
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS-Di tengah derasnya arus modernisasi, kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal dinilai mulai terkikis. Bukan karena budaya dianggap tidak menarik, melainkan karena masih banyak kesalahpahaman yang membuat sebagian anak muda memilih menjauh dari warisan leluhur.
Pesan itulah yang mengemuka dalam talkshow “Cah Enom Seneng Budaya” yang menjadi bagian dari rangkaian Banjarnegara Innovation and Culture Fest di Amphitheater.
Forum tersebut menghadirkan dosen UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Dimas Indianto Sastronagoro, dan guru sejarah SMAN 1 Sigaluh sekaligus Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara, Heni Purwono.
Di hadapan peserta yang didominasi kalangan muda, Dimas mengajak masyarakat untuk melihat budaya secara lebih utuh dan tidak terburu-buru memberi penilaian negatif terhadap berbagai tradisi yang berkembang di tengah masyarakat.
Menurutnya, sejumlah unsur budaya seperti sesaji, dupa hingga keris kerap dipahami secara keliru sehingga langsung dikaitkan dengan praktik yang bertentangan dengan ajaran agama. Padahal, kata dia, makna sebuah tradisi sangat bergantung pada niat dan cara masyarakat memaknainya.
Ia mencontohkan sesaji yang bagi sebagian masyarakat merupakan simbol rasa syukur kepada Tuhan dan media untuk mempererat kebersamaan melalui tradisi makan bersama. Begitu pula penggunaan dupa yang, menurutnya, dapat dipahami sebagai sarana menciptakan suasana tenang, sebagaimana penggunaan aroma terapi yang kini banyak ditemui di berbagai ruang publik.
“Tidak semua simbol budaya harus dipandang negatif. Yang terpenting adalah bagaimana niat dan pemahaman kita terhadap tradisi tersebut,” ujar Dimas, Selasa (7/7/2026).
Sebagai kolektor keris, Dimas juga menilai masih banyak stigma yang melekat pada benda pusaka tersebut. Menurutnya, keris merupakan hasil karya budaya yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan teknologi pada zamannya.
Ia menambahkan bahwa berbagai praktik tradisional yang berkembang di masyarakat bahkan kini mulai mendapat penjelasan melalui penelitian ilmiah, termasuk mengenai pengaruh sugesti positif maupun doa terhadap kondisi psikologis seseorang.
Sementara itu, Heni Purwono mengingatkan bahwa budaya selalu berkembang mengikuti perubahan zaman. Karena itu, generasi muda tidak seharusnya dibatasi oleh cara-cara lama dalam mengekspresikan kecintaan terhadap budaya.
Menurutnya, mencintai budaya bukan berarti harus selalu mengenakan pakaian tradisional secara utuh. Anak-anak muda tetap dapat menunjukkan identitas budayanya melalui gaya yang lebih modern tanpa kehilangan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
“Generasi sekarang memiliki cara sendiri dalam mencintai budaya. Berbatik dipadukan dengan celana jeans atau sepatu sneaker bukan berarti menghilangkan nilai budayanya. Yang paling penting adalah memahami makna dan menghargai warisan budaya itu sendiri,” kata Heni.
Selain membahas cara pandang terhadap budaya, Heni juga menyoroti besarnya potensi cagar budaya di Banjarnegara. Menurutnya, daerah ini memiliki kekayaan peninggalan sejarah dari berbagai periode, mulai dari era Hindu-Buddha, Islam, kolonial hingga masa modern.
Kawasan Dieng, misalnya, menyimpan banyak struktur dan benda cagar budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi. Begitu pula kawasan Klampok yang dinilai berpotensi berkembang menjadi kawasan cagar budaya apabila dikelola secara berkelanjutan.
Ia menilai pelestarian warisan budaya tidak hanya penting untuk menjaga identitas daerah, tetapi juga dapat menjadi modal pengembangan sektor pariwisata yang memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat pada masa mendatang.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara, Tursiman, mengatakan pemerintah daerah terus berupaya mengembangkan sektor kebudayaan meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengembangkan aplikasi Dikdaya sebagai basis data berbagai potensi budaya di Banjarnegara. Melalui pendataan tersebut, pemerintah dapat memetakan sekaligus membina komunitas budaya yang terus berkembang.
Menurut Tursiman, hingga saat ini terdapat lebih dari 300 kelompok kesenian kuda kepang yang aktif di Banjarnegara. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa potensi budaya daerah masih sangat besar dan perlu terus diberdayakan.
Ia menyebut pihaknya bersama komunitas budaya berencana menggelar pertemuan rutin setiap Sabtu Kliwon sebagai wadah kolaborasi sekaligus upaya menghidupkan aktivitas kebudayaan di Banjarnegara.
Melalui forum seperti “Cah Enom Seneng Budaya”, para narasumber berharap generasi muda tidak lagi memandang budaya sebagai sesuatu yang kuno atau bertentangan dengan kehidupan modern. Sebaliknya, budaya diharapkan menjadi identitas yang dipahami, dirawat, dan terus dikembangkan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.