
SERAYUNEWS – Gema takbir yang sebelumnya bersahutan di langit Desa Kutasari, Kecamatan Baturraden, mungkin mulai melirih. Namun, bagi warga di lereng Gunung Slamet ini, perayaan Idulfitri justru baru memasuki babak yang paling dinanti.
Ketika para warga, khusunya Dusun Brubahan dan Dukuh, kumpul dalam satu lokasi, sebuah tradisi tua kembali dilaksanakan, halalbihalal.
Bukan sekadar seremonial, momen ini adalah ruang temu bagi rindu yang menumpuk selama setahun. Pada sebuah jalan gang, kesibukan modernitas yang biasanya menyekat antar-tetangga seolah luruh begitu saja.
Suasana hangat langsung menjalar begitu warga mulai berdatangan. Tak ada sekat usia, dari anak-anak yang berlarian dengan baju baru hingga orang tua yang berjalan perlahan, semuanya melebur dalam barisan jabat tangan.
Ini menjadi satu tradisi untuk mempererat silaturahmi, antara warga asli dan juga para keluarga luar kota, yang telah menjadi bagian keluarga warga lokal.
Setelah doa bersama, deklarasi saling silaturahmi dan tausiyah singkat yang menyejukkan hati, ritual paling magis pun terjadi, saling memaafkan. Di sinilah ego mencair.
Perselisihan kecil yang mungkin sempat muncul di sela-sela berinteraksi hilang seketika lewat sebuah senyuman dan permohonan maaf yang tulus.
Bagi warga asli yang tengah mengadu nasib di luar kota, atau mereka yang menemukan jodoh wilayah lainnya, yang hanya sempat berjumpa saat idul fitri tiba, bertemu menjadi satu. Di tengah gempuran moderenisasi, tradisi ini menjadi wadah untuk berinteraksi.
Fenomena ini menjadi bukti sahih bahwa meski teknologi berkembang pesat, kebutuhan manusia untuk terhubung secara emosional tetap tak tergantikan.
Bagi masyarakat Desa Kutasari, halalbihalal adalah sebuah pengingat lembut bahwa Lebaran bukan hanya tentang kemenangan satu hari mengalahkan lapar dan dahaga, melainkan tentang menjaga hubungan baik yang dirawat dan dijaga dari waktu ke waktu.