
SERAYUNEWS – Nama Nanik Sudaryati Deyang atau dikenal Nanik S. Deyang menjadi sorotan publik setelah Presiden Prabowo Subianto menunjuknya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru. Lantas, dia dari partai apa?
Penunjukan tersebut diumumkan pada Selasa, 2 Juni 2026, sekaligus menandai berakhirnya masa jabatan Dadan Hindayana sebagai pimpinan lembaga yang bertanggung jawab menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sejak pengumuman itu disampaikan, banyak masyarakat mulai mencari informasi mengenai sosok Nanik S. Deyang.
Salah satu pertanyaan yang cukup sering muncul adalah, “Nanik S Deyang dari partai apa?”
Meski dikenal memiliki kedekatan dengan Presiden Prabowo Subianto dan pernah aktif dalam tim pemenangan Pilpres 2019, hingga saat ini Nanik S. Deyang tidak tercatat sebagai pengurus maupun kader aktif partai politik tertentu.
Namun, kiprahnya di dunia politik dan pemerintahan memang cukup panjang sehingga namanya tidak asing di kalangan elite nasional.
Presiden Prabowo Subianto melakukan pergantian pimpinan di Badan Gizi Nasional setelah melakukan evaluasi terhadap kinerja lembaga tersebut selama sekitar satu setengah tahun terakhir.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah Presiden menerima berbagai masukan dari kementerian, lembaga, hingga masyarakat sebagai penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis.
“Bapak Presiden memutuskan untuk mengangkat Saudari Nanik S. Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional yang baru,” kata Prasetyo Hadi dalam pengumuman di Istana Kepresidenan Jakarta.
Dalam menjalankan tugasnya, Nanik akan didampingi oleh dua wakil kepala, yaitu Agustina Arumsari dan Trenggono.
Pemerintah berharap kepemimpinan baru di Badan Gizi Nasional mampu mempercepat pelaksanaan program prioritas nasional, khususnya Makan Bergizi Gratis yang menjadi salah satu program unggulan pemerintahan Prabowo.
Pertanyaan mengenai afiliasi politik Nanik S. Deyang cukup banyak diperbincangkan setelah dirinya dipercaya memimpin BGN.
Berdasarkan rekam jejak yang tersedia, Nanik memang pernah terlibat dalam aktivitas politik praktis, terutama saat Pemilihan Presiden 2019.
Kala itu ia menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Kemenangan Nasional Koalisi Adil Makmur yang mengusung pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.
Namun, keterlibatan tersebut lebih banyak berada dalam kapasitas tim pemenangan dan bukan sebagai pengurus partai politik tertentu.
Hingga kini, tidak ada informasi resmi yang menunjukkan bahwa Nanik merupakan kader aktif partai politik tertentu.
Karena itu, Nanik lebih dikenal sebagai tokoh profesional yang memiliki pengalaman di bidang media, pemerintahan, dan organisasi ketimbang sebagai politisi partai.
Nanik Sudaryati Deyang lahir di Madiun, Jawa Timur, pada 3 Januari 1968.
Karier profesionalnya dimulai dari dunia jurnalistik. Ia pernah bekerja sebagai jurnalis di Tabloid Bangkit yang berada di bawah kelompok media Kompas Gramedia.
Pengalaman tersebut menjadi batu loncatan bagi Nanik untuk meniti karier di industri media.
Dalam perjalanan kariernya, ia dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis di berbagai perusahaan media nasional. Beberapa jabatan yang pernah diemban antara lain:
Pengalaman panjang di dunia media membuat Nanik dikenal memiliki kemampuan komunikasi dan manajemen organisasi yang kuat.
Hubungan profesional Nanik dengan pemerintahan semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 22 Oktober 2024, ia dipercaya menjadi Wakil I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan periode 2024–2029.
Jabatan tersebut menunjukkan kepercayaan pemerintah terhadap kapasitasnya dalam menangani program-program strategis nasional.
Kemudian pada 17 September 2025, Nanik diangkat menjadi Wakil Kepala Badan Gizi Nasional.
Bersamaan dengan penunjukan itu, ia diberhentikan dari jabatan sebelumnya di Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan.
Tak hanya di pemerintahan, Nanik juga mendapat kepercayaan di lingkungan BUMN. Pada 12 Juni 2025, ia resmi menjabat sebagai Komisaris Independen di PT Pertamina (Persero).
Penunjukan tersebut dilakukan melalui Keputusan Menteri BUMN yang mengatur perubahan susunan Dewan Komisaris perusahaan energi milik negara tersebut.
Nama Nanik S. Deyang sempat menjadi perhatian publik pada tahun 2018 ketika muncul kasus hoaks penganiayaan yang melibatkan Ratna Sarumpaet.
Dalam kasus tersebut, Nanik berstatus sebagai saksi dan sempat dipanggil oleh Polda Metro Jaya untuk memberikan keterangan terkait perkara yang sedang diselidiki saat itu.
Meski demikian, keterlibatannya hanya sebatas saksi dan tidak menjadikannya sebagai pihak yang terlibat dalam proses hukum lebih lanjut.***