
SERAYUNEWS- Perdebatan soal waktu terbaik mengisi bensin kembali ramai diperbincangkan.
Banyak pengendara percaya bahwa mengisi BBM pada siang hari membuat isi bensin lebih sedikit dibanding malam hari. Keyakinan ini bahkan dianggap sebagai rahasia umum agar bensin lebih awet dan jarak tempuh lebih jauh.
Namun, apakah anggapan tersebut benar secara ilmiah, atau hanya mitos yang terus diwariskan tanpa bukti kuat?
Jawabannya ternyata tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenting yang dibayangkan.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui hukum fisika tentang pemuaian zat cair. Bahan bakar minyak seperti bensin dan solar termasuk fluida yang akan mengalami pemuaian ketika suhu meningkat.
Saat suhu naik seperti pada siang hari molekul BBM akan bergerak lebih aktif dan saling menjauh. Akibatnya, volume BBM sedikit bertambah, meskipun massa dan energi totalnya tetap sama.
Artinya, satu liter bensin panas dan satu liter bensin dingin mengandung energi yang hampir sama, hanya volumenya yang sedikit berbeda.
Masalahnya terletak pada sistem penjualan BBM di SPBU. Di Indonesia, BBM dijual berdasarkan volume (liter), bukan berdasarkan massa atau berat. Secara teori, bensin yang memuai karena panas memang memiliki massa sedikit lebih kecil per liter dibanding bensin bersuhu lebih rendah.
Inilah yang memunculkan persepsi bahwa isi bensin siang hari lebih sedikit, padahal selisihnya sangat kecil dan hampir tidak terasa dalam penggunaan harian.
Secara teknis, bensin memiliki koefisien muai volumetrik sekitar 0,00095–0,0011 per derajat Celsius. Sementara solar berada di kisaran 0,0007–0,0009 per derajat Celsius.
Jika suhu bensin siang hari lebih panas 2–3 derajat Celsius dibanding malam hari, maka:
⦁ Pengisian 40 liter bensin hanya berbeda sekitar kurang dari 0,1 liter
⦁ Pada solar, selisihnya bahkan lebih kecil lagi
Dalam praktik berkendara, selisih ini hanya setara beberapa kilometer jarak tempuh, dan itu pun mudah dikalahkan oleh faktor lain seperti kondisi lalu lintas, gaya mengemudi, hingga tekanan ban.
Banyak orang tidak menyadari bahwa tangki penyimpanan BBM di SPBU berada di bawah tanah dan dilengkapi sistem tertentu untuk menekan fluktuasi suhu lingkungan. Hal ini membuat perbedaan suhu BBM antara siang dan malam tidak ekstrem.
Selain itu, pada rantai distribusi di tingkat hulu, volume BBM umumnya sudah dikoreksi ke suhu standar internasional 15 derajat Celsius. Koreksi ini memastikan kualitas dan konsistensi BBM sebelum sampai ke konsumen.
Mengisi BBM Malam Hari Tidak Selalu Lebih Hemat
Secara ekonomi, sengaja keluar malam hanya untuk mengisi bensin justru bisa menjadi tidak efisien. BBM yang terpakai di perjalanan menuju SPBU bisa lebih besar dari selisih volume akibat suhu.
Karena itu, mengejar waktu tertentu demi isi lebih banyak sering kali tidak sebanding dengan manfaatnya.
Daripada sibuk memilih waktu siang atau malam, pengendara disarankan untuk lebih memperhatikan hal-hal berikut:
1. Perawatan mesin secara rutin
2. Tekanan ban yang sesuai
3. Gaya berkendara yang halus
4. Kualitas layanan SPBU
5. Bahan bakar sesuai spesifikasi kendaraan
Faktor-faktor tersebut terbukti jauh lebih berpengaruh terhadap efisiensi konsumsi BBM dibanding selisih volume akibat suhu.
Anggapan bahwa isi bensin siang hari lebih sedikit dibanding malam hari memang punya dasar ilmiah, tetapi dampaknya sangat kecil dan nyaris tak terasa.
Dalam penggunaan sehari-hari, selisih tersebut tidak cukup signifikan untuk memengaruhi biaya atau performa kendaraan secara nyata.
Yang terpenting bukan soal kapan mengisi BBM, melainkan bagaimana kendaraan dirawat dan digunakan.