
SERAYUNEWS- Viralnya isu mistis di jalur Ajibarang–Pekuncen, Kabupaten Banyumas, memicu perhatian publik setelah terjadi rentetan kecelakaan lalu lintas dalam sepekan terakhir.
Sejumlah warga mengaitkan insiden maut di ruas Jalur Nasional Rute 6 itu dengan dugaan praktik “penumbalan” usai beredarnya video seorang perempuan menaburkan nasi kuning di pinggir jalan.
Sorotan publik semakin besar setelah pendakwah sekaligus Praktisi Ruqyah, Muhammad Faizar, datang langsung ke lokasi di wilayah Ciberung, Kecamatan Ajibarang hingga kawasan Pekuncen untuk mengulas fenomena yang sedang ramai diperbincangkan masyarakat.
Dalam unggahan media sosialnya, Ustadz Muhammad Faizar menyebut dirinya sengaja mendatangi lokasi guna menguak fakta di balik isu yang berkembang.
“Malam ini di jalan Ajibarang-Pekuncen. Menguak mitos penumbalan yang (katanya) menyebabkan tragedi kecelakaan beberapa waktu terakhir,” tulisnya dalam unggahan yang langsung dibanjiri respons warganet.
Kehadiran sang ustadz memancing perhatian masyarakat luas. Banyak netizen berharap penjelasan yang disampaikan mampu meredam keresahan warga sekaligus meluruskan kabar yang berkembang liar di media sosial.
Isu mistis mulai ramai diperbincangkan setelah muncul video seorang wanita yang diduga menaburkan nasi kuning di jalan wilayah Ajibarang-Pekuncen.
Video tersebut kemudian dikaitkan dengan dugaan ritual tertentu yang dianggap berkaitan dengan kecelakaan maut di lokasi itu.
Namun, Ustadz Muhammad Faizar meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah percaya pada spekulasi yang belum terbukti kebenarannya.
“Viralnya video seorang wanita di wilayah Ajibarang-Pekuncen yang menaburkan nasi kuning di jalan lalu dikaitkan dengan penumbalan, saya khawatir ada orang iseng sengaja menebarkan hal yang sama untuk menciptakan ketakutan,” ungkapnya.
Ia juga menyebut muncul laporan serupa di kawasan Jembatan Kalipelus Sokaraja yang memperlihatkan adanya taburan nasi kuning di jalan. Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tidak larut dalam ketakutan berlebihan terhadap hal-hal mistis.
“Yakinlah Allah bersama kita. Jangan lupa doa sebelum bepergian. Setan tidak sekuat yang kamu bayangkan,” tegasnya.
Sebelumnya, jalur nasional yang membentang dari Desa Ciberung, Kecamatan Ajibarang hingga Desa Cikawung, Kecamatan Pekuncen menjadi sorotan setelah sejumlah kecelakaan beruntun terjadi dalam waktu berdekatan.
Beberapa insiden bahkan menelan korban jiwa di tempat. Kondisi itu membuat warga sekitar merasa khawatir, terutama karena kecelakaan terjadi di titik yang saling berdekatan.
Dalam keterangan sebelumnya, Kepala Desa Ciberung, Sigit Pramono, mengatakan masyarakat kemudian menggelar istighosah dan doa bersama sebagai bentuk ikhtiar keselamatan.
“Acara ini digelar masyarakat sebagai bentuk kepedulian terhadap kecelakaan beruntun yang terjadi dalam beberapa hari terakhir,” ujarnya.
Menurutnya, kecelakaan bermula dari insiden di wilayah Cikawung pada malam Jumat dan terus berlanjut hingga beberapa hari berikutnya.
“Puncaknya dalam satu hari terjadi dua kecelakaan di lokasi yang berdekatan. Ada korban luka hingga korban meninggal dunia,” katanya.
Meski kondisi jalan nasional tersebut sudah dibeton dan relatif baik, tingginya volume kendaraan berat disebut menjadi faktor utama rawannya kecelakaan.
Jalur Ajibarang-Pekuncen memang dikenal sebagai akses penghubung wilayah selatan dan utara Jawa Tengah. Truk besar, bus antarkota, hingga kendaraan logistik rutin melintasi kawasan tersebut setiap hari.
Selain itu, perbedaan tinggi antara badan jalan utama dan bahu jalan disebut menjadi penyebab pengendara roda dua sering kehilangan kendali, terutama saat menyalip kendaraan besar dari sisi kiri.
“Biasanya pengendara motor naik kembali ke badan jalan dan kehilangan keseimbangan karena permukaan jalan tidak rata,” jelas Sigit.
Merasa khawatir kecelakaan kembali memakan korban, warga RW 3 Desa Ciberung akhirnya bergerak melakukan pengecoran manual di titik jalan yang dianggap berbahaya.
Aksi swadaya itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap keselamatan pengguna jalan.
“Masyarakat berinisiatif menyemen bagian jalan yang tidak rata karena khawatir kembali memakan korban,” ujar Sigit.
Langkah tersebut mendapat apresiasi warga karena dianggap sebagai solusi cepat sambil menunggu penanganan lebih lanjut dari pihak terkait.
Di tengah suasana duka akibat kecelakaan beruntun, isu mengenai “tumbal” dan ritual mistis terus berkembang di media sosial. Namun pemerintah desa meminta masyarakat tetap berpikir rasional dan tidak mudah mempercayai kabar yang belum jelas sumbernya.
“Ada yang cerita soal bunga dan uang di lokasi kejadian, tapi saya sendiri tidak pernah melihat langsung. Kadang cerita seperti itu berkembang dan dilebih-lebihkan,” kata Sigit.
Ia berharap masyarakat lebih fokus pada upaya meningkatkan keselamatan berkendara dibanding memperbesar isu mistis yang belum tentu benar.