
SERAYUNEWS – Pemerintah Kabupaten Cilacap mulai menyiapkan berbagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi lebih kering dibanding tahun sebelumnya. Melalui Dinas Pertanian, upaya pengamanan sumber air kini menjadi prioritas utama demi menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan daerah.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Sigit Widayanto mengatakan, pemerintah daerah tidak ingin terlambat mengambil langkah menghadapi potensi kekeringan yang bisa berdampak pada produksi padi petani.
Menurutnya, Cilacap sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional harus mampu menjaga stabilitas hasil pertanian, terutama saat musim kemarau mulai berlangsung.
“Langkah cepat perlu dilakukan agar produksi padi tetap aman dan kebutuhan air di lahan pertanian warga bisa terpenuhi,” ujarnya, Sabtu (16/5/2026).
Ia menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan sejumlah strategi untuk meminimalkan risiko gagal panen akibat kekeringan. Ada tiga program utama yang kini mulai dijalankan, yakni pompanisasi, pipanisasi, dan pembangunan jaringan irigasi.
Program pompanisasi menjadi salah satu langkah yang dipercepat di sejumlah wilayah yang selama ini rawan mengalami kekeringan saat kemarau tiba. Melalui program tersebut, petani dibantu penyediaan mesin pompa air guna mendukung suplai air ke area persawahan.
“Salah satu langkah yang dilakukan yaitu penyediaan sumber-sumber air, baik melalui pompanisasi, pembangunan irigasi maupun pipanisasi,” jelasnya.
Sigit menambahkan, pengadaan alat dan mesin pertanian untuk mendukung pompanisasi dilakukan melalui kolaborasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sebagian besar bantuan alsintan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), kemudian diperkuat melalui dukungan pendampingan dari APBD Kabupaten Cilacap.
Dengan dukungan tersebut, pemerintah berharap distribusi air ke lahan pertanian tetap berjalan meski debit air mengalami penurunan selama musim kemarau.
Meski prediksi musim kemarau di Cilacap masih berada pada kategori sedang, Dinas Pertanian memilih melakukan langkah antisipatif lebih awal. Hal itu dilakukan agar petani tidak mengalami kerugian besar akibat kekurangan air.
Pemerintah daerah juga menilai kesiapan infrastruktur air menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan produksi pangan di tengah ancaman cuaca ekstrem.
“Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat membantu petani menghadapi musim kemarau dan meminimalkan risiko kekeringan pada lahan pertanian,” pungkasnya.