
SERAYUNEWS – Jika belakangan ini beranda TikTok Anda dipenuhi dengan video curhatan yang diawali dengan kalimat kegagalan namun ditutup dengan frasa sakti “At least gue…”, Anda sedang menyaksikan salah satu tren terbesar tahun 2026.
Fenomena yang sering diucapkan dengan logat medok menjadi “Etlis” ini telah mengubah cara pengguna media sosial mengekspresikan rasa pasrah mereka.
Alih-alih meratapi nasib, netizen justru menggunakan tren ini untuk menonjolkan sisi positif dari situasi yang “nggak banget” dengan nada yang santai namun tetap mengundang tawa.
Secara sederhana, tren ini adalah format konten di mana seseorang menceritakan sebuah kekurangan, kegagalan, atau nasib sial yang mereka alami, lalu memberikan “pembelaan” di akhir kalimat.
Tujuannya beragam, mulai dari sekadar menghibur diri sendiri hingga menyindir orang lain secara halus.
Keunikan tren ini terletak pada pelafalan gaulnya yang fleksibel, terkadang serius ala anak Jaksel, namun sering kali dibuat nyeleneh agar terdengar lebih akrab dan lokal.
Secara tata bahasa Inggris, at least berarti “setidaknya” atau “sekurang-kurangnya“. Dalam konteks normal, frasa ini digunakan untuk mengurangi efek negatif dari sebuah pernyataan.
Namun, di tangan netizen Indonesia, “at least” atau “etlis” bertransformasi menjadi tameng harga diri. Fungsinya adalah sebagai titik balik (punchline) untuk menunjukkan bahwa sesuram apa pun situasinya, masih ada satu hal yang bisa dibanggakan atau disyukuri.
Anda bisa bergabung dalam tren ini dengan memilih salah satu dari dua kubu berikut:
Versi Self-Cope (Menghibur Diri): Berfokus pada upaya menertawakan diri sendiri agar keadaan terasa tidak terlalu parah.
Pola: [Cerita Sial] + At Least/Etlis + [Sisi Positif].
Versi Roasting Battle (Adu Sindir): Biasanya dilakukan bersama teman atau pasangan untuk saling menjatuhkan mental secara jenaka.
Pola: [A menyindir B] + B membalas dengan “At least gue nggak kayak lo…”.
Ingin mencoba bikin konten tapi bingung kata-katanya? Berikut beberapa inspirasi yang bisa Anda gunakan:
Kategori Hibur Diri (Self-Cope):
“Gue emang telat bangun subuh. Etlis gue bangun di kasur, bukan di mimpi buruk tentang lo.”
“Saldo ATM tinggal 10 ribu. At least gue masih punya kuota buat scroll TikTok sampai pagi.”
“Gue emang gagal diet minggu ini. Etlis gue bahagia karena makan enak, daripada kurus tapi darah tinggi.”
Kategori Adu Sindir (Roasting):
“Gue emang belum punya pacar. At least gue nggak pernah balikan sama mantan yang hobi selingkuh.”
“Oke gue emang jarang mandi. Etlis gue nggak pernah ‘mandi’ air mata gara-gara digantungin harapan palsu.”
Keberhasilan tren ini terletak pada kesederhanaannya. Orang tidak perlu mengedit video secara rumit atau menggunakan peralatan mahal.
Cukup bermodalkan teks dan keberanian untuk “mengumbar” sisi manusiawi yang penuh kegagalan, konten tersebut bisa langsung menjadi viral.
Selain itu, nada “pasrah santai” yang ditawarkan tren ini sangat mewakili perasaan generasi muda tahun 2026 dalam menghadapi tekanan hidup yang makin kompleks.
Tren “At Least” atau “Etlis” adalah pengingat bahwa di setiap kondisi buruk, selalu ada celah untuk menemukan tawa.
Entah itu dipakai sebagai tameng perlindungan diri atau senjata untuk menyindir kawan, tren ini mengajarkan kita untuk tidak terlalu serius dalam menghadapi kegagalan. Jadi, sudah siapkah Anda membuat versi “At least” Anda sendiri?***