PURWOKERTO, SERAYUNEWS — Tren lari semakin menjamur di kalangan anak muda. Media sosial pun dipenuhi unggahan lari pagi atau sore, lengkap dengan catatan jarak tempuh hingga pace dari aplikasi olahraga.
Di balik tren gaya hidup sehat tersebut, muncul pertanyaan menarik: sebenarnya berapa modal yang dibutuhkan Gen Z untuk rutin lari?
Apakah harus merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli sepatu dan outfit olahraga kekinian? Atau olahraga lari tetap bisa dilakukan dengan bujet terbatas?
Dua anak muda di Purwokerto, Resta dan Putri, membagikan pengalaman mereka. Keduanya memiliki kebiasaan dan bujet berbeda, tetapi sama-sama menjadikan lari sebagai bagian dari aktivitas rutin.
Resta mengaku waktu untuk berlari sangat bergantung pada jadwal pekerjaannya. Karena bekerja dari Senin hingga Jumat, ia biasanya memilih akhir pekan untuk berolahraga.
“Kalau nggak Sabtu ya Minggu,” ujarnya.
Meski memiliki jadwal yang cukup padat, Resta tetap berusaha menjaga lari sebagai rutinitas olahraga.
Menariknya, ia tidak terlalu memikirkan outfit khusus untuk berlari. Resta lebih memilih menggunakan pakaian olahraga lama yang masih layak digunakan daripada membeli perlengkapan baru.
Untuk sepatu, ia memang mengalokasikan bujet khusus. Sepatu lari menjadi salah satu pengeluaran terbesar dengan kisaran harga di atas Rp200 ribu.
Setelah berlari, Resta juga tidak memiliki kebiasaan mengeluarkan banyak uang untuk nongkrong atau membeli makanan.
Ia cukup menyiapkan uang untuk membeli minuman.
“Yang penting sehat aja udah lari gitu, yang penting gerak,” katanya.
Cerita berbeda datang dari Putri, mahasiswi yang tinggal di Purwokerto.
Frekuensi larinya mengikuti jadwal perkuliahan. Saat libur kuliah, Putri bisa berlari hingga empat kali dalam seminggu. Namun ketika jadwal kuliah sedang padat, ia memilih berlari saat memiliki waktu senggang atau pada akhir pekan.
Bagi Putri, lari bukan hanya aktivitas untuk menjaga kebugaran. Lari sore juga menjadi cara untuk membuat pikiran lebih segar setelah menjalani aktivitas perkuliahan.
Dengan kata lain, olahraga tersebut menjadi semacam self-healing sederhana yang bisa dilakukan tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.
Berbeda dengan Resta yang memilih menggunakan pakaian olahraga lama, Putri memiliki perlengkapan lari yang lebih lengkap.
Ia merinci pengeluaran untuk kebutuhan larinya sebagai berikut:
Kaos: sekitar Rp100 ribuan
Legging: sekitar Rp120 ribu
Kaos kaki: sekitar Rp20 ribu
Kerudung olahraga: sekitar Rp30 ribu
Sepatu lari: sekitar Rp500 ribu
Jika ditotal, perlengkapan tersebut membutuhkan bujet sekitar Rp770 ribu.
Namun, pengeluaran Putri tidak berhenti pada perlengkapan olahraga. Setelah berlari, ia biasanya membeli buah atau minuman isotonik dengan bujet sekitar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu.
Bagi Putri, pengeluaran tersebut menjadi semacam hadiah kecil setelah tubuh diajak berolahraga.
Dari pengalaman Resta dan Putri, terlihat bahwa bujet untuk menjalani hobi lari sangat bergantung pada gaya hidup dan kebutuhan masing-masing.
Resta memilih cara sederhana dengan memanfaatkan pakaian olahraga yang sudah dimiliki. Pengeluaran utamanya hanya sepatu dan minuman setelah berlari.
Sementara Putri menyiapkan perlengkapan yang lebih lengkap, mulai dari kaos, legging, kaos kaki, kerudung olahraga hingga sepatu.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa lari tidak harus menjadi olahraga mahal. Seseorang bisa memulainya dengan perlengkapan yang sudah tersedia selama nyaman dan sesuai kebutuhan.
Pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa mahal sepatu atau outfit yang digunakan, melainkan kemauan untuk bergerak dan konsisten berolahraga.
Buat Gen Z yang masih ragu mulai lari karena takut bujet membengkak, pengalaman dua anak muda Purwokerto ini bisa menjadi bukti bahwa healing sambil mengejar runner’s high tidak selalu membutuhkan modal besar. (Amelia Faridha Zhariif)