
CILACAP, SERAYUNEWS – Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kabupaten Cilacap masih menjadi perhatian serius. Hingga pertengahan tahun 2026, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cilacap telah menangani 84 pasien HIV. Mayoritas penderita berasal dari kelompok usia produktif, sehingga upaya pencegahan dan deteksi dini terus diperkuat.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Cilacap, dr. Reza Prima Muharama, mengatakan tingginya jumlah pasien menunjukkan bahwa penyebaran HIV di Cilacap masih perlu mendapat perhatian dari seluruh pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.
“Usia produktif ini mulai 17-40 tahun. Yang tua-tua masih produktif juga banyak,” ujarnya, Senin (29/6/2026).
Berdasarkan data RSUD Cilacap hingga Juni 2026, dari total 84 pasien yang ditangani, sebanyak 23 orang merupakan pasien positif HIV. Kemudian 19 pasien menjalani terapi menggunakan obat Antiretroviral (ARV), enam pasien meninggal dunia, 17 pasien merupakan rujukan masuk, dan 19 pasien dirujuk ke fasilitas kesehatan lain karena pindah domisili maupun alasan lainnya.
Menurut Reza, kelompok usia produktif menjadi yang paling banyak terpapar HIV. Kondisi tersebut dinilai mengkhawatirkan karena dapat berdampak pada produktivitas masyarakat apabila tidak ditangani secara optimal.
Untuk memberikan layanan secara menyeluruh, RSUD Cilacap memiliki Klinik Cahaya Pita yang telah berdiri sejak 2008. Klinik tersebut menjadi pusat layanan pemeriksaan, pendampingan, hingga pengobatan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHIV).
“Kebetulan kami ada klinik bernama Cahaya Pita, dan sudah berdiri sejak tahun 2008. Kami memang sudah lama menangani kasus HIV/AIDS melalui perawatan dan pengobatan untuk pasien-pasien ini,” katanya.
Reza menjelaskan, penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seksual berisiko tanpa pengaman maupun dari ibu yang terinfeksi kepada bayi selama masa kehamilan, persalinan, atau menyusui. Namun, jalur penularan yang paling dominan masih berasal dari hubungan seksual berisiko.
“Kalau sumber penularan utamanya itu berhubungan seksual bebas, tanpa pengaman dan lain sebagainya,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, jumlah pasien HIV yang ditangani RSUD Cilacap terus menunjukkan tren peningkatan setiap tahunnya. “Trennya setiap tahun pasti meningkat,” tegasnya.
Sebagai langkah pengendalian, RSUD Cilacap bersama Dinas Kesehatan terus melakukan pelacakan (tracing) terhadap kelompok berisiko. Selain itu, seluruh pasien yang akan menjalani tindakan operasi juga diwajibkan menjalani skrining HIV sebagai bagian dari prosedur pelayanan kesehatan.
“Kita gencar melakukan tracing terus. Kemudian setiap ada pasien RSUD Cilacap yang akan melakukan operasi, kita cek dulu HIV/AIDS-nya,” ujar Reza.
Menurutnya, perkembangan terapi antiretroviral saat ini telah memberikan harapan hidup yang jauh lebih baik bagi penderita HIV. Dengan pengobatan yang rutin dan disiplin, pasien dapat menjalani hidup secara produktif, bahkan berpeluang memiliki keturunan tanpa menularkan virus kepada bayinya.
“Diharapkan dengan pengobatan yang kami lakukan ini dan obat-obatan yang sudah ditemukan ini, pasien penderita HIV/AIDS punya kesempatan untuk hidup yang jauh lebih panjang. Bahkan, bisa mempunyai keturunan tanpa tertular oleh orang tuanya,” pungkasnya.