Rabu, 5 Oktober 2022

Mengintip Keseharian Rizky Purwitasari, Bidan Cantik yang Juga Seorang Pembatik di Bobotsari Purbalingga

Rizky Purwitasari. (Amin Wahyudi)

Muda, cantik, mandiri, dan multitalenta rasanya kata yang cocok menggambarkan sosok Rizky Purwitasari. Perempuan asal Bobotsari, Purbalingga ini, seakan tidak ingin melewatkan masa muda dengan sia-sia. Selain menjalani profesi bidan, dia juga merupakan perajin batik di Purbalingga.


Purbalingga, serayunews.com

Rizky Purwitasari, merupakan dara asli Majapura Bobotsari. Sudah sejak lama, perajin batik ada di daerah tersebut dan salah satunya nenek Purwitasari atau akrab dipanggil Ita.

Aktivitas membatik, bukan pemandangan asing baginya. Sebab, Ita kecil sudah akrab dengan pemandangan itu. Hampir setiap hari dia melihat nenek dan budhe’ nya membatik.

“Nenek dan Budhe’ saya merupakan keluarga pembatikan asal Majapura Bobotsari,” katanya.

Menginjak remaja, dia mulai ikut coba-coba membatik bersama neneknya. Sebab itulah, kecintaan pada batik mulai tumbuh. Selain meneruskan tradisi keluarga, membatik juga menjadi sumber rejekinya.

“Tahun 2010-2011 mulai menekuni batik sebagai profesi,” ujarnya.

Tahapan membatik, tidaklah singkat. Mulai dari membeli bahan, membuat pola, mewarnai, dan sebagainya awalnya dia lakukan sendiri. Hal itu tetap bisa selesai, meskipun waktu yang terbatas. Sebab, Ita juga menekuni profesi bidan, sampai saat ini.

“Proses pembuatan batik awal sampai jadi kain batik ia lakukan sendiri di rumah dan sekarang dibantu beberapa karyawan,” kata dia.

Tidak mudah bagi perempuan yang sudah berumah tangga, bisa membagi waktu untuk berbagai kegiatan. Habatnya Ita, semua kewajiban, bidan, ibu rumah tangga, dan perajin batik ia tuntaskan semua dengan baik.

“Untuk ide pembuatan motif batik kadang konsultasi dengan suami atau bisa dari request para pelanggan,” kata dia.

Manfaatkan Teknologi

Batik di Galery Purwita, ada dua jenis, yakni Batik Cap dan Batik Tulis. Sebagai pembatik muda, Ita tentu lebih inovatif dalam membuat beragam motif.

“Waktu pembuatan batik cap dalam satu hari bisa mencapai 20-30 pcs, sedangkan untuk batik tulis memakan waktu selama 2-3 hari. Dengan adanya teknik pewarnaan yang modern membuat pewarnaan tidak serumit dahulu yang perlu pencelupan sampai bebarapa kali,” ujar.

Begitu juga dalam pemasaran produknya, dia juga memanfaatkan teknologi. Tidak hanya secara offline, Purwita Galery juga promosi melalui media sosial. Akhirnya, pangsa pasar pun lebih luas.

Pengakuan Ita, pangsa pasar tidak hanya di wilayah Purbalingga. Namun sudah beberapa kota bahkan luar negeri.

“Penjualan melalui on line, FB (Facebook, red) Gallery Purwita, Instagram @Gallery Purwita dan Tiktok. Untuk off line biasa melalui temen-temen di dinas dan instansi di wilayah Purbalingga,” katanya.

Kisaran harga batik Purwita mulai dari Rp 125 ribu- Rp 200 ribu. Tentunya tergantung dari motif cap murni cap kombinasi. Sedangkan untuk batik tulis mulai harga dari Rp 350 ribu keatas itu juga menyesuaikan kerumitan motif dan sesuai permintaan pelanggan.

Berita Terpopuler

Berita Terkini