
SERAYUNEWS – Suasana hangat dan akrab terasa di Aula Balai Desa Kalijaran, Kecamatan Maos, Kamis (2/4/2026). Warga, perangkat desa, akademisi, hingga manajamen Pertamina Patra Niaga RU IV Cilacap duduk bersama dalam Focus Group Discussion (FGD) Program Kalijaran Masyarakat Pengelola Pertanian Berkelanjutan (MAPAN).
Pertemuan ini menjadi ruang berbagi gagasan dan harapan tentang masa depan kemandirian pangan masyarakat.
Program MAPAN merupakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Kilang Cilacap yang hingga 2025 terus berkembang. Tak hanya di lahan pertanian, program ini menjangkau area permukiman dengan optimalisasi lahan menjadi sumber pangan dan membuka peluang hilirisasi produk pertanian.
Area Manager Communication, Relations & CSR RU IV Cilacap, Agustiawan menyampaikan FGD menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan program. “Kami ingin mendengar langsung aspirasi masyarakat dan pemangku kepentingan. Harapannya, program ini bisa terus berkembang dan benar-benar mendorong kemandirian masyarakat,” ujarnya.
Ke depan, program MAPAN yang diluncurkan sejak 2023 ini ditargetkan semakin kuat dengan integrasi antara sektor pertanian dan peternakan berkelanjutan. Upaya ini diharapkan mampu mendukung swasembada pangan dan pemenuhan gizi masyarakat, khususnya di Kecamatan Maos.
“Yang kami harapkan, manfaat program ini bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya kelompok tertentu,” tambahnya.
Dampak nyata mulai dirasakan. Melalui pengolahan padi berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT), masyarakat mampu mengelola hasil panen dengan lebih efisien. Unit penggilingan padi yang ada melayani sekitar 20 konsumen setiap bulan, dengan kapasitas penggilingan mencapai 1 ton.
Dari aktivitas tersebut, masyarakat memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp720 ribu per bulan, termasuk dari hasil samping berupa dedak. Selain , efisiensi energi juga menjadi nilai tambah. Untuk setiap 50 kg gabah, hanya dibutuhkan daya 1,25 kWh dengan biaya sekitar Rp2.000.
Dengan kapasitas 1 ton, penghematan yang dirasakan bisa mencapai Rp40 ribu per bulan. Pengolahan dedak pun memberikan efisiensi serupa dengan penghematan hingga Rp40 ribu per bulan.
Ketua Gapoktan Margo Sugih, Priyatno, merasakan langsung manfaat program ini bagi para petani. “Sekarang bisa mengolah sendiri menjadi beras dan memanfaatkan dedaknya. Hasilnya lebih terasa, pendapatan juga meningkat,” tuturnya.
Menurutnya, MAPAN tidak hanya membantu secara ekonomi, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri petani untuk lebih mandiri. “Kami lebih yakin dengan kemampuan sendiri. Ada nilai tambah dari apa yang dikerjakan,” tambah Priyatno.

Sementara itu, Kepala Desa Kalijaran, Sudarsono, mengapresiasi kehadiran program MAPAN yang dinilai membawa perubahan positif bagi masyarakat.
“Program ini sangat bermanfaat, terutama dalam menghidupkan lahan-lahan persawahan yang sebelumnya hanya mengandalkan sawah tadah hujan. Dengan bantuan program dari Pertamina, masyarakat bisa memanfaatkan energi surya dan angin,” ujarnya.
Ia berharap sinergi antara Pertamina, masyarakat, dan pemerintah desa dapat terus terjaga. “Kami berharap program ini terus berkembang dan menjangkau lebih banyak warga, sehingga manfaatnya semakin luas dirasakan,” katanya.
Dari FGD sederhana, langkah-langkah besar mulai dirancang. Di Kalijaran, harapan itu tumbuh dari persawahan yang dihidupkan, dari semangat yang disatukan, menuju kemandirian yang nyata.