
SERAYUNEWS – Mengenal lebih dekat dengan seniman tradisional bernama Sukendar. Beliau merupakan sosok yang terkenal sebagai seorang maestro kendang.
Dalam mengolah alat musik yang satu ini, tidak perlu kita ragukan lagi keterampilannya. Terbukti, beliau sudah cukup lama bermain sejak 1965 silam atau kurang lebih hampir mendekati 60 tahun.
Hal tersebut terungkap melalui unggahan dari Camat Banyumas Oka Yudhistira Pranayudha dalam akun pribadi TikTok @okayudhis pada 13 Februari 2024 lalu. Ia mengunjungi kediaman Sukendar.
“Silahturahmi ke rumah Pak Sukendar, maestro kendang dan calung Banyumas,” tulis Oka Yudhistira dalam keterangan caption, dikutip serayunews.com pada Selasa (20/2/2024).
Dalam video tersebut, tampak Sukendar memperlihatkan kemahirannya dalam mengenal musik tradisional itu. Ia menceritakan pertama kali mulai memainkan calung dan kendang.
“Kalau calung, calung niku kulo saking taun 77, tapi nek ngendang niku saking taun 65,” ujarnya.
Selanjutnya, terkuak mengapa Sang Maestro mau belajar dan melestarikan kedua alat musik tersebut. Tak lain tidak bukan, karena merupakan aset budaya khas Banyumas.
“Kan ngendangi ketoprak, ngendangi seni seni tradisi yang ada di angguk, sitter. Sebab apa, saya teruskan dan saya lestarikan sebab seni calung atau lengger itu aset Kabupaten Banyumas,” ungkapnya.
Meskipun bukan dari kalangan pendidikan kesenian melainkan otodidak atau mandiri, kemampuan pria bernama Sukendar Hadi Sumarto membuatnya berhasil go internasional ke berbagai negara. Bahkan, dalam waktu dekat akan terbang ke Itali.
“Otodidak, tapi apa sebabnya sampai walaupun itu otodidak ternyata saya boleh melanglang buana. Ada dari Inggris, Jerman, Belgia, Jepang, kalau mungkin diberi kesehatan bulan mei saya mau ke Itali,” terang Sukendar.
Kemudian, seniman berusia 73 tahun ini berharap bisa sehat agar terus berkreasi melestarikan budaya Banyumas dan menularkan semua ilmunya.
“Hanya doanya Pak Cmat saja kita harus bersatu yang udah tua walaupun udah tua, ya, moga-moga diparingi kesehatan selalu, jadi bisa berkreasi,” pungkasnya.***