Sabtu, 2 Juli 2022

Ngabuburit ala Bocah Brayut, Desa Gembongan Banjarnegara

Ngabuburit ala Bocah Brayut, Desa Gembongan Banjarnegara

Ramadan biasanya identik dengan berbagai permainan tradisional, mulai dari petasan, hingga mercon bumbung dan meriam jebodan. Seperti halnya bocah di Dusun Brayut, Desa Gembongan Kecamatan Sigaluh. Bocah belasan tahun ini, bermain meriam jebodan untuk menunggu waktu berbuka sembari membantu orang tua mengusir burung di areal persawahan.


Banjarnegara, Serayunews.com

Permainan tradisioanl, memang tak pernah ada habisnya. Aneka kegiatan juga dilakukan untuk mengisi bulan Ramadan, termasuk bermain dengan permainan tradisional seperti yang dilakukan oleh anak-anak warga Dusun Brayut, Desa Gembongan, Kecamatan Sigaluh Banjarnegara.

Saat pagi dan sore hari, pada anak-anak usia belasan tahun ini, ramai berjalan di sekitar areal persawahan dengan membawa meriam jebodan di tangannya. Tak hanya itu, permainan tradisional yang menghasilkan suara ledakan keras. Alat permainan ini bukanlah hal baru, namun hasil modifikasi dari beberapa permainan sebelumnya yang bisa hadir ikut memeriahkan datangnya bulan Ramadan.

Baca juga  SMAN 1 Bawang Buka KKO dan Kelas Inklusi

Bulan Ramadan memang identik dengan pesta yang ditandai dengan adanya suara petasan, kembang api, hingga lainnya, namun seiring dengan perkembangan zaman dan banyaknya korban akibat bermain petasan, maka beberapa permainan tradisional itu juga ikut bermetamorfosis.

Jika dulu generasi 80an mengenal meriam dengan bahan bakar karbit, minyak tanah, dan sejenisnya, kini era tersebutpun bergeser dengan hadirnya beberapa alternatif yang dinilai lebih aman, seperti meriam jebodan ini.

Tak hanya bahan peledak yang berubah, batang meriampun ikut berubah, dulu menggunakan batang pohon pepaya, saat ini cukup dengan paralon ataupun kaleng bekas seperti yang dilakukan Fauzan, Dimas dan Ega, tiga bocah Desa Gembongan, Kecamatan Sigaluh.

Baca juga  Ngeri! 7 Hari Terombang-ambing di Laut Selatan, 5 ABK Diselamatkan Nelayan Cilacap

Diakui Fauzan, memainkan meriam jebodan bersama dengan teman-temannya sengaja dilakukan sembari menunggu magrib, namun disis lain dia juga mengaja memainkan permainan tersebut di tepi sawah.

Diakui Fauzan, meriam jebodan menggunakan bahan peledak spiritus yang dimasukan dalam botol spray dan tabung paralon sebagai badan meriamnya, sementara pemantik atau pemicu dengan menggunakan magnet korek gas yang sudah dimodifikasi.

“Kami sengaja bermain di sawah sambil ikut mengusir burung yang memakan padi, selain itu kalau di sawah juga tidak menganggu warga lain, dan kami bisa menikmati puasa sambil membantu orang tua menjaga sawah,” katanya.

Baca juga  Geo Dipa Energi, Uji Alir Sumur Produksi Berkapasitas 30 MW di Dieng Banjarnegara

Benar saja, suara ledakan yang dihasilkan oleh meriam jebodan ini mampu mengusir kawanan burung yang hinggap di tanaman padi yang mulai menguning, apalagi suara meriam mereka diarahkan langsung pada kawanan burung yang masuk ke areah persawahan milik orang tuanya.

Berita Terkait

Berita Terkini