, lebih bersih di sini, mungkin karena warganya yang sadar soal sampah,” katanya.
Perbedaan bahasa menjadi salah satu tantangan lain bagi mahasiswa yang baru tinggal di Purwokerto. Kosakata dan logat Banyumasan atau bahasa Ngapak terkadang terdengar berbeda bagi mereka yang terbiasa menggunakan bahasa Sunda atau bahasa Indonesia dalam keseharian.
Ihda, mahasiswa asal Sukabumi, bahkan menemukan sejumlah kata yang memiliki pemahaman berbeda antara daerah asalnya dengan lingkungan di Purwokerto.
Salah satunya adalah kata “mantel”. Ihda memahami kata tersebut sebagai jaket, sedangkan di lingkungan barunya kata itu digunakan untuk menyebut jas hujan. Perbedaan makna juga ia temukan pada kata “sangu”.
“Bahasa sih. Kayak mantel, kalau di sini kan jas hujan ya, sedangkan kalau aku taunya mantel tuh ya jaket. Terus sangu, ternyata uang jajan, di aku ya nasi,” ujar Ihda.
Sigit, mahasiswa asal Indramayu, mengalami culture shock yang lebih spesifik ketika mendengar bahasa Ngapak dalam percakapan sehari-hari.
Ia mengaku belum pernah mendengar logat khas Banyumasan tersebut secara langsung sebelum merantau ke Purwokerto.
“Sebagai warga Jawa Barat yang merantau ke Purwokerto, saya cukup kaget dengan kultur yang ada di Banyumas ini. Apalagi dengan bahasa Ngapak yang belum pernah saya dengar sebelumnya, jadi saya harus beradaptasi lagi dengan kehidupan sehari-hari di Purwokerto,” ungkap Sigit.
Selain bahasa, makanan menjadi salah satu sumber culture shock yang paling terasa bagi mahasiswa asal Jawa Barat.
Sigit mengatakan cita rasa sejumlah makanan di Purwokerto cenderung lebih manis dibandingkan makanan yang biasa ia konsumsi di daerah asalnya.
“Saya juga lumayan kaget dengan makanan yang ada di Purwokerto ini, yang dominan manis ketimbang di tempat saya tinggal, Jawa Barat, yang dominan pedas dan asin. Hal ini lumayan sulit untuk saya beradaptasi karena sudah terbiasa dengan makanan-makanan daerah saya,” katanya.
Alyah juga merasakan perbedaan serupa. Ia terbiasa dengan masakan Sunda yang menurutnya lebih identik dengan rasa pedas. Sementara itu, sejumlah makanan yang ia temui di Purwokerto justru terasa lebih manis.
“Masakannya manis. Di Sunda serba pedas, di sini malah manis,” ujar Alyah.
Perbedaan cita rasa tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi mahasiswa perantau. Mereka tidak hanya perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus dan tempat tinggal, tetapi juga dengan makanan sehari-hari.
Pengalaman para mahasiswa asal Jawa Barat tersebut menunjukkan bahwa culture shock tidak selalu menjadi hambatan ketika seseorang tinggal di daerah baru.
Perbedaan lalu lintas, cuaca, bahasa, hingga makanan justru menjadi bagian dari proses adaptasi sekaligus cara mengenal budaya setempat.
Bagi mereka, kuliah di Purwokerto bukan hanya tentang menempuh pendidikan. Merantau juga memberi pengalaman untuk memahami bahwa setiap daerah memiliki kebiasaan, bahasa, karakter masyarakat, dan cita rasa makanan masing-masing.
Pada akhirnya, perbedaan yang sempat membuat mereka kaget perlahan menjadi pengalaman baru yang memperkaya kehidupan selama tinggal di Purwokerto.(Reza Nugraha)