
YOGYAKARTA, SERAYUNEWS – Ribuan “peziarah” skena musik menyesaki kawasan Taman Wisata Candi Prambanan, Yogyakarta selama dua hari, Sabtu-Minggu, 22-23 Agustus 2026. Tujuannya hanya satu yaitu menikmati festival musik Cherrypop 2026.
Berbondong-bondong mereka datang untuk “sembahyang”, salah satunya menyaksikan potret ikonik Munir Said Thalib mengenakan helm dan motor bebek tua di layar saat Pandai Besi melantunkan “Di Udara”, Minggu (23/08/2026).
Usai 12 tahun menghilang dari radar panggung musik Yogyakarta, Cherrypop berhasil memboyong proyek sampingan Efek Rumah Kaca (ERK) tersebut untuk menjadi salah satu penampil, menghiasi stage Nanaba yang terletak di ujung venue.
Cherrypop memang dikenal sebagai festival yang kerap membangunkan band mitos dari tidur panjang. Masuk tahun kelima, mereka konsisten meracik lineup dengan menggandeng band yang jarang tampil di panggung.
Tahun ini, selain Pandai Besi, ada deretan band mitos yang turut tampil, seperti Senyawa, Polka Wars, Lipstik Lipsing, Stars and Rabbit, Sigmun, dan Majelis Lidah Berduri.
Lipstik Lipsing, misalnya, sudah 16 tahun vakum. Melansir dari berbagai sumber, band indie-pop asal Semarang itu sudah absen manggung sejak merilis mini album Room for Outside pada 2009 lalu.
Tampil di Yayapa Stage pada hari pertama, Lipstik Lipsing berhasil menyeret penggemarnya masuk ke lorong nostalgia; bernyanyi bersama, dibalut nuansa ambient dan dream-pop ketika sandikala.
Setelah absen dari Cherrypop tahun lalu, Majelis Lidah Berduri kembali mengambil bagian dalam riuh festival. Di atas panggung, mereka membawa musik yang sejak awal lekat dengan isu politik; dilantunkan dengan cara yang magis, di tengah sorot lampu dan riuh penonton.
Di sela penampilannya, vokalis Majelis Lidah Berduri, Ugoran Prasad, sempat bercerita tentang Timbulsloko, desa pesisir di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Ia menyebut, desa tersebut perlahan tenggelam akibat krisis iklim.
“Jadi, emm… Di sana kami main band gak bisa lompat-lompat dan seterusnya karena keadaan… karena keadaan sedang genting,” kenang Ugo di atas panggung, Sabtu, (22/08/2026).
Ugo lalu meminta penonton untuk mengirim doa, menyanyikan lagu “Pagar” dari album Hujan Orang Mati. Di bagian akhir lagu, kata dia, akan dinyanyikan seperti doa.”Kalian akan direkam dan rekamannya akan dikirimkan ke teman-teman Timbulsloko. Dan semoga itu akan terus menguatkan mereka,” katanya.

Begitu lagu “Dapur, NKK/BKK” mengalun, videotron di belakang panggung berubah jadi galeri berita, menampilkan satu per satu potongan liputan soal program yang dianggap gagal itu.
Sebelum lagu itu dimainkan, Ugo sempat berkelakar, lagu yang mereka tulis satu dekade lalu itu, katanya, justru terasa seperti diciptakan untuk situasi hari ini.”Lagu ini kami tulis 10 tahun lalu, dan kini lagu ini menjadi antem situasi hari ini,” katanya.
Cherrypop 2026 berakhir dengan penampilan epik Objek Vital Nasional, proyek kolaborasi FSTVLST dan Jenny. Di atas panggung, bersama Ale dan Aryo dari The Adams, mereka melantunkan “Menantang Rasi Bintang” sembari mengibarkan bendera Palestina.